menembus lorong waktu di lahat menghidupkan kembali denyut sejarah terowongan gunung gajah - News | Good News From Indonesia 2026

Menembus Lorong Waktu di Lahat: Menghidupkan Kembali Denyut Sejarah Terowongan Gunung Gajah

Menembus Lorong Waktu di Lahat: Menghidupkan Kembali Denyut Sejarah Terowongan Gunung Gajah
images info

Terowongan Gunung Gajah. Gambar: Ilustrasi AI


Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung rendah di atas perbukitan hijau Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Di balik rimbunnya vegetasi tropis, sebuah lengkungan batu bata merah berdiri kokoh menantang zaman yang terus berganti. Mulut terowongan gelap itu tampak sunyi, seolah menyimpan ribuan rahasia dari masa seratus tahun yang lalu.

Inilah Terowongan Gunung Gajah, sebuah mahakarya arsitektur kolonial sepanjang 368 meter yang dibangun pada awal abad ke-20. Lintasan bawah tanah legendaris ini merupakan saksi bisu dari ambisi besar pembangunan jalur Kereta Api Trans-Sumatra di masa lalu. Sayangnya, potensi sejarah yang begitu megah ini masih terlelap sepi dan belum dikemas secara optimal sebagai destinasi wisata sejarah aktif.

Pembangunan terowongan ini dimulai pada tahun 1924 oleh perusahaan kereta api kolonial Belanda, Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS).

 

Saat melangkah masuk ke dalam terowongan, embusan angin dingin langsung menyambut kulit di tengah kegelapan yang pekat. Struktur lengkungan dindingnya masih sangat solid tanpa semen modern, sebuah bukti keunggulan arsitektur masa kolonial yang bertahan dari guncangan gempa bumi. Suasana magis langsung terasa ketika suara tetesan air dari langit-langit terowongan menggema secara ritmis di dalam lorong.

baca juga

Kekayaan warisan perkeretaapian di Lahat sebenarnya tidak hanya terbatas pada Terowongan Gunung Gajah semata. Tidak jauh dari sana, berdiri kokoh Balai Yasa Lahat, bengkel kereta api terbesar di Sumatra yang mulai beroperasi pada 1 Oktober 1931. Tempat ini berfungsi sebagai jantung mekanis utama yang menjaga lokomotif dan gerbong kereta tetap prima melintasi jalur Sumatra Selatan.

Kombinasi antara terowongan bersejarah dan balai yasa aktif ini menciptakan lanskap budaya industri yang sangat langka di Indonesia. Namun, kawasan ini lebih sering dipandang sebagai objek vital transportasi logistik batubara daripada ruang edukasi publik. Jalur ini masih aktif dilewati oleh kereta api babaranjang (batu bara rangkaian panjang) milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Minat masyarakat urban terhadap wisata sejarah (dark tourism) dan fotografi arsitektur retro kini sebenarnya sedang melonjak tinggi. Lanskap Terowongan Gunung Gajah dengan rel kembar yang membelah bukit memiliki daya tarik visual yang sangat fotogenik. Sudut pandang potret dari luar mulut terowongan sering kali dicari oleh para pencinta sejarah perkeretaapian nasional.

Pemerintah daerah bersama PT KAI mulai melihat peluang besar ini untuk mengembangkan konsep wisata edukasi terpadu. Kolaborasi strategis diperlukan untuk menyusun jalur tur aman bagi wisatawan tanpa mengganggu operasional kereta api aktif. Pembatasan akses dan penyediaan pemandu wisata lokal menjadi kunci keselamatan utama di kawasan ini.

baca juga

Langkah ini diperkuat dengan upaya inventarisasi dan pelindungan cagar budaya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI. Status cagar budaya diharapkan mampu menjaga keaslian arsitektur terowongan dari vandalisme dan alih fungsi lahan di sekitarnya.

Edukasi kepada warga kampung sekitar terowongan juga terus digalakkan agar mereka turut menjaga aset berharga ini.

Mengembangkan Terowongan Gunung Gajah sebagai wisata aktif akan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal di sekitarnya. Warung-warung kopi dan penyewaan alat penerangan dapat bertumbuh subur di sekitar area pintu masuk terowongan. Sejarah tidak lagi sekadar menjadi catatan usang di buku, melainkan penggerak roda ekonomi kreatif daerah.

Klakson lokomotif modern kini terdengar menggelegar dari kejauhan, memecah kesunyian perbukitan Lahat yang asri. Kereta batubara melintas cepat, menembus kegelapan Terowongan Gunung Gajah menuju Pelabuhan Tarahan. Lorong waktu peninggalan kolonial ini membuktikan diri bahwa ia menolak mati, terus berdenyut menyongsong masa depan pariwisata Sumatra Selatan.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.