Bagi masyarakat Dayak Bakung di Desa Long Bang, Bulungan, Kalimantan Utara, hutan menjadi sumber pangan dan mencari solusi kesehatan. Di sanalah mereka mencari beberapa tumbuhan untuk obat tradisional.
Naskah ilmiah βPengetahuan Etnobotani Tumbuhan Obat Suku Dayak Bakung Desa Long Bang Kabupaten Bulungan dalam Upaya Konservasiβ karya Gorby Suko Susilo mencatat 15 jenis tumbuhan obat dari 14 famili. Uniknya, semua jenis yang tercatat ditemukan di Hutan Desa Long Bang, lokasi pengambilan sampel penelitian.
Dari 15 tumbuhan, daun jadi bagian yang paling banyak dimanfaatkan. Masyarakat juga menggunakan akar, umbi, buah, rimpang, dan getah. Cara mengolahnya bisa direbus, diseduh, dikeringkan, ditumbuk, dan dihaluskan.
Akar bajakah jadi tanaman yang banyak dimanfaatkan. Dalam catatan penelitian, akarnya ditumbuk menjadi bubuk, dikeringkan, lalu diseduh. Tanaman itu dilaporkan bisa bantu atasi kanker, kolesterol, tekanan darah, dan pencegahan penyakit jantung. Sementara, akar pasak bumi direbus untuk menambah stamina dan menjaga kesehatan reproduksi pria.

Sirih merah (Piper ornatum) | Wikimedia Commons | Karya: Eric in SF
Sirih merah diolah dengan merebus daunnya, lalu meminum air rebusan tersebut. Pemanfaatan tradisionalnya untuk radang mata, diabetes, dan hepatitis. Daun akar bulu atau rambusa juga direbus untuk atasi diabetes, kolesterol, serta pemeliharaan kesehatan jantung.
Ramuan Tradisional dari Bagian Tanaman
Untuk keluhan lain, masyarakat memanfaatkan alang-alang dan jambu biji. Rimpang alang-alang diseduh dan secara tradisional dipakai untuk demam, infeksi saluran kemih, kencing berdarah, serta mimisan. Daun jambu biji diolah dan diminum untuk atasi diare menurut catatan penelitian tersebut.
Dari 15 jenis tanaman obat yang ada di dalam catatan tersebut, Bawang Dayak juga masuk ke dalam daftar. Umbinya diparut, disaring, lalu diminum untuk keluhan amandel. Adapun bandotan digunakan dari bagian daun yang dihalusin dan ditempelkan pada luka luar atau goresan.
Senduduk memiliki dua cara pemanfaatan. Daun mudanya dihaluskan dan dioleskan pada luka, sedangkan rebusan daun muda diminum untuk sakit perut. Getah pisang hutan juga dilaporkan dioleskan pada luka luar.

Senduduk, Melastoma malabathricum | Karya: Dinesh Valke from Thane, India
Tumbuhan lainnya ialah jahe, yang rimpangnya diseduh untuk meredakan sakit tenggorokan dan menjaga daya tahan tubuh. Daun sengga atau cakar ayam dikeringkan, ditumbuk, lalu diseduh. Sementara itu, buah ulin diolah menjadi bahan oles rambut.
Jejak Pengobatan dan Pelestarian Pengetahuan
Catatan pengobatan Dayak juga tersimpan dalam buku Traditional Medicine Among the Ngaju Dayak in Central Kalimantan. Johannes Salilah menulisnya pada 1935, lalu A. H. Klokke menyunting dan menerjemahkannya sebelum diterbitkan pada 1998. Isinya mencakup daftar penyakit dan penanganannya, asap dari pembakaran bahan tanaman, mantra, serta ritual yang berkaitan dengan keyakinan dan adat masyarakat Ngaju.
Kajian tumbuhan obat fokus pada Dayak Bakung di Kalimantan Utara, sedangkan buku Salilah merekam tradisi Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Keduanya tidak mewakili semua kelompok Dayak, yang memiliki pengetahuan dan kebiasaan lokal beragam.
Pencatatan nama tumbuhan dan bagian, serta cara pengolahan membantu menjaga pengetahuan yang diwariskan secara lisan agar tidak mudah terlupakan. Kajiannya mengingatkan terus agar menjaga tumbuhan obat dan habitatnya, sehingga pelestarian budaya bisa berjalan beriringan dengan perlindungan hutan.
Walaupun bisa jadi obat herbal tradisional, manfaatnya belum tentu terbukti secara klinis. Keamanan dan takaran tetap perlu diteliti. Untuk penyakit serius tetap perlu penanganan tenaga kesehatan.

