taman purbakala cipari kuningan situs neolitikum dan megalitikum di kaki gunung ciremai - News | Good News From Indonesia 2026

Taman Purbakala Cipari Kuningan, Situs Neolitikum dan Megalitikum di Kaki Gunung Ciremai

Taman Purbakala Cipari Kuningan, Situs Neolitikum dan Megalitikum di Kaki Gunung Ciremai
images info

Dok. kebudayaan.kemdikbud.go.id


 

Pada 1971, seorang pria bernama Wijaya sedang menggarap lahannya di Dusun Cipari, Kuningan, ketika sekopnya menyentuh sesuatu yang keras di dalam tanah. Yang ditemukannya adalah kepingan-kepingan batu pipih yang tidak biasa, mirip dengan bebatuan yang ia pernah lihat dipamerkan di Paseban Tri Panca Tunggal, sebuah cagar budaya di kawasan yang sama.

Temuan itu dilaporkan ke Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Jakarta, dan dari satu laporan itulah serangkaian penggalian dimulai yang akhirnya mengungkap salah satu situs prasejarah paling lengkap di Jawa Barat.

Taman Purbakala Cipari kini berdiri di lokasi yang sama, di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, sekitar 4 km dari pusat kota. Kawasan di lereng Gunung Ciremai ini menyimpan peninggalan dari dua zaman sekaligus, yaitu neolitikum dan megalitikum, dengan rentang usia artefak yang mencapai lebih dari 5.500 tahun.

Museum yang dibuka sejak 1978 ini menampung koleksi yang diangkat dari penggalian di lokasi yang sama, dengan bangunan museum bergaya unik beratap ijuk berbentuk perahu terbalik yang dibangun pada 1976.

Sekilas Mengenai Taman Purbakala Cipari

Setahun setelah temuan pertama Wijaya, penemuan lebih mengejutkan muncul di penggalian lanjutan. Ditemukan kepingan batu yang lebih lebar, tersusun rapi membentuk struktur yang kemudian diidentifikasi sebagai peti kubur batu.

Penggalian lebih menyeluruh pada 1975 dipimpin Pangeran Djatikusumah menghasilkan peti batu berisi bekal kubur lengkap: kapak batu, gelang batu, dan gerabah yang diperkirakan berasal dari sekitar 3500 SM.

Keunikan situs ini adalah perpaduan dua era budaya dalam satu kawasan. Artefak neolitikum menunjukkan masyarakat yang sudah mengenal pertanian dan pembuatan alat dari batu, sementara peninggalan megalitikum seperti menhir, dolmen, dan batu gelang menunjukkan kepercayaan terhadap arwah leluhur yang sudah sangat terstruktur.

Ditemukannya kapak perunggu di situs ini juga menandai tahap perkembangan teknologi yang lebih maju, ketika manusia mulai mengolah logam.

Museum yang kini berdiri di kawasan ini adalah bangunan oval memanjang menghadap ke arah barat daya-timur laut, dengan jendela-jendela kaca persegi mengelilingi bangunan dan atap ijuk berbentuk perahu terbalik. Desain ini bukan hanya estetis, tapi juga sengaja dipilih untuk mencerminkan elemen-elemen tradisional yang berkaitan dengan kebudayaan pra-Hindu di Nusantara.

Daya Tarik Utama Taman Purbakala Cipari

Di area luar museum, dua peti kubur batu berbentuk trapesium masih berada di posisi aslinya. Ketika ditemukan, keduanya tidak mengandung sisa tulang manusia karena kondisi tanah di kawasan ini tidak mendukung pengawetan tulang dalam jangka waktu ribuan tahun, namun bekal kubur berupa gerabah dan perhiasan ditemukan di dalamnya.

Monumen-monumen megalitikum yang tersebar di area luar mencakup beberapa jenis dengan fungsi berbeda. Menhir adalah tugu batu tegak yang berfungsi sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur.

Batu gelang atau batu temu gelang adalah kumpulan batu berbentuk lingkaran dengan lahan kosong di tengahnya yang digunakan sebagai tempat berkumpul dan musyawarah. Lalu, batu altar adalah tempat upacara pemujaan, sementara dolmen dengan bagian atasnya yang datar difungsikan sebagai tempat menyimpan sesajen. Batu dakon berbentuk mirip papan permainan congklak dan diduga digunakan untuk meramu obat atau sesembahan.

Di dalam museum, koleksi artefak mencakup kapak batu dan kapak perunggu, gelang batu yang terbuat dari batuan kalsedom, gerabah dengan berbagai ukuran, dan berbagai temuan lainnya yang sudah dikurasi dan diberi keterangan. Posisi museum yang berada di lereng Gunung Ciremai juga membuat udaranya sejuk dan kondisi sekitarnya sangat asri, sehingga kunjungan terasa nyaman bahkan di siang hari.

Akses Menuju Taman Purbakala Cipari

Dari Alun-Alun Kuningan, arahkan kendaraan menuju Jalan Aria Kamuning hingga Jalan Veteran, kemudian belok kanan ke Jalan Nanggeleng-Cirahayu atau Jalan Syeh Maulana Akbar. Dari situ belok kiri ke Jalan Raya Cigugur, lalu belok kanan menuju lokasi. Total jarak dari pusat kota sekitar 4 km dengan waktu tempuh sekitar 10 hingga 15 menit.

Dari Cirebon, perjalanan menuju Kuningan membutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan kendaraan pribadi. Kuningan juga bisa dijangkau dari Bandung melalui jalur Kadugede atau dari Tasikmalaya melalui Ciawi. Tidak ada angkutan umum yang langsung menuju situs, sehingga kendaraan pribadi atau ojek dari pusat kota adalah pilihan paling praktis.

Jam Operasional dan Harga Tiket

Taman Purbakala Cipari buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Tiket masuk hanya Rp5.000 per orang. Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir, museum dengan koleksi yang sudah tertata dengan baik, area monumen di luar ruangan, dan toilet. Pemandu bisa ditemukan di lokasi untuk yang ingin penjelasan lebih mendalam tentang fungsi dan konteks masing-masing artefak.

Ayo Berkunjung ke Taman Purbakala Cipari!

Taman Purbakala Cipari cocok untuk Kawan GNFI yang sedang di Kuningan dan ingin melihat langsung sisa-sisa kehidupan manusia dari ribuan tahun lalu.

Datanglah pagi hari saat udara di lereng Ciremai masih sejuk, sisihkan waktu untuk membaca keterangan di setiap artefak, dan jangan lewatkan batu gelang di area luar yang lingkarannya masih sangat jelas terlihat. Selamat berkunjung!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.