aroma kopi dan sejarah yang dikuratori vGr1n6 - News | Good News From Indonesia 2026

Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori
images info

Lelaki di seberang mejaku menyesap sigaretnya dalam-dalam. Di bawah pendar lampu kafe yang temaram di kawasan Cikini—tempat di mana para aktivis, peneliti, dan konsultan LSM paruh baya biasa merayakan melankolia—ia mengembuskan asap yang segera larut ke udara, persis seperti janji-janji dalam proposal program yang kerap ia susun.

Di atas meja, di antara cangkir-cangkir espresso yang menyisakan ampas pekat, berserakan draf laporan triwulanan tentang “Pemberdayaan Masyarakat Adat dan Penanggulangan Kemiskinan Terstruktur”.

Aku mengenalnya sejak tahun 1998, saat kami sama-sama turun ke jalan, menantang peluru dengan dada telanjang dan idealisme yang menyala. Namun malam ini, jaket jepretnya yang bermerek mahal dan jam tangan pintar yang melingkar di pergelangan tangannya membisikkan narasi yang berbeda.

“Jika proyek ini selesai tahun ini, dan masyarakat benar-benar mandiri,” ujarnya datar, hampir tanpa beban, “kontrak kami dengan donor Eropa tidak akan diperpanjang. Kita butuh variabel baru. Atau setidaknya, merawat variabel lama agar tetap relevan.” Ia menyebutnya ‘keberlanjutan program’. Aku menyebutnya industri penjinakan trauma.

Ada ketenangan yang ganjil sekaligus mengerikan dalam bagaimana sebuah tragedi direduksi menjadi komoditas. Dalam sosiologi kontemporer, kita mengenal the political economy of discourse—ekonomi politik wacana. Di dalam ekosistem ini, penderitaan manusia tidak lagi dipandang sebagai luka yang harus disembuhkan, melainkan sebagai “objek” yang memiliki nilai tukar di pasar global filantropi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.