Pilihan wisatawan Indonesia mulai bergeser. Liburan tidak lagi hanya berpusat di kota-kota besar atau destinasi yang sudah lama populer. Pada kuartal III 2026, wisata alam, budaya, dan religi di sejumlah daerah mencatat peningkatan pemesanan.
Wonosobo, Magelang, Pangandaran, Sukabumi, dan Bukittinggi menjadi beberapa destinasi domestik dengan pertumbuhan pemesanan relatif cepat. Tren ini menunjukkan bahwa wisatawan semakin tertarik pada pengalaman yang lebih dekat dengan alam, budaya, dan kekhasan daerah.
Perubahan pilihan tersebut tidak hanya berdampak pada sektor akomodasi dan transportasi. Jika dikelola dengan baik, meningkatnya kunjungan wisatawan dapat membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, mulai dari kuliner, pemandu wisata, kerajinan, hingga ekonomi kreatif.
ย
Wisata Daerah Makin Diminati
Empat dari lima destinasi itu dapat dijangkau melalui perjalanan darat dari kota-kota besar di Pulau Jawa. Akses tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong wisatawan memilih destinasi daerah untuk perjalanan singkat maupun liburan akhir pekan.
Temuan itu tercantum dalam Traveloka Southeast Asia Index Q3 2026, yang memotret pola perjalanan wisatawan Indonesia dan Asia Tenggara selama Juli hingga September 2026.
Minat terhadap daerah dengan udara sejuk dan pemandangan alam juga terlihat dari peningkatan pencarian untuk Garut. Pencarian terhadap destinasi tersebut naik 48 persen secara tahunan.
Garut dikenal dengan kawasan pegunungan dan suasana alamnya. Kenaikan pencarian tersebut melengkapi tren pertumbuhan pemesanan ke sejumlah destinasi dataran tinggi.
Bagi daerah, meningkatnya minat wisatawan dapat menjadi peluang untuk memperpanjang manfaat ekonomi pariwisata. Pengunjung tidak hanya membutuhkan tempat menginap, tetapi juga makanan, transportasi lokal, aktivitas wisata, dan oleh-oleh.
Namun, peluang tersebut perlu diikuti kesiapan masyarakat dan pelaku usaha. Pengembangan paket wisata berbasis desa, promosi produk lokal, serta perbaikan akses dan informasi dapat membantu belanja wisatawan berputar lebih lama di daerah tujuan.
ย
Perjalanan Nusantara Terus Tumbuh
Tren tersebut berlangsung di tengah meningkatnya perjalanan wisatawan nusantara. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2026 mencapai 104,3 juta perjalanan.
Angka itu meningkat 11,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadi dua provinsi tujuan dengan jumlah perjalanan terbanyak, masing-masing mencapai 18,7 juta dan 13,8 juta perjalanan.
Data tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar wisata domestik. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan kunjungan tidak hanya terkonsentrasi di destinasi utama, tetapi juga menyebar ke daerah-daerah yang memiliki potensi alam dan budaya.
Pemerataan kunjungan dapat mengurangi tekanan terhadap destinasi yang terlalu padat sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat di daerah lain.
ย
Wisata Religi dan Budaya Ikut Menguat
Selain wisata alam, perjalanan dengan tujuan religi dan budaya juga mencatat pertumbuhan. Pemesanan akomodasi wisatawan Indonesia ke Mekkah meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Durasi menginap di Mekkah juga tercatat lebih panjang. Mekkah, Jeddah, dan Madinah masuk dalam daftar 10 destinasi internasional dengan pertumbuhan relatif tercepat dari Indonesia pada kuartal III 2026.
Dari arah sebaliknya, wisatawan Malaysia semakin banyak mencari perjalanan ke Magelang dan Yogyakarta. Magelang menjadi lokasi Candi Borobudur, sementara Yogyakarta merupakan salah satu pintu gerbang menuju Candi Prambanan.
Peningkatan minat terhadap dua destinasi tersebut menunjukkan bahwa situs budaya dan keagamaan dapat menjadi penggerak perjalanan lintas negara. Potensinya tidak hanya berada pada kunjungan ke kawasan candi, tetapi juga pada pengembangan pemandu lokal, pertunjukan budaya, kuliner, dan produk kerajinan.
ย
Asia Semakin Terhubung
Wisatawan Indonesia juga semakin melirik destinasi internasional di Asia. Phu Quoc di Vietnam, Chongqing, Hangzhou, dan Shenzhen di China, serta Nagoya di Jepang menjadi lima destinasi internasional dengan pertumbuhan relatif tercepat dari Indonesia.
Tiga dari lima destinasi tersebut berada di China. Phu Quoc juga mencatat pertumbuhan relatif tertinggi di antara destinasi pendatang baru di kawasan Asia Tenggara.
Pada saat yang sama, minat wisatawan regional terhadap Indonesia ikut meningkat. Pencarian perjalanan dari Singapura ke Bandung naik 64 persen secara tahunan.

