perjalanan wingko babat dari lamongan hingga menjadi oleh oleh khas semarang - News | Good News From Indonesia 2026

Perjalanan Wingko Babat dari Lamongan hingga jadi Oleh-Oleh Khas Semarang

Perjalanan Wingko Babat dari Lamongan hingga jadi Oleh-Oleh Khas Semarang
images info

Wingko Babat Semarang (https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Wingko_Babat_Khas_Semarang.jpg)


Ketika berkunjung ke Kota Semarang, rasanya belum lengkap jika tidak mencicipi wingko babat. Kuliner ini telah menjadi salah satu oleh-oleh khas Semarang berkat perpaduan cita rasanya yang manis dan gurih serta teksturnya yang kenyal.

Namun, tahukah kamu bahwa wingko babat sebenarnya berasal dari Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan?

Karena perpindahan keluarga pembuatannya ke Semarang dan penjualannya di Stasiun Tawang membuat makanan tradisional ini semakin dikenal hingga akhirnya melakat sebagai identitas kuliner di Kota Semarang.Β 

Jauh Sebelum Semarang, Wingko Sudah menjadi Oleh-Oleh Babat

Tahukah kamu bahwa sebelum menjadi oleh-oleh khas Semarang, wingko babat telah lebih dahulu dikenal sebagai makanan khas Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan? Sebab, nama β€œBabat” pada kuliner tersebut merujuk pada daerah tempat wingko pertama kali dibuat dan berkembang.

baca juga

Berdasarkan artikel pada Journal of Indonesian History, wingko babat pertama kali dibuat pada 1898 oleh pasangan Loe Soe Siang dan Djoa Kiet Nio. Keduanya merupakan perantau Tionghoa yang kemudian menetap di Kecamatan Babat. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka membuat makanan berbahan tepung ketan, parutan kelapa muda, gula, santan, dan air yang kemudian dikenal sebagai wingko babat.

Karena dibuatnya di kecamatan Babat, maka makanan tersebut kemudian dikenal dengan sebutan wingko babat. Yang menarik, walaupun wingko babat dianggap sebagai oleh-oleh Khas semarang.Β 

Namun, sejak zaman Hindia Belanda keberadaan wingko telah dikenal sebagai makan khas babat. Selain itu, Pada 1934, surat kabarΒ Soerabaijasch Handelsblad memberitakan wingko sebagai makanan manis yang digemari pelancong yang berkunjung ke Babat.

Dengan demikian, melalui jurnal tersebutlah menunjukan bahwa wingko telah dikenal secara luas sebagai buat tangan dari Babat jauh sebelum makanan ini diproduksi di Kota Semarang.

baca juga

Resep Keluarga yang Dibawa ke Semarang

Lantas, bagaimana makanan khas Babat ini dapat menjadi kuliner yang begitu lekat dengan Semarang? Tentunya, wingko babat melewati perjalanan yang tidak singkat hingga memperoleh identitas barunya.

Awalnya, Loe Soe Siang dan Djoa Kiet Nio mempunya dua anak bernama Loe Lan Ing dan Loe Lan Hwa. Loe Lan Ing meneruskan usaha wingko milik keluarganya di Babat, sedangkan Loe Lan Hwa mengikuti suaminya, The Ek Tjong atau D. Mulyono, pindah ke Semarang.

Menurut penelitian Universitas Negeri Semarang, Loe Lan Hwa bersama suami dan kedua anaknya meninggalkan Babat pada 1944. Perpindahan tersebut terjadi karena situasi di Babat saat itu tidak aman menjelang berakhirnya Perang Dunia II.

Setelah menetap di Kota Semarang, Loe Lan Hwa melihat peluang karena belum ada orang yang menjual wingko di kota tersebut.

baca juga

Berbekal resep keluarganya, ia bersama sang suami mulai memproduksi wingko pada 1946 untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Namun, siapa sangka, makanan berbahan tepung ketan dan kelapa ini justru menjadi favorit masyarakat. Cita rasanya yang manis dan gurih membuat wingko dapat diterima dan digemari.Β 

Perpindahan keluarga Loe Lan Hwa akhirnya tidak hanya membawa resep dari satu kota ke kota lain. Mereka juga memperkenalkan tradisi kuliner Babat kepada masyarakat Semarang hingga makanan tersebut tumbuh menjadi bagian dari identitas kota barunya.

Peran Stasiun Tawang dan Lahirnya Cap Kereta Api

Selain perpindahan pasangan suami istri tersebut ke Kota Semarang, perkembangan wingko babat tidak terlepas dari keberadaan Stasiun Tawang. Saat mulai merintis usaha, mereka menitipkan wingko buatannya di sebuah kios sederhana di stasiun tersebut.

baca juga

Setiap kereta berhenti, petugas kios menjajakan wingko bersama makanan lainnya kepada para penumpang. Selain dititipkan di stasiun, wingko juga dijual dari rumah ke rumah. Cara ini membuat makanan tersebut semakin dikenal dan dibawa oleh para penumpang menuju berbagai kota.

Kedekatan usaha mereka dengan dunia kereta api, akhirnya menginpirasi lahirnya merk Cap Spoor. Pemilihan nama dan gambar kereta juga berkaitan dengan pekerjaan D. Mulyono di bagian restorasi kereta api. Menurut penelitian Universitas Negeri Semarang, gambar pada kemasannya terinspirasi dari sampul buku saran yang tersedia di gerbong makan.

Seiring perkembangan bahasa Indonesia, nama Cap Spoor kemudian diubah menjadi Cap Kereta Api. Karena popularitasnya meningkat, muncullah produsen produsen lain dengan merk dan branding yang beragam.

Dari Makanan Perantau menjadi Identitas Semarang

Berkat usaha yang dirintis Loe Lan Hwa bersama keluarganya, wingko babat mulai dikenal luas oleh masyarakat Semarang. Hal ini ditandai dengan bermunculannya berbagai produsen serta toko yang menjajakan wingko babat, termasuk di sepanjang Jalan Pandanaran.

baca juga

Selain itu dengan berkembangnya zaman, kini wingko babat juga hadir dengan berbagai pilhan rasa seperti cokelat, durian, nangka, maupun pisang. Berkat adanya inovasi inilah yang membuat wingko tetap nikmat untuk dinikmati ditengah banyaknya oleh-oleh khas semarang lainnya seperti Gandjel Rel maupun makanan lainnya.

Wingko babat akhirnya bukan sekadar makanan yang dibawa oleh keluarga perantau. Kuliner ini telah tumbuh menjadi bagian dari identitas Semarang sekaligus menyimpan jejak perjalanan resep keluarga dari Babat, Lamongan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CC
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.