rri yogyakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Suara yang Menolak Senyap: Jejak MAVRO dan RRI Yogyakarta Menembus Zaman

Suara yang Menolak Senyap: Jejak MAVRO dan RRI Yogyakarta Menembus Zaman
images info

RRI Yogyakarta di Jalan Ahmad Jazuli No. 4, Kotabaru. Gambar: Repro AI


Kawan GNFI, mari kita membayangkan sebuah kota yang belum mengenal internet, telepon pintar, dan televisi. Namun, di kota itu kita sudah bisa mendengar suara dari tempat yang jauh melalui udara.

Inilah kisah Kota Yogyakarta tempo dulu. Di Yogyakarta, kisah itu bermula sembilan dekade silam dan hari ini jejaknya masih dapat ditemukan di antara dinding bangunan tua RRI Yogyakarta di Jalan Ahmad Jazuli No. 4, Kotabaru.

Pada Februari 1934, Mataramsche Vereeniging voor Radio Omroep atau MAVRO resmi mengudara di Yogyakarta. Kehadirannya menjadi salah satu tonggak penting sejarah radio di kota ini, terlebih setelah mendapat dukungan finansial dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang turut membuat MAVRO berkembang.

Dari pendopo Ndalem Ngabean, suara MAVRO pernah mengudara pada 22 Februari 1934 dan bertahan hingga 1942. Pada masa itu, Kepatihan digunakan sebagai salah satu studio untuk siaran sore, sedangkan Ndalem Ngabean menjadi tempat siaran malam, menjadikan radio sebagai bagian baru dari denyut kehidupan masyarakat Yogyakarta.

baca juga

Namun, gelombang radio tidak pernah benar-benar steril dari pergolakan zaman. Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, MAVRO berada di bawah kendali radio Jepang, Hoso Kyoku, dan fungsi penyiaran pun masuk ke dalam sistem komunikasi pemerintahan pendudukan.

Tiga tahun kemudian, keadaan berubah bersama lahirnya Republik Indonesia. Setelah kemerdekaan, para pejuang mengambil alih stasiun radio peninggalan Hoso Kyoku dan pada 11 September 1945 radio-radio di berbagai daerah dilebur dalam Radio Republik Indonesia atau RRI. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir RRI dan diperingati sebagai Hari Radio Nasional.

Pada masa revolusi fisik, radio memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan. RRI berperan sebagai penghubung pemerintah dan rakyat, menghadapi propaganda Belanda, sekaligus menyampaikan kabar perjuangan Indonesia hingga ke dunia internasional.

Di tengah ketidakpastian zaman, suara dari studio menjadi salah satu cara republik menjaga hubungan dengan rakyatnya.

baca juga

Namun, ada satu bagian sejarah yang kerap luput ketika orang membicarakan gedung RRI Yogyakarta hari ini. Bangunan di Jalan Ahmad Jazuli No. 4 bukanlah bangunan tempat MAVRO pertama kali mengudara, melainkan memiliki riwayatnya sendiri yang tidak kalah menarik.

Bangunan tersebut didirikan sekitar 1919 sebagai rumah tinggal dr. Yap Hong Tjoen, ayah dr. Yap Kie Tiong yang kemudian dikenal sebagai pendiri Rumah Sakit Mata Dr. Yap.

Pada 1951, pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Penerangan membeli bangunan itu, sebelum sekitar 1958 menggunakannya sebagai tempat pemberitaan dan penyiaran RRI.

Sejak saat itu, rumah yang pernah menjadi kediaman keluarga dokter tersebut berubah menjadi ruang kerja para insan radio. Fungsi bangunannya berkembang mengikuti kebutuhan penyiaran, termasuk penambahan bagian di sisi timur untuk studio dan fasilitas pendukung, sementara karakter arsitektur utamanya tetap dipertahankan.

baca juga

Jika diperhatikan dari luar, bangunan ini menyimpan karakter arsitektur yang khas. Profil resmi Pemerintah Daerah DIY mencatat bahwa gedung tersebut memiliki gaya kubisme atau art deco, dengan bentuk geometris, atap datar, garis-garis vertikal pada fasad, serta detail pintu, jendela, ventilasi, dan kolom yang menjadi bagian dari identitas arsitekturnya.

Nilai sejarahnya kemudian mendapatkan perlindungan hukum. Gedung RRI Yogyakarta ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.89/PW.007/MKP/2011, kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 274/KEP/2019. Bangunan tersebut juga berada dalam Kawasan Cagar Budaya Kotabaru.

Menariknya, gedung ini tidak menjadi museum yang hanya menyimpan masa lalu. Ia tetap bekerja sebagai ruang penyiaran, sehingga warisan sejarahnya terus bersentuhan dengan aktivitas manusia dan teknologi yang berubah dari waktu ke waktu.

Di sinilah makna living heritage terasa: bangunan lama tetap hidup karena fungsi dan aktivitas di dalamnya terus berjalan.

baca juga

Sejarah RRI Yogyakarta pun tidak berhenti pada satu gedung. Kompleks RRI di Kotabaru, Ndalem Ngabean, dan Sasana Hinggil merupakan tiga situs yang pernah ditelusuri dalam kegiatan napak tilas sejarah radio Yogyakarta.

Ketiganya memperlihatkan bahwa perjalanan radio di kota ini tersebar dalam ruang-ruang yang berbeda, tetapi terhubung oleh satu benang merah: suara yang terus mengudara.

Kini, ketika informasi dapat berpindah dalam hitungan detik melalui layar, keberadaan RRI Yogyakarta menghadirkan pemandangan yang menarik.

Di balik fasad bangunan berusia lebih dari satu abad, aktivitas penyiaran tetap berlangsung dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi komunikasi.

baca juga

Menelusuri RRI Yogyakarta bukan sekadar berjalan di antara bangunan tua atau mengingat nama-nama dari masa lampau. Ini adalah perjalanan menyusuri bagaimana suara pernah menjadi teknologi baru, kemudian menjadi bagian dari perjuangan republik, dan akhirnya tumbuh menjadi warisan yang masih bekerja hingga hari ini.

MAVRO pernah membuka jalan pada 1934. RRI kemudian membawa suara itu melewati masa pendudukan, revolusi, perubahan politik, dan pergantian teknologi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.