di balik langit berasap ketika kebakaran hutan dan lahan mengancam kesehatan masyarakat sumsel - News | Good News From Indonesia 2026

Di Balik Langit Berasap, Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Mengancam Kesehatan Masyarakat Sumsel

Di Balik Langit Berasap, Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Mengancam Kesehatan Masyarakat Sumsel
images info

Kabut Asap di Palembang - Bunga Familya Citra Ayu Lestari


Pernahkah kita membuka pintu rumah pada pagi hari dan mendapati langit yang biasanya cerah berubah menjadi kelabu? Mata terasa sedikit perih, udara berbau seperti sesuatu yang terbakar, dan bernapas pun terasa tidak senyaman biasanya.

Bagi masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra, kondisi seperti ini dapat muncul ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi. Api mungkin berada puluhan bahkan ratusan kilometer dari rumah, tetapi asap yang dihasilkannya dapat menyebar dan membawa pencemar udara ke wilayah yang jauh dari sumber kebakaran.

Kebakaran hutan dan lahan memang bukan persoalan baru di Indonesia. Namun, masalahnya tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Pembakaran vegetasi dan lahan gambut menghasilkan asap yang mengandung berbagai pencemar udara, termasuk particulate matter 2.5 (PM2.5).

Partikel ini berukuran sangat kecil, bahkan jauh lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia. Karena ukurannya tersebut, PM2.5 dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam sistem pernapasan manusia.

baca juga

Lalu, bagaimana dengan Sumatra Selatan? Penelitian yang dilakukan oleh Yasmin Lukman pada jurnal IPB tahun 2025 mengenai hubungan titik panas dan PM2.5 di Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan menunjukkan adanya keterkaitan antara aktivitas kebakaran hutan dan lahan dengan peningkatan konsentrasi PM2.5.

Hal tersebut menunjukkan bahwa ketika kebakaran meningkat, persoalan yang harus diperhatikan masyarakat bukan hanya banyaknya titik api, tetapi juga perubahan kualitas udara yang mereka hirup setiap hari.

Kebakaran Lahan di Palembang
info gambar

Foto: Kebakaran Lahan di Kertapati, 7 September 2026 | Bunga Familya Citra Ayu Lestari


Masalahnya, tubuh manusia membutuhkan udara tanpa mengenal waktu. Kita mungkin bisa memilih untuk tidak keluar rumah ketika langit terlihat berasap, tetapi kita tentu tidak bisa memilih untuk berhenti bernapas. Semakin tinggi konsentrasi pencemar di udara dan semakin lama seseorang terpapar, semakin penting pula risiko kesehatannya untuk diperhatikan.

Penelitian oleh Sepridawati Siregar pada Environ Monit Assess tahun 2024, terhadap masyarakat di Pulau Sumatra menunjukkan bahwa paparan PM2.5 dalam jangka panjang berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dan pernapasan.

baca juga

Dampak asap kebakaran terhadap kesehatan juga pernah terlihat secara langsung pada masyarakat di Sumatera. Penelitian oleh Jamal Zaini pada Medical Journal of Indonesia terhadap 89 penduduk sehat yang terpapar asap kebakaran hutan di Riau menemukan bahwa sekitar 71,4% mengalami gejala pernapasan dan 72,6% mengalami gangguan fungsi paru.

Meskipun penelitian tersebut dilakukan di Riau sehingga angkanya tidak dapat langsung dianggap mewakili masyarakat Sumatera Selatan, hasilnya memberikan gambaran bahwa asap kebakaran hutan bukan sekadar membuat mata perih atau menimbulkan bau tidak nyaman.

Paparan asap dapat berhubungan dengan perubahan kondisi pernapasan bahkan pada orang yang sebelumnya sehat.

Gambaran tersebut juga dirasakan oleh Abel Sonia. Ia mengatakan bahwa asap membuat lingkungan berkabut dan jarak pandang berkurang. Ia juga merasakan tenggorokan gatal, mata perih, serta napas yang tidak nyaman ketika berada di luar rumah. Kondisi tersebut membuatnya mengurangi aktivitas di luar dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.

baca juga

Tidak semua orang juga menghadapi risiko yang sama. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih ketika terjadi kebakaran hutan.

Penelitian yang mengamati dampak kebakaran hutan Indonesia tahun 2015 di 203 kabupaten di Sumatera dan Kalimantan menemukan peningkatan penggunaan pelayanan kesehatan primer untuk gangguan pernapasan pada anak berusia di bawah lima tahun di wilayah perkotaan yang terdampak.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik langit yang dipenuhi asap terdapat kelompok masyarakat yang lebih rentan merasakan dampaknya.

Bayangkan seorang anak yang biasanya bermain di halaman rumah harus tetap menghirup udara yang tercemar setiap kali bernapas. Atau seorang pekerja yang harus tetap berada di luar ruangan meskipun udara sedang dipenuhi asap. Pada kondisi seperti inilah kebakaran hutan dan lahan berubah dari persoalan lingkungan menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Asap tidak mengenal batas desa, kota, ataupun halaman rumah.

baca juga

Gambaran itu bukan hanya bayangan. Nurdin, seorang pengemudi ojek dan pengajar silat, menceritakan bahwa ayahnya mengalami sesak napas hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit ketika kabut asap berlangsung.

Anggota keluarganya yang lain juga mengalami sesak napas, sementara anak dalam keluarganya mengalami batuk dan demam. Kondisi tersebut juga mengganggu aktivitasnya sebagai pengemudi ojek dan pengajar silat.

Lantas, apakah kita harus menunggu sampai batuk dan sesak napas muncul untuk mulai peduli? Tentu tidak. Ketika kualitas udara memburuk akibat asap, masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan, membatasi masuknya asap ke dalam rumah, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika harus beraktivitas di lingkungan berasap, serta memperhatikan kondisi anggota keluarga yang lebih rentan.

Berbagai penelitian mengenai paparan asap kebakaran menunjukkan pentingnya mengurangi paparan untuk melindungi kesehatan pernapasan. Melindungi diri dari asap penting, tetapi solusi jangka panjang adalah mencegah kebakaran dan membangun kesiapsiagaan bersama.

baca juga

Namun, menggunakan masker atau berdiam di dalam rumah hanyalah bentuk perlindungan ketika asap sudah muncul. Upaya yang jauh lebih penting adalah mencegah kebakaran hutan dan lahan sejak awal. Karena, pencegahan kebakaran, pengendalian sumber pencemaran, pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi kepada masyarakat, serta kesiapan pelayanan kesehatan perlu berjalan bersama.

Pemantauan titik panas dan kualitas udara dapat membantu mendeteksi risiko lebih awal, sementara edukasi masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan dan perlindungan dari asap. Sebab, kualitas udara tidak hanya menentukan seberapa jelas kita dapat melihat langit, tetapi juga menentukan kualitas udara yang masuk ke paru-paru kita.

Kawan GNFI, menghadapi kebakaran hutan dan lahan membutuhkan peran dari banyak pihak, loh. Masyarakat juga dapat melaporkan potensi kebakaran sejak dini dan saling mengingatkan untuk mencegah pembakaran yang berisiko.

Komunitas dapat membantu melalui edukasi dan dukungan kepada kelompok yang terdampak. Tenaga kesehatan dapat berperan dalam meningkatkan kesiapsiagaan serta memberikan edukasi mengenai risiko kesehatan akibat paparan asap.

baca juga

Sementara itu, upaya pencegahan, pemantauan, pengendalian kebakaran, dan penyampaian informasi publik perlu terus diperkuat oleh pihak yang berwenang.

Kolaborasi inilah yang membuat penanganan kabut asap tidak hanya bersifat reaktif ketika asap sudah muncul, tetapi juga berorientasi pada pencegahan.

Pada akhirnya, langit biru bukan hanya pemandangan yang indah. Langit yang bebas dari asap juga menjadi simbol bahwa masyarakat dapat menghirup udara dengan lebih aman.

Kebakaran hutan dan lahan mengingatkan kita bahwa apa yang terjadi pada lingkungan pada akhirnya dapat kembali kepada manusia melalui sesuatu yang paling sederhana: tarikan napas.

baca juga

Jadi, ketika suatu hari langit Sumatra Selatan kembali diselimuti asap, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya “kapan asap ini akan hilang?”, tetapi juga “apa yang bisa kita lakukan agar udara yang sama tetap aman untuk dihirup generasi berikutnya?”

 

Let’s Protect Our Forest, Protect Our Breath.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.