Kawasan Lingkar Luar Jalan Soekarno Hatta, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, mendadak senyap pada Kamis siang, 10 September 2026. Sinar matahari yang biasanya terik, hari itu tertutup oleh tirai pekat berwarna abu-abu kecokelatan.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bergulung-gulung, menyengat mata, dan mencekik tenggorokan siapa saja yang nekat beraktivitas di luar rumah.
Di tengah situasi darurat yang membuat Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur memperpanjang status tanggap darurat bencana, sebuah drama kemanusiaan lintas spesies tergelar di atas tanah gambut yang membara.
Seorang relawan sekaligus aktivis pecinta satwa (animal rescuer) bernama Harie tengah menyisir kawasan hutan yang berbatasan dengan kebun warga. Langkah kakinya yang berat terhenti ketika matanya menangkap siluet kecil berbulu keabu-abuan yang tergeletak di atas tanah penuh abu sisa pembakaran.
Sesosok anak monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang masih berusia sangat muda tampak tak berdaya. Primata malang itu telah terpisah dari induk dan kelompoknya yang kemungkinan besar lari kocar-kacir menyelamatkan diri saat api pertama kali melalap rumah mereka.
Kondisi bayi monyet tersebut sangat memprihatinkan. Tubuhnya lemas, matanya terpejam erat, dan dadanya naik-turun dengan sangat cepat. Kabut asap pekat karhutla yang mengepung wilayah Sampit beberapa pekan terakhir terbukti merusak sistem pernapasannya yang rapuh.
“Kondisinya memang sudah ngap-ngapan, kesulitan bernapas. Saat ditemukan, saya kira sudah mati,” kenang Harie saat menceritakan momen kritis tersebut.
Dalam rekaman video amatir yang kemudian diunggah di akun Instagram pribadi miliknya, @harie, terlihat jelas betapa dramatisnya upaya penyelamatan itu. Tanpa memedulikan sisa bara api di sekitar lokasi, Harie segera mendekat dan memeriksa kondisi fisik primata kecil tersebut. Ia perlahan menggoyang-goyangkan kepala sang monyet secara lembut untuk merangsang kesadarannya.
Keajaiban kecil pun terjadi di tengah pekatnya nestapa Kalimantan. Bayi monyet itu perlahan-lahan menggerakkan jemari kecilnya, membuka mata yang tampak perih, lalu perlahan bangkit hingga bisa posisi duduk, meskipun seluruh tubuhnya masih bergetar hebat karena lemas.
Mengetahui kondisi satwa liar tersebut masih sangat kritis dan membutuhkan penanganan intensif, Harie bersama rekan-rekan relawan tidak membuang waktu. Bayi monyet itu dibungkus dengan kain hangat dan langsung dilarikan menuju klinik hewan terdekat di Sampit.
Di dalam klinik, tim medis hewan langsung mengambil tindakan darurat dengan memasangkan masker bantuan oksigen ke hidung mungil sang monyet. Langkah taktis ini menjadi penentu hidup dan mati bagi satwa tersebut, mengingat paru-parunya sudah terlalu banyak menghirup karbon monoksida dari vegetasi gambut yang terbakar.
Setelah beberapa jam mendapatkan pasokan oksigen murni serta vitamin dari dokter hewan, kondisi kesehatan monyet ekor panjang tersebut berangsur-angsur membaik secara signifikan. Napasnya yang semula memburu kini mulai teratur, dan sifat liarnya perlahan kembali muncul seiring dengan pulihnya energi tubuh.
Bagi para relawan satwa di Kalimantan Tengah, merawat hewan liar di dalam kandang bukanlah tujuan akhir. Setelah dokter hewan menyatakan bahwa fungsi pernapasan sang monyet telah kembali normal dan kondisinya stabil, keputusan besar langsung diambil: melepasliarkan kembali satwa tersebut ke alam bebas.
Tim evakuasi memilih sebuah kawasan hutan sekunder di sekitar wilayah Kotawaringin Timur yang dinilai masih aman, hijau, dan jauh dari jangkauan titik api karhutla aktif. Momen pelepasan itu berlangsung penuh haru.
Begitu pintu kandang transit dibuka, monyet kecil itu sempat menoleh sejenak ke arah Harie dan para relawan, sebelum akhirnya melompat lincah ke dahan pohon, menghilang di balik rimbunnya dedaunan untuk memulai hidup baru dan mencari kelompoknya.
Tragedi karhutla tahunan di Indonesia bukan hanya tentang hilangnya materi atau gangguan penerbangan manusia, melainkan tentang jeritan tak terdengar dari ribuan satwa liar yang kehilangan ruang hidup dan perlahan mati sunyi di dalam rumah mereka sendiri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


