Semakin banyak orang bersekolah tinggi, semakin sedikit orang yang mau memikirkan kemungkinan-kemungkinan baru. Ilmu hanya menjadi gudang definisi.
Sore itu hujan baru saja berhenti. Daun-daun mangga di halaman masih meneteskan air satu-satu, seperti orang tua yang sedang mengingat masa mudanya. Di dapur, aroma kopi tubruk bercampur dengan bau tempe goreng yang baru diangkat dari wajan. Rumah menjadi begitu akrab. Tidak ada diskusi ilmiah. Tidak ada seminar. Tidak ada istilah-istilah asing yang membuat orang harus membuka kamus. Yang ada hanya beberapa orang duduk lesehan, secangkir kopi, dan obrolan yang, seperti lazimnya di kampung-kampung Jawa, sering kali justru lebih dalam daripada ruang kuliah.
“Aku kok makin yakin,” kata seorang kawan sambil meniup kopinya, “filsafat itu penting.” Yang lain mengangguk pelan. “Tapi yang lebih penting lagi, bagaimana filsafat itu membuat kita bisa mencari jalan lain. Solusi lain. Pilihan lain. Jangan berhenti hanya pada kepandaian menjelaskan persoalan.” Kami semua diam.
Memang begitulah kadang nasib ilmu. Ia pandai membedah penyakit, tetapi lupa menanyakan bagaimana pasien bisa pulang dengan selamat. Ia lihai menguraikan teori, tetapi sering kali kikuk ketika berhadapan dengan dapur yang harus tetap mengepul setiap pagi. Barangkali di situlah letak ironi zaman sekarang.
Baca Juga: Kumpulan Catatan Pinisepuh Jurnaba, Toto Rahardjo
Baca Selengkapnya

