Di pusat Kota Banda Aceh, ada taman yang menyimpan cerita lebih dari sekadar ruang terbuka hijau. Taman Putroe Phang berdiri di atas lahan yang dulunya merupakan bagian dari Taman Ghairah, taman kerajaan seluas sekitar 1.500 hektar milik Kesultanan Aceh yang dibangun Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17.
Dari seluruh kemegahan itu, yang tersisa hari ini hanyalah sebagian kecil, termasuk kolam bersejarah, gerbang Pinto Khop, dan taman yang kini dialihfungsikan sebagai ruang publik kota.
Nama taman ini diambil dari Putroe Phang, sebutan masyarakat Aceh untuk Putri Kamaliah, permaisuri Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Kesultanan Pahang di Semenanjung Melayu. Konon, setelah menetap di Aceh, sang permaisuri sering merindukan kampung halamannya yang berbukit.
Untuk mengobati kerinduan itu, Sultan Iskandar Muda membangun taman kerajaan dan mendirikan Gunongan, bangunan berbentuk bukit kecil yang menjadi tempat Putroe Phang bersantai bersama para dayang istana.
Bagi Kawan GNFI yang berkunjung ke Banda Aceh, Taman Putroe Phang adalah tempat yang bisa masuk dalam satu rute perjalanan bersama Gunongan, Museum Aceh, dan Masjid Raya Baiturrahman, karena letaknya yang berada di kawasan pusat kota.
Sekilas Mengenai Taman Putroe Phang
Kitab Bustanussalatin karya Nuruddin Ar-Raniri mencatat bahwa Taman Ghairah dahulunya dilengkapi dengan miniatur sungai, air terjun, pantai, balai, tebing, kolam, dan tanjung.
Kompleks ini mencakup area yang kini meliputi Gunongan, Kandang Baginda (makam Sultan Iskandar Tsani dan Sultanah Safiatuddin), seluruh area Taman Putroe Phang, sebagian wilayah Kerkhof Peutjoet, Makam Sultan Iskandar Muda, hingga area Museum Tsunami Banda Aceh. Sebuah kawasan yang sangat luas untuk ukuran taman kerajaan pada masanya.
Catatan utusan Kerajaan Prancis menyebut bahwa kompleks Istana Dalam Darud Dunya mencakup area lebih dari 2 kilometer persegi, dan konon mampu menampung hingga 800 pasukan gajah. Sebagian besar kemegahan itu musnah ketika pasukan Belanda menyerang Koetaradja pada akhir abad ke-19, dan seiring waktu, sebagian lahan beralih fungsi mengikuti perkembangan kota.
Yang tersisa dan masih bisa dikunjungi di kawasan Taman Putroe Phang adalah Pinto Khop, gerbang berkubah berukuran sekitar 2 x 2 meter dengan tinggi 3 meter yang dahulunya menghubungkan taman dengan kompleks istana.
Pinto Khop menjadi jalur pribadi yang digunakan Putroe Phang menuju taman dan tempat beristirahat setelah mandi di aliran Krueng Daroy. Bentuk atapnya yang berlapis tiga dengan puncak menyerupai mahkota bersudut runcing serupa dengan arsitektur Gunongan yang berdiri tidak jauh dari sana.
Daya Tarik Utama Taman Putroe Phang
Pinto Khop adalah elemen historis yang paling menarik di kawasan ini. Gerbang kecil bergaya kubah dengan ornamen sulur di bagian rongga pintunya ini sudah berdiri sejak abad ke-17 dan menjadi satu-satunya struktur asli yang tersisa dari kompleks taman kerajaan di kawasan ini.
Di dekatnya terdapat kolam bersejarah yang dipercaya dibuat atas permintaan langsung Putroe Phang, serta prasasti yang menjelaskan sejarah taman ini.
Sebagai ruang publik kota, Taman Putroe Phang dilengkapi dengan jalur pejalan kaki, area duduk, panggung terbuka, taman bermain anak, dan pepohonan rindang yang membuat kawasan ini sejuk di siang hari.
Di akhir pekan, taman ini sering dijadikan tempat pertunjukan seni, pameran UMKM, dan berbagai festival yang terbuka untuk umum. Anak-anak muda Banda Aceh juga menjadikan kawasan ini sebagai ruang kreatif untuk berbagai kegiatan komunitas.
Kawasan Taman Putroe Phang bersebelahan langsung dengan Gunongan, bangunan berbentuk bukit kecil yang merupakan bagian lain dari kisah Putroe Phang dan Kesultanan Aceh, sehingga keduanya bisa dikunjungi sekaligus dalam satu kunjungan.
Akses Menuju Taman Putroe Phang
Taman Putroe Phang berada di Jalan Teuku Umar, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, tepat di pusat kota dan berdekatan dengan Masjid Raya Baiturrahman dan Museum Aceh. Dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, perjalanan ke taman ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan kendaraan pribadi atau taksi.
Lokasinya yang sangat sentral memudahkan akses dari berbagai titik di kota. Ojek online beroperasi di Banda Aceh dan bisa digunakan untuk perjalanan langsung ke kawasan ini. Area parkir tersedia di sekitar taman untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Taman Putroe Phang terbuka setiap hari tanpa jam operasional yang ketat. Pengunjung bisa datang kapan saja, meski waktu terbaik adalah pagi hari saat udara masih sejuk dan taman belum ramai, atau sore menjelang magrib saat suasana kota mulai tenang.
Tidak ada tiket masuk. Kunjungan ke Taman Putroe Phang sepenuhnya gratis. Satu hal yang perlu diperhatikan karena berlaku di Banda Aceh pada umumnya, yakni kenakan pakaian yang menutup aurat saat berada di kawasan ini, sesuai dengan penerapan syariat Islam di Provinsi Aceh.
Ayo Berkunjung ke Taman Putroe Phang!
Taman Putroe Phang adalah tempat yang tepat untuk Kawan GNFI yang ingin memahami Banda Aceh dari sisi sejarah dan budayanya, sambil tetap menikmati suasana taman kota yang santai.
Gabungkan kunjungan ini dengan Gunongan yang ada persis di sebelahnya, lanjutkan ke Museum Aceh, dan tutup hari dengan salat di Masjid Raya Baiturrahman yang tidak jauh dari sana.
Selamat berkunjung ke Taman Putroe Phang, Kawan!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


