Agam, pasbana - Sore belum sepenuhnya turun ketika kabut tipis mulai merayap di lereng perbukitan. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan suara riuh rendah pengunjung yang menunggu satu momen yang sama: matahari tenggelam perlahan di ufuk barat. Di sinilah pesona Puncak Kabun bekerja—diam, sederhana, tetapi meninggalkan kesan mendalam.
Terletak di wilayah Kabupaten Agam, destinasi ini bukan sekadar tempat wisata baru. Ia seperti panggung alami raksasa yang membuka panorama 360 derajat tanpa jeda. Dari satu titik pandang, mata menangkap lanskap Kota Bukittinggi yang tampak sibuk di kejauhan, siluet megah Gunung Marapi, hingga kilau tenang Danau Singkarak yang membentang seperti lukisan alam.
Puncak Kabun berdiri di kaki Gunung Singgalang, kawasan yang sejak lama dikenal berhawa dingin. Tak heran, banyak pengunjung menyebutnya sebagai “negeri di atas awan.” Pada pagi hari, kabut kerap menutupi lembah, sementara sore menghadirkan pertunjukan cahaya emas yang menjadi magnet utama wisatawan.
Fenomena wisata alam seperti ini sebenarnya sejalan dengan tren pariwisata nasional pascapandemi.


