Semangat berbagi ilmu membawa mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung hingga ke Pattani, Thailand. Melalui program KKN Kolaboratif Internasional Mandiri, mahasiswa memberikan pendampingan pembelajaran ilmu Tajwid kepada sekitar 100 siswa Mattayom di Nurul Islam Pumee Witya School, Pattani, Thailand.
Kegiatan pendampingan tersebut dilaksanakan pada 23 Juli hingga 13 Agustus 2026 dan menyasar siswa Mattayom kelas 1, 2, dan 3. Para siswa yang mengikuti aktivitas ini terbagi dalam enam kelas, terdiri atas sekitar 40 siswa laki-laki dan 60 siswa perempuan.
Pendampingan ini berangkat dari kondisi kemampuan membaca Al-Qur'an siswa yang beragam. Berdasarkan hasil observasi, sekitar 30 persen siswa telah mampu membaca Al-Qur'an dengan lancar, sementara sebagian lainnya masih mengalami kesulitan dalam menerapkan kaidah Tajwid ketika membaca secara langsung.
Selain itu, hasil evaluasi pembelajaran menunjukkan bahwa hampir 50 persen siswa mampu menjawab pertanyaan berkaitan dengan konsep dasar Tajwid yang telah dipelajari.
Temuan tersebut menunjukkan adanya pemahaman awal terhadap materi, meskipun penerapan kaidah Tajwid dalam praktik membaca Al-Qur'an masih membutuhkan latihan dan pendampingan lebih lanjut.
Belajar Tajwid secara Bertahap
Pendampingan dilakukan secara langsung melalui penyampaian materi, pemberian contoh bacaan, latihan, pengulangan, tanya jawab, hingga evaluasi. Materi disampaikan secara sederhana dan bertahap dengan menyesuaikan kemampuan siswa serta waktu pembelajaran yang terbatas.
Salah satu strategi yang digunakan adalah pengulangan materi dan penggunaan nadzom sebagai media bantu untuk mengingat kaidah Tajwid. Siswa juga diajak mengenali penerapan hukum Tajwid melalui contoh bacaan Al-Qur'an sehingga pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi diarahkan pada latihan penerapannya.
Setiap kelas mendapatkan pendampingan sekitar tiga kali pertemuan dengan durasi kurang lebih 40 menit untuk setiap pertemuan. Pembelajaran juga menghadapi tantangan komunikasi karena adanya perbedaan bahasa antara pendamping dan siswa.
Materi yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kelas. Siswa Mattayom kelas 1 mendapatkan materi mengenai nun mati, tanwin, dan hukum-hukumnya. Untuk kelas 2, pembelajaran berfokus pada materi mad dan jenis-jenisnya. Sementara itu, siswa kelas 3 mempelajari makharijul huruf dan sifatul huruf sebagai dasar dalam memahami ketepatan pengucapan serta karakteristik huruf hijaiyah.
Menghubungkan Teori dengan Praktik Membaca Al-Qur'an
Dalam proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya menjelaskan konsep Tajwid. Para siswa juga diberikan contoh bacaan Al-Qur'an, kemudian diarahkan untuk mengenali hukum Tajwid yang terdapat di dalamnya.
Interaksi dilakukan melalui pertanyaan dan latihan agar siswa dapat terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Pengulangan materi dilakukan pada pertemuan berikutnya sebelum pembelajaran dilanjutkan ke materi baru.
Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan keterlibatan dalam mengikuti pembelajaran, terutama ketika materi disampaikan melalui pengulangan dan contoh bacaan yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari.
Kegiatan tersebut memberikan penguatan awal terhadap pemahaman siswa mengenai kaidah Tajwid. Hampir 50 persen siswa mampu menjawab pertanyaan terkait konsep Tajwid yang telah dipelajari, sedangkan sekitar 30 persen siswa telah mampu membaca Al-Qur'an dengan lancar.
Meskipun demikian, hasil kegiatan juga menunjukkan bahwa kemampuan memahami konsep belum sepenuhnya sejalan dengan kemampuan menerapkannya dalam praktik membaca. Karena itu, pembelajaran Tajwid secara terstruktur, berulang, dan berbasis praktik masih diperlukan untuk mendukung perkembangan kemampuan membaca Al-Qur'an siswa.
Membawa Semangat Berbagi Ilmu hingga Thailand Selatan
Bagi mahasiswa yang terlibat, kegiatan pendampingan di Nurul Islam Pumee Witya School menjadi bagian dari pelaksanaan KKN sekaligus ruang untuk berbagi pengetahuan melalui pembelajaran Al-Qur'an.
Kegiatan yang berlangsung di Tambon Yamu, Distrik Yaring, Pattani, Thailand, tersebut mempertemukan mahasiswa dengan siswa dalam proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik.
Melalui penyampaian materi, contoh bacaan, pengulangan, nadzom, latihan, dan evaluasi, pendampingan diharapkan dapat menjadi penguatan awal bagi siswa dalam memahami sekaligus mempraktikkan kaidah Tajwid.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur'an berlangsung sebagai bagian dari aktivitas pendidikan di Nurul Islam Pumee Witya School. Lembaga pendidikan berbasis pesantren tersebut menyelenggarakan pendidikan formal dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, yang kemudian dilanjutkan dengan pengajaran Al-Qur'an dan kitab-kitab hingga malam hari.
Kegiatan KKN tersebut terlaksana dengan dukungan LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan pihak Nurul Islam Pumee Witya School, Pattani, Thailand. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam terlaksananya pendampingan pembelajaran ilmu Tajwid bagi para siswa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


