Borobudur punya ribuan panel cerita yang menjadikan candi ini punya daya tarik tersendiri. Pemerintah pun ingin melakukan pengembangan Museum Borobudur agar destinasi wisata religi sekaligus edukasi ini makin digandrungi.
Tak sendirian, Indonesia menggandeng Prancis untuk merancang museum yang diharapkan bisa membuat pengalaman berkunjung ke salah satu situs warisan budaya terpenting di Tanah Air menjadi lebih menggugah.
Sebab, Borobudur bukan hanya bangunan candi yang megah. Berbagai unsur, seperti sejarah, budaya, dan makna spiritual terangkum di dalamnya yang tentu saja menarik untuk dipelajari.
Presiden Centre des monuments nationaux (CMN), Marie Lavandier, berkunjung ke Indonesia pada 18β24 Oktober 2026 untuk membahas rencana ini. CMN merupakan lembaga publik Prancis yang bertanggung jawab atas pelestarian dan pengelolaan lebih dari 100 monumen bersejarah di negara tersebut.
Selama kunjungan, Marie Lavandier bersama delegasinya bekerja sama dengan InJourney Destination Management (IDM) dan Indonesian Heritage Agency (IHA).
Mereka akan melihat kebutuhan Museum Borobudur, mulai dari fasilitas pengunjung hingga cara informasi sejarah dan budaya disampaikan.
Dengan begitu, pengembangan museum nantinya tidak hanya berfokus pada bangunan atau koleksi. Cara pengunjung menikmati dan memahami Borobudur juga menjadi perhatian.
Museum Borobudur Bakal Dikembangkan, Apa Saja yang Dievaluasi?
Berwisata ke situs bersejarah memang menyenangkan. Pengunjung bisa saja menikmati keindahan Borobudur tanpa mengetahui cerita di balik relief, simbol, maupun nilai spiritual yang melekat pada situs tersebut.
Akan tetapi, mengagumi bangunan dan memahami sejarahnya, jelas membuat pengunjung mendapatkan dua manfaat.
Makanya, tim dari Prancis dan Indonesia akan mengevaluasi sejumlah aspek Museum Borobudur. Beberapa di antaranya adalah fasilitas pengunjung, program budaya, profil wisatawan, serta media yang digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai warisan budaya.
Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, mengatakan pengelolaan Borobudur selama ini berpedoman pada empat pilar, yakni konservasi, spiritual, edukasi, dan pariwisata.
βMelalui pengembangan Museum Borobudur, kami bertujuan untuk menciptakan pengalaman pengunjung yang lebih menarik dan bermakna, di mana pengunjung tidak hanya sekadar mengagumi monumen tersebut, tetapi juga dapat menggali kisah-kisahnya serta memahami makna budaya dan spiritualnya,β ujar Febrina dalam siaran pers pada 19 Oktober 2026.
Belajar dari Prancis, tetapi Tetap Menyesuaikan dengan Borobudur
Kerja sama dengan Prancis bukan tanpa alasan. Negara tersebut memiliki pengalaman panjang dalam mengelola berbagai monumen bersejarah melalui CMN.
Lembaga ini mengelola lebih dari 100 monumen, termasuk Arc de Triomphe, PanthΓ©on, dan Sainte-Chapelle. Selain merawat bangunan bersejarah, CMN juga mengembangkan program budaya dan cara penyampaian informasi agar warisan sejarah dapat diakses oleh masyarakat luas.
Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam pengembangan Museum Borobudur bersama IDM. Meski demikian, pendekatan yang diterapkan di Prancis tentu tidak bisa langsung disalin begitu saja.
Borobudur memiliki latar sejarah, budaya, dan spiritual yang khas. Oleh karena itu, pengembangan museum perlu menyesuaikan karakter situs, kebutuhan pengunjung, serta kondisi pariwisata di Indonesia.
Kolaborasi ini pun dirancang dengan memadukan keahlian CMN dan pengalaman IDM dalam mengelola destinasi warisan budaya. IHA turut dilibatkan untuk mendukung proses evaluasi dan pengembangan tersebut.
Hasil evaluasi nantinya akan digunakan untuk menyusun rekomendasi awal mengenai konsep museum. Pembahasannya mencakup konten yang akan disajikan, pengalaman pengunjung, serta hubungan antara museum dan kawasan Borobudur secara keseluruhan.
Dengan kata lain, museum diharapkan menjadi bagian yang terintegrasi dari perjalanan wisata. Pengunjung bisa memperoleh pengetahuan sebelum, selama, atau setelah menjelajahi situs, sesuai dengan konsep dan rute kunjungan yang nantinya dikembangkan.
Kerja Sama Indonesia-Prancis Sudah Dimulai Sejak 2025
Pengembangan Museum Borobudur merupakan bagian dari kerja sama kebudayaan yang telah dirintis kedua negara sejak tahun lalu.
Pada 29 Mei 2025, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengesahkan Deklarasi Borobudur tentang Strategi Kebudayaan Bersama. Deklarasi tersebut menempatkan museum dan warisan budaya sebagai salah satu prioritas kerja sama Indonesia-Prancis.
Komitmen itu kemudian diperkuat melalui Dialog Strategis Kebudayaan Prancis-Indonesia pertama di Paris pada Juli 2025. Kedua negara juga membentuk gugus tugas khusus yang melibatkan sejumlah lembaga kebudayaan Prancis.
Langkah selanjutnya dilakukan pada 22 April 2026. CMN dan InJourney Destination Management menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) di Paris. Penandatanganan tersebut disaksikan oleh Menteri Kebudayaan Indonesia Fadli Zon dan Menteri Kebudayaan Prancis Catherine PΓ©gard.
Melalui kesepakatan itu, pengembangan Museum Borobudur ditetapkan sebagai proyek unggulan awal dalam kerja sama pelestarian dan promosi warisan budaya kedua negara.
Meski begitu, proses pengembangannya masih membutuhkan sejumlah tahapan. Setelah evaluasi awal pada Oktober 2026, misi lanjutan dan sesi kerja direncanakan berlangsung pada 2027.
Tahap berikutnya akan digunakan untuk menyempurnakan program, merumuskan konsep museum, mengembangkan rute kunjungan, dan menentukan media interpretasi yang sesuai. Proses tersebut juga akan mendukung tahap perancangan arsitektur.
Museum yang Baik Bisa Membuat Wisata Budaya Lebih Bermakna
Pengembangan Museum Borobudur menjadi salah satu upaya untuk memperkaya pengalaman wisata budaya di Indonesia. Sebab, museum dapat menjadi ruang bagi pengunjung untuk mengenal sejarah secara lebih dekat.
Informasi yang disajikan dengan baik juga membantu menjelaskan mengapa suatu situs memiliki nilai penting, baik dari sisi sejarah, budaya, maupun spiritual.
Bagi wisatawan domestik dan mancanegara, pendekatan tersebut bisa memberikan pengalaman yang lebih lengkap. Mereka tidak hanya datang untuk menikmati keindahan Borobudur, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memahami warisan budaya yang ada di dalamnya.
Febrina Intan menegaskan bahwa upaya meningkatkan pengalaman wisatawan harus tetap memperhatikan kelestarian Borobudur.
βKami percaya bahwa peningkatan pengalaman pengunjung harus sejalan dengan pelestarian warisan budaya Borobudur, guna memastikan bahwa pengembangan pariwisata tetap berkelanjutan dan bermakna bagi generasi mendatang,β ujarnya.
Β


