kisah adab dan seruak rasa dalam kue batang burok pontianak QlGTjS - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Adab dan Seruak Rasa dalam Kue Batang Burok Pontianak

Kisah Adab dan Seruak Rasa dalam Kue Batang Burok Pontianak
images info

MERAWAT INGATAN KOTA | Jangan tertipu oleh namanya. Bagi telinga orang Pontianak, “burok” mungkin sering ditafsirkan sebagai hal-hal yang kurang baik, atau sesuatu yang tak sedap dipandang. Namun, begitu sepotong kue ini menyentuh lidah, persepsi itu akan luruh seketika. Inilah Batang Burok—warisan dari balik dinding Istana Kadriah yang melintasi zaman hingga ke meja-meja Pasar Juadah.

Akar Sejarah dan Simfoni Akulturasi

Kue batang burok pertama kali diperkenalkan pada masa pemerintahan Sultan pertama Pontianak, yakni Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, tepatnya pada tahun 1779. Adanya arus perkembangan dan akulturasi antara budaya Melayu dan Agama Islam di Pontianak, secara tidak langsung mendatangkan perubahan dalam pembuatan dan penyajian makanan di istana.

Tradisi Hadrami (Arab) yang dibawa oleh garis keturunan kesultanan menjadi salah satu alasan banyak makanan maupun camilan di zaman tersebut yang memiliki ciri khas makanan Timur Tengah. Makanan khas melayu yang awalnya hanya menggunakan komoditas lokal dan cenderung menggunakan bahan laut, mulai berevolusi dengan datangnya daging dan rempah-rempah dari daerah Arab. Salah satu hidangan yang menjadi bukti akulturasi ini adalah kue batang burok, yang menggunakan jintan sebagai salah satu rempah utamanya.

Kue ini dulunya selalu tersaji di atas pahar, sejenis talam besar dengan kaki yang hanya digunakan di lingkungan istana. Adanya kaki pada pahar membuat kue tidak secara langsung disajikan di atas lantai, sehingga menunjukkan perbedaan derajat dengan sajian masyarakat biasa.

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.