Dalam tradisi Alkemia, rantai pengetahuan bergerak melalui Jabir ibn Hayyan, Ar-Razi, hingga Al-Biruni. Rantai sanad itu menjangkau Swarnadwipa, dan membuka rahasia logam Nusantara.
Logam menyimpan pertanyaan purba dalam sejarah pengetahuan manusia: dapatkah materi diubah, dimurnikan, dan dipahami hingga ke sifat dasarnya? Di dunia Islam abad pertengahan, pertanyaan itu menemukan ruang dalam tradisi alkemia. Tiga nama menonjol dalam lintasan ini adalah Jabir ibn Hayyan, Abu Bakar ar-Razi, dan Al-Biruni.
Jabir ibn Hayyan (721โ815 M), Abu Bakar Ar-Razi (865โ925 M), dan Al-Biruni (973โ1048 M) merupakan tiga pilar utama tradisi keilmuan Alkemia Islam, ilmu pengetahuan yang membahas tentang zat, logam, dan mekanisme transformasinya. Ketiganya hidup di zaman yang berbeda, namun berpegang pada rantai sanad yang sama.
Ketiga tokoh juga berkelindan dalam satu lintasan unik. 50 tahun pasca Jabir ibn Hayyan wafat, Abu Bakar Ar-Razi lahir untuk melanjutkan pemikiran Jabir. Kemudian, 48 tahun pasca Ar-Razi wafat, Al-Biruni lahir untuk melanjutkan estafet berikutnya. Setengah abad jarak kehidupan, menjadi saksi atas betapa kuatnya rantai ilmu pengetahuan.
Baca Juga: Kiai Alkemis yang Menegur Para Penguasa Bengisย
Baca Selengkapnya

