BERITA – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mencatatkan sejumlah perkembangan ekonomi dan sosial pada awal tahun 2026. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Babel, terjadi deflasi pada bulan Februari, kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP), surplus perdagangan luar negeri yang besar, serta dinamika di sektor pariwisata dan transportasi.
Pada bulan Februari 2026, Bangka Belitung terpantau mengalami deflasi sebesar 0,64 persen secara month-to-month (m-to-m). Angka ini merupakan penurunan dari bulan sebelumnya yang mencatatkan inflasi sebesar 0,28 persen.
“Deflasi Februari terutama didorong penurunan harga komoditas bayam, sawi hijau, dan ikan kerisi. Ketiganya memberi andil terbesar terhadap penurunan harga bulan ini,” ujar Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sugeng Arianto, dalam rilis Berita Resmi Statistik, Senin (2/3/2026).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi tersebut. Secara rinci, komoditas bayam tercatat mengalami deflasi sebesar 31,96 persen dengan andil 0,12 persen. Sawi hijau, yang sebelumnya sudah mengalami deflasi 13,92 persen pada Januari 2026, kembali turun sebesar 29,67 persen dengan andil 0,10 persen. Sementara itu, ikan kerisi mengalami deflasi sebesar 13,70 persen dengan andil 0,08 persen.
Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi di Bangka Belitung tercatat sebesar 3,31 persen, lebih rendah dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 3,95 persen. Pendorong terbesar inflasi tahunan adalah tarif listrik, emas perhiasan, dan cumi-cumi. Dari empat wilayah pantauan Indeks Harga Konsumen (IHK), seluruh kabupaten/kota mengalami inflasi secara tahunan, dengan tingkat tertinggi terjadi di Kabupaten Bangka Barat sebesar 4,78 persen.
Baca Selengkapnya

