kelenteng kwan tie miaw pangkalpinang kelenteng 181 tahun yang dibangun penambang timah tionghoa hakka - News | Good News From Indonesia 2026

Kelenteng Kwan Tie Miaw Pangkalpinang, Warisan 181 Tahun yang Dibangun Penambang Timah Tionghoa Hakka

Kelenteng Kwan Tie Miaw Pangkalpinang, Warisan 181 Tahun yang Dibangun Penambang Timah Tionghoa Hakka
images info

Dok. indonesia.travel


 

Di Jalan Mayor Muhidin, pusat Kota Pangkalpinang, berdiri sebuah kelenteng yang usianya sudah melampaui 180 tahun.

Kelenteng Kwan Tie Miaw dibangun pada 1841 dan diresmikan pada 1846, dan keduanya terjadi di tangan kelompok yang sama, yakni para penambang timah Tionghoa Hakka yang datang ke Pulau Bangka sejak abad ke-18 untuk bekerja di tambang-tambang timah di bawah pemerintahan kesultanan lokal maupun Belanda.

Kelenteng ini juga menjadi salah satu penanda awal permukiman Tionghoa di Pangkalpinang, yang keberadaannya bahkan tercatat dalam dokumen resmi pemerintahan Belanda, Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1850.

Dari catatan itu diketahui bahwa di Distrik Pangkalpinang sudah berdiri kelenteng yang disebut Kwan Tie Bio, nama awal bangunan ini sebelum berganti dua kali hingga akhirnya dikenal sebagai Kwan Tie Miaw.

Ritual yang berlangsung di kelenteng ini, khususnya Pot Ngin Bun, keliling kota yang dilakukan pada hari ke-13 bulan kelima kalender Imlek, diklaim sebagai satu-satunya ritual dari jenis ini di seluruh Indonesia.

 

Sekilas Mengenai Kelenteng Kwan Tie Miaw

Masyarakat Tionghoa, terutama dari suku Hakka, mulai masuk ke Pulau Bangka pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I antara 1724 hingga 1757 Masehi untuk bekerja sebagai penambang timah.

Mereka datang membawa kepercayaan dan tradisi dari tempat asal mereka, dan salah satu wujud nyata dari itu adalah kelenteng yang mereka bangun sebagai pusat ibadah dan kegiatan komunitas.

Kelenteng ini sudah berganti nama tiga kali. Awalnya bernama Kwan Tie Bio, kemudian pada masa Orde Baru diubah menjadi Kelenteng Amal Bakti pada 1980. Pada 1998, kelenteng mengalami kebakaran, dan setelah dipugar dan diresmikan kembali pada 5 Agustus 1999, namanya berubah menjadi Kwan Tie Miaw hingga sekarang.

Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Dato Akhmad Elvian mengonfirmasi tahun pendirian kelenteng ini berdasarkan temuan aksara Cina di lonceng besi di dalam kelenteng.

Dari plakat bertuliskan ucapan selamat dari beberapa kongsi penambangan timah, tertulis bahwa peresmian dilakukan pada hari dan bulan baik tahun ke-26 pemerintahan Kaisar Daoguang, yang bertepatan dengan 1846 Masehi.

 

Daya Tarik Utama Kelenteng Kwan Tie Miaw

Kelenteng ini berdiri di atas lahan seluas 12,5 x 24 meter dengan arsitektur bergaya Tionghoa klasik, didominasi warna merah dan kuning.

Di puncak bagian tengah bangunan terdapat lingkaran hitam putih sebagai simbol Yin dan Yang, dipadukan dengan Pakua sebagai ciri khas Taoisme yang melambangkan keseimbangan dan keberuntungan. Di bagian dalam, aroma hio selalu hadir sebagai bagian dari aktivitas ibadah harian.

Di dalam kelenteng tersimpan 13 arca dewa, dengan Kwan Tie sebagai dewa utama. Kwan Tie adalah figur jenderal besar dalam sejarah Tiongkok yang kemudian didewaikan sebagai Dewa Perang, Kesetiaan, dan Keadilan.

Sebelum menyembah dewa-dewa, umat Kong Hu Cu terlebih dahulu menyembah Thian, Tuhan yang di langit, yang posisinya ditandai dengan baskom besar berwarna perak kekuningan dengan dua naga di kiri dan kanannya.

Yang paling menonjol secara budaya adalah ritual Pot Ngin Bun, sebuah sembahyang ritual dengan prosesi keliling Kota Pangkalpinang yang dilakukan pada hari ke-13 bulan kelima kalender Imlek, atau pada hari lahir Pangeran Kuan-Pin. Menurut sejarawan setempat, ini adalah satu-satunya ritual seperti ini dari seluruh kelenteng yang ada di Indonesia.

Kelenteng ini juga aktif menjadi pusat kegiatan saat Imlek, termasuk sembahyang Sam Sip Fu tepat pukul 23.00 saat pergantian tahun baru Imlek, serta sembahyang rebut sebagai sedekah untuk leluhur yang sudah meninggal.

Selain dimensi religiusnya, kelenteng ini juga dikenal dengan semangat keterbukaannya. Masyarakat sekitar dari berbagai latar belakang agama kerap menerima bantuan dari pengelola kelenteng, dan kawasan sekitar kelenteng menjadi ruang sosial yang hidup, terutama saat perayaan-perayaan besar Tionghoa.

 

Akses Menuju Kelenteng Kwan Tie Miaw

Kelenteng Kwan Tie Miaw berlokasi di Jalan Mayor Muhidin, Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung, tepat di pusat kota sehingga sangat mudah dijangkau dari berbagai titik di Pangkalpinang. Dari Bandara Depati Amir, perjalanan ke kelenteng membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit menggunakan kendaraan pribadi atau taksi.

Kendaraan roda dua dan roda empat bisa diparkir di sekitar kawasan kelenteng. Ojek dan angkutan kota juga tersedia di Pangkalpinang sebagai alternatif transportasi.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Kelenteng Kwan Tie Miaw terbuka setiap hari untuk kegiatan ibadah dan kunjungan. Tidak ada tiket masuk yang dikenakan. Pengunjung yang datang untuk wisata budaya dipersilakan masuk dengan catatan berpakaian sopan dan tidak mengganggu kekhidmatan umat yang sedang beribadah.

Waktu terbaik untuk merasakan suasana kelenteng yang paling hidup adalah saat perayaan Imlek, terutama pada ritual Pot Ngin Bun yang melibatkan prosesi keliling kota, dan pada malam pergantian tahun baru Imlek saat umat berkumpul untuk sembahyang bersama.

 

Ayo Berkunjung ke Kelenteng Kwan Tie Miaw!

Kelenteng Kwan Tie Miaw cocok untuk Kawan GNFI yang ingin memahami Bangka Belitung dari sisi sejarah dan keberagaman budayanya.

Datanglah saat perayaan Imlek untuk pengalaman yang paling penuh, atau kunjungi di hari biasa untuk melihat aktivitas ibadah keseharian yang sudah berlangsung selama hampir dua abad. Selamat berkunjung!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.