Di Indonesia era 1990-an, menyampaikan kabar bukan perkara instan seperti hari ini. Rindu tidak dikirim lewat aplikasi pesan, melainkan diperjuangkan dengan langkah kaki, antrean panjang, dan segenggam uang receh.
Di sudut-sudut kota, telepon umum berdiri sebagai saksi bisu. Namun, keterbatasan fasilitas itu perlahan melahirkan sebuah solusi yang lebih manusiawi: wartel, atau warung telekomunikasi.
Makin Tahu Indonesia Wartel hadir di tengah sulitnya akses telepon rumah. Untuk memiliki sambungan telepon pribadi, masyarakat harus menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tak semua orang mampu. Di sinilah wartel mengambil peran penting sebagai jembatan komunikasi. Ruko-ruko kecil disulap menjadi bilik-bilik sempit yang dikenal sebagai Kamar Bicara Umum (KBU).


