tari seudati warisan budaya aceh yang kaya akan sejarah dan keunikan gerakan - News | Good News From Indonesia 2026

Tari Seudati: Warisan Budaya Aceh yang Kaya akan Sejarah dan Keunikan Gerakan

Tari Seudati: Warisan Budaya Aceh yang Kaya akan Sejarah dan Keunikan Gerakan
images info

Tari seudati asal Aceh | pixabay.com (Zulmahdi)


Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatera. Kota yang memiliki julukan “Serambi Mekkah” ini menyimpan banyak sejarah, tradisi, dan kebudayaan yang pastinya masih eksis hingga hari ini. 

Dalam sejarah disebutkan bahwa Aceh menjadi wilayah pertama di Nusantara yang menerima ajaran agama islam sehingga hal tersebut turut mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat bahkan sampai pada aspek kebudayaan yang sangat kental dengan pengaruh nilai-nilai agama islam. 

Tari seudati menjadi salah satu budaya asal Aceh yang menampilkan sebuah perpaduan tarian tradisional yang di dalamnya disisipkan ajaran agama islam dan juga dijadikan sebagai sarana untuk dakwah penyebaran agama islam. 

baca juga

Yuk! Bersama kita telusuri mengenai tari seudati yang menjadi identitas budaya masyarakat kota Aceh.

Tari Seudati: Kesenian Tradisional Kebanggaan Masyarakat Aceh

Tari seudati berasal dari desa Gigieng, kecamatan Sigli, kabupaten Pidie, Aceh. Kata “Seudati” berasal dari kata bahasa arab yaitu, “syahadatin” atau “syahadati” yang bermakna pengakuan atau pengakuanku. Lalu, ada teori lain yang menyebutkan bahwa seudati berasal dari kata “Seurasi” yang artinya kompak dan harmonis. 

Tarian ini diyakini sebagai wajah baru dari tari ratoh atau ratoih, sebuah tarian tradisional asal daerah pesisir Aceh. Ratoh sendiri merupakan tarian yang mirip seperti tari saman, yaitu diperagakannya dengan posisi duduk. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman tari seudati mengalami perubahan, yang semulanya dilakukan secara duduk kini menjadi berdiri. 

Dahulu tari ratoh dipentaskan untuk mengawali permainan sabung ayam dan berbagai ritual sosial lainnya, seperti menyambut waktu panen, serta sewaktu bulan purnama tiba. Kemudian setelah agama islam datang ke bumi Aceh, terjadilah proses akulturasi yang menghasilkan tari seudati yang kita kenal sampai hari ini. 

Saat ini, tari seudati sering ditampilkan di berbagai kesempatan, mulai dari upacara adat, acara perayaan, dan kegiatan kebudayaan lainnya. Tidak hanya itu, tari seudati juga sering dijadikan sebagai ajang perlombaan antar tim. Hal inilah yang membuat masyarakat selalu antusias dalam menikmati tarian seudati ini. 

Karakteristik Tari Seudati dari Gerakan hingga Busananya 

  • Formasi dan Gerakan Tarian Seudati 

Tari seudati dilakukan oleh sepuluh orang yang terdiri dari satu orang pemimpin penari yang disebut syech. Lalu, ada satu orang pembantu pemimpin syech yang disebut apet. Dilanjut dengan satu orang penari sebelah kiri yang disebut apeetwie dan satu orang penari di belakang yang disebut apeet bak, serta empat orang penari yang disebut aneuk seudati. 

Untuk teknik gerakannya, terdapat beberapa gerakan pokok dalam tari seudati, yaitu gerakan meloncat, melangkah, pukul dada (dhiet), petik jari (ketrep jaroe), dan menghentakkan kaki ke lantai (geddham kaki) dari sinilah timbul bunyi irama yang serentak pada tari seudati.

baca juga

Setelah gerakan kita berpindah ke bentuk formasinya, tari seudati dimulai dengan membentuk barisan dengan formasi empat-empat. Setelah itu, posisi syech berada pada banjar pertama nomor dua dari kanan (barisan depan), sedangkan apet posisinya berada di sebelah kiri syech, dan di sudut pentas bagian depan kiri berdiri dua orang aneuk syahi sebagai pengiring tari. 

Pengiring tari atau aneuk syahi tidak mengiri tarian menggunakan alat-alat musik atau nyayian, tetapi mereka mengirinya dengan membunyikan petikan jari, hentakan kaki, tepukan di bawah dada, serta syair-syair yang bertemakan keagamaan, cerita alam, dan mengenai pembangunan negara yang dilantunkan oleh dua orang aneuk syahi. 

  • Detail Busana Penari Seudati 

Busana yang digunakan oleh penari seudati adalah baju kaos warna putih, celana panjang warna putih, kain sungkit warna merah (gelap), ikat pinggang, tangkuluk (ikat kepala), dan rencong di pinggang. 

  • Tari Seudati Sebagai Media Dakwah

Hadirnya tari seudati tidak hanya bertujuan untuk menjadi hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media dakwah agama islam pada masyarakat Aceh.Syair-syair yang dilantunkan oleh aneuk syahi mengandung pesan moral dan nilai-nilai agama islam. Sejak zaman dahulu pun, tarian ini memang digunakan untuk menyampaikan ajaran agama islam dan juga menjadi media untuk mengingatkan kepada masyarakat mengenai pentingnya menerapkan ajaran islam ke kehidupan sehari-hari. 

Dari pemaparan di atas kita bisa melihat bahwa tari seudati tidak hanya sekadar kesenian tradisional yang menjadi hiburan dan kebanggan masyarakat Aceh, tetapi di dalamnya terdapat makna yang mendalam mengenai ajaran agama islam yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.