Kiai besar dan berwawasan luas. Sikap egaliter menjadi tauladan. Gus Dur dan Gus Mus belajar darinya.ย
Lasem, sebuah kota kecil di ujung timur pantai utara Jawa Tengah, mungkin Anda pernah mendengarnya. Sebagian orang menyebut kota kecil itu โTiongkok Kecilโ. Disebut demikian, mungkin karena dulu sebuah kota pelabuhan tua di Kabupaten Rembang itu pernah menjadi tempat pendaratan pertama orang-orang Tionghoa di Tanah Jawa. Di kota kecil inilah, pada 2 Maret 1915, lahir seorang anak laki-laki dari pasangan K.H. Maโshum Amin dan Nyai Hj. Nuriyah. Mereka menamakannya Ali.
Siapa yang menyangka, anak yang lahir di kota pelabuhan yang heterogen itu akan tumbuh menjadi salah satu kiai paling berpengaruh dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Seorang kiai yang tidak hanya menguasai kitab kuning. Namun, juga berani membaca kitab-kitab pembaharu. Seorang pemimpin yang tidak hanya mengurus pesantren, namun juga mengembalikan NU ke khittah 1926. Seorang kiai yang tidak hanya mengajar santri, namun juga melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa.
Bagaimanakah kisah hidup kiai yang terkenal berwawasan luas dan egaliter ini? Berikut sekelumit kisah hidup KH. Ali Maksum.
Anak Lasem yang Haus Ilmu
Ali kecil tumbuh di lingkungan yang sangat kental dengan tradisi pesantren. Ayahnya, KH Maksum dalah pengasuh Pesantren Al-Hidayah Lasem, sebuah pesantren yang cukup tersohor di kawasan pantura Jawa. Dari pasangan KH Makshum dan Nyai Hj. Nuriyah, lahir 13 anak. Namun, hanya lima yang bertahan hidup: Ali, Fatimah, Ahmad Syakir, Azizah, dan Chammah.


