Bayangkan sebuah pesan masuk pada malam hari dari dosen atau atasan. Isinya hanya satu kalimat pendek: "Nanti kita bahas, ya." Kita membacanya berulang kali. Apakah ini pertanda baik? Apakah ada masalah? Tanpa sadar, jari kita sudah membuka aplikasi AI, menempelkan pesan itu, lalu mengetik, "Menurutmu maksudnya apa?"
Kawan mungkin pernah berada di situasi serupa. Di lingkungan kampus dan kantor, kebiasaan ini kian lazim. Orang bertanya kepada AI tentang maksud sebuah pesan, meminta bantuan menyusun balasan, bahkan menyuruhnya menebak pertanyaan yang mungkin muncul sebelum presentasi.
Ini bukan curhat soal perasaan, melainkan persiapan sebelum berkomunikasi dengan orang yang punya otoritas atas kita. Pertanyaannya, apakah ini kebiasaan yang cerdas atau kecemasan yang sekadar dipindahkan ke layar?
Tiga Tahap Ketergantungan yang Halus
Kebiasaan ini biasanya berjalan dalam tiga tahap. Pertama, memahami: meminta AI menafsirkan nada dan maksud pesan. Kedua, merespons: meminta AI menyusun atau merapikan balasan. Ketiga, mengantisipasi: meminta AI memprediksi pertanyaan sebelum presentasi.
Wajar bila kebiasaan ini meluas. Menurut Global Student Survey 2025 dari Chegg, 95 persen responden mahasiswa Indonesia memakai AI generatif dalam pembelajaran, tertinggi dari 15 negara dalam survei tersebut. Kalau untuk tugas kuliah sudah lazim, merambah ke urusan komunikasi sehari-hari hanya soal waktu.
Alasannya: Takut Salah
Akar dari semua ini sederhana, yaitu takut salah. Kita takut terlalu kaku, terlalu santai, dianggap tidak sopan, atau terdengar bodoh di depan orang yang menilai kita. Dalam ilmu komunikasi, rasa takut ini dikenal sebagai communication apprehension, yaitu kecemasan saat harus berkomunikasi dengan orang lain.
Budaya sungkan terhadap dosen, atasan, dan klien membuat tekanan itu terasa lebih besar. Di saat seperti itu, AI terasa seperti jaring pengaman: cepat, sabar, dan tidak menghakimi.
Sisi Baik yang Nyata
Kebiasaan ini tidak sepenuhnya buruk. Studi Purcell dan rekan-rekan (2025) di jurnal iScience melibatkan 1.637 peserta. Hasilnya, bantuan AI berdampak minimal pada tingkat kepercayaan, dan peserta yang dibantu AI menulis lebih efisien dengan hasil yang sama-sama menumbuhkan kepercayaan. Pesan yang dibantu AI juga sedikit kurang autentik, tetapi terkesan lebih hangat.
Untuk latihan bicara, ada temuan positif pula. Sebuah eksperimen pada mahasiswa pembelajar bahasa Inggris di Tiongkok menunjukkan bahwa kelompok yang berlatih dengan chatbot AI mengalami peningkatan kemauan berkomunikasi dan penurunan kecemasan berbicara dibandingkan kelas biasa.
Menebak pertanyaan sebelum presentasi pun sejalan dengan saran para pelatih pidato, yaitu mengantisipasi audiens. Dalam hal ini, AI memang bisa mempertajam persiapan.
Yang Mulai Terasa Hilang
Masalah muncul ketika AI berubah dari alat bantu menjadi syarat. Bayangkan seseorang yang terbiasa menyiapkan semua balasan lewat AI, lalu suatu hari dosen atau klien mengajaknya bicara langsung. Tidak ada draf, tidak ada waktu menyunting. Yang tersisa hanya dirinya dan kalimat yang harus keluar saat itu juga.
Sebuah studi terhadap 1.623 mahasiswa menunjukkan pola yang patut diwaspadai. Stres akademik berkaitan dengan meningkatnya ketergantungan pada AI, yang dapat mengurangi pengalaman berhasil secara mandiri dan melemahkan self-efficacy, lalu berkaitan dengan burnout dan kecemasan yang lebih tinggi.
Studi ini bersifat korelasional, sehingga bukan bukti bahwa AI menyebabkan kecemasan. Namun polanya masuk akal: setiap kali AI mengerjakan bagian tersulit, kita kehilangan kesempatan membuktikan bahwa kita mampu melakukannya sendiri. Rasa percaya diri yang muncul pun menjadi percaya diri yang dipinjam.
Kajian lain tentang latihan bicara berbantuan AI juga mencatat adanya kontradiksi, antara lain ketergantungan berlebih dan jarak antara latihan bersama AI dengan komunikasi yang sesungguhnya. Di sinilah kaitannya dengan public speaking.
Pesan tertulis bisa disunting berkali-kali sebelum dikirim, sedangkan berbicara di depan orang tidak. Tidak ada tombol regenerate saat dosen bertanya langsung atau klien menyela di tengah rapat. Yang diuji bukan kesempurnaan kalimat, melainkan keberanian menghadapi ketidaksempurnaan.
Menjaga Suara Sendiri di Tengah Bantuan AI
Lantas, apakah Kawan harus berhenti memakai AI? Menurut saya tidak. Yang perlu diubah adalah urutannya. Alih-alih menjadikan AI sebagai langkah pertama, jadikan ia langkah kedua.
Saat menerima pesan yang membingungkan, coba tafsirkan sendiri terlebih dahulu, baru bandingkan dengan tafsiran AI. Saat harus membalas, tulis draf dengan kata-kata sendiri, lalu minta AI memeriksanya, bukan menggantikannya.
Sebelum presentasi, silakan minta AI menebak pertanyaan yang mungkin muncul, tetapi jawablah dengan suara keras tanpa membaca, bukan menghafal jawaban yang disodorkan. Sesekali, balaslah pesan berisiko kecil tanpa bantuan siapa pun, agar keberanian kita tetap terlatih.
AI memang bisa merapikan kalimat dan menenangkan kepala yang sedang riuh. Namun ketika akhirnya kita berdiri di depan kelas, duduk di ruang rapat, atau menjawab telepon dari klien, yang berbicara adalah kita, bukan draf. Public speaking pada dasarnya bukan soal kalimat yang sempurna, melainkan keberanian menyampaikan pikiran sendiri dengan suara sendiri.

