Pariaman, pasbana - Di tengah deretan hidangan bersantan khas Minangkabau, ada satu menu yang tampil “berbeda sendiri” namun justru selalu dinanti saat Lebaran: Gulai Baga. Berasal dari kawasan Pariaman, sajian ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi yang mengikat rasa dan kenangan.
Sekilas, namanya mungkin menipu. “Gulai” biasanya identik dengan kuah santan yang kental dan gurih. Namun Gulai Baga justru tampil sebagai sup berwarna merah pekat, dengan kuah yang relatif bening dan ringan. Rahasianya? Tidak ada santan sama sekali. Sebagai gantinya, rasa gurih dan kompleks dibangun dari perpaduan rempah yang kaya dan teknik memasak yang perlahan.
Daging sapi—biasanya bagian sandung lamur atau tetelan—menjadi bintang utama. Potongan daging ini dimasak bersama cabai merah giling dalam jumlah melimpah, menghasilkan warna merah menyala yang menggoda. Namun bukan sekadar pedas, Gulai Baga menghadirkan lapisan rasa yang dalam: hangat dari kayu manis, harum dari kapulaga, hingga sentuhan eksotis bunga lawang dan cengkeh.


