Bayangkan kehilangan suami di medan perang. Dalam banyak kisah, kehilangan itu mungkin menjadi alasan untuk berhenti. Namun, di Aceh pada akhir abad ke-16, sebagian perempuan justru mengambil jalan berbeda.
Mereka menghimpun kekuatan, belajar menjadi prajurit, dan turun ke medan pertempuran. Mereka dikenal sebagai Inong Balee, pasukan perempuan yang dalam sejumlah sumber sejarah dikaitkan dengan para janda prajurit yang gugur dalam peperangan. Di balik pasukan tersebut berdiri sosok Keumalahayati, yang lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati.
Kompas.com mencatat bahwa Malahayati membentuk armada Inong Balee setelah suaminya, Laksamana Tuanku Mahmuddin, gugur dalam pertempuran. Pasukan itu kemudian terdiri dari para janda yang kehilangan suami di medan perang.
Ketika Kehilangan Berubah jadi Kekuatan
Nama Inong Balee sendiri memiliki makna yang sederhana. Dalam bahasa Aceh, inong berarti perempuan, sedangkan balee berarti janda. Namun, kisah mereka jauh lebih besar daripada sekadar asal-usul nama.
Pada masa Kesultanan Aceh, wilayah Selat Malaka merupakan jalur penting perdagangan dan pelayaran. Persaingan dengan kekuatan Eropa membuat kawasan tersebut menjadi arena konflik.
Malahayati berada dalam lingkungan militer Kesultanan Aceh. Setelah suaminya gugur, ia kemudian mengusulkan pembentukan pasukan yang beranggotakan para perempuan yang mengalami kehilangan serupa.
Kompas.com menulis bahwa Malahayati kemudian memimpin sekitar 2.000 anggota Inong Balee. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai simbol perlawanan, tetapi dilatih untuk menjadi prajurit. Dari sinilah kisah para janda Aceh berubah menjadi bagian dari sejarah militer Kesultanan Aceh.
Malahayati dan Benteng di Tepi Laut
Malahayati tidak sekadar mengumpulkan pasukan. Ia juga membangun basis pertahanan yang kemudian dikenal sebagai Benteng Inong Balee di kawasan Lamreh, Aceh Besar.
Letaknya strategis karena berdekatan dengan laut dan Teluk Krueng Raya. Benteng tersebut menjadi tempat berlindung sekaligus bagian dari sistem pertahanan pasukan perempuan tersebut.
Kompas.com menjelaskan bahwa Benteng Inong Balee dibangun pada 1599 dan juga digunakan sebagai tempat akomodasi serta pelatihan para janda yang menjadi prajurit. Kini, benteng itu tidak lagi berdiri utuh. Yang tersisa adalah bagian-bagian reruntuhan yang menjadi saksi keberadaan sebuah kelompok perempuan yang pernah mengambil peran militer pada zamannya.
ANTARA melaporkan bahwa kawasan Benteng Inong Balee di Lamreh kini juga menjadi lokasi wisata sejarah dan bahari. Dari tempat itu, kita bisa membayangkan bagaimana laut yang tampak tenang hari ini pernah menjadi jalur datang dan perginya kapal-kapal asing yang membawa kepentingan dagang sekaligus ancaman politik.
Ketika Inong Balee Berhadapan dengan Cornelis de Houtman
Salah satu episode paling terkenal dalam sejarah Malahayati terjadi pada 1599.
Saat itu, armada Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman berhadapan dengan pasukan Aceh. Pertempuran kemudian mempertemukan Malahayati dan de Houtman.
Kompas.com mencatat bahwa Cornelis de Houtman tewas dalam pertempuran di atas kapal setelah berhadapan dengan Malahayati pada 11 September 1599.
Peristiwa tersebut membuat nama Malahayati semakin dikenal. Ia bukan sekadar pemimpin pasukan perempuan, tetapi seorang laksamana yang terlibat langsung dalam pertahanan Kesultanan Aceh.
Menariknya, kisah tersebut juga memperlihatkan bahwa perempuan dalam sejarah Aceh tidak selalu berada di belakang medan perang. Mereka bisa menjadi bagian dari strategi, pertahanan, bahkan diplomasi.
Malahayati pernah memimpin perundingan dengan pihak Belanda dan berperan dalam hubungan diplomatik Kesultanan Aceh, disebut dalam Kompas.com.
Jadi, kekuatan Inong Balee tidak semata-mata terletak pada senjata. Ada kepemimpinan, organisasi, keberanian, dan kemampuan membaca situasi politik di baliknya.
Warisan Inong Balee: Ketika Sejarah Tidak Hanya Ditulis oleh Laki-Laki
Kisah Inong Balee penting bukan hanya karena mereka mengangkat senjata. Yang lebih menarik adalah bagaimana sejarah tersebut menunjukkan bahwa perempuan Aceh telah memiliki ruang dalam kehidupan militer dan politik sejak berabad-abad lalu.
Dalam kajiannya, Tirto.id menyebut Inong Balee sebagai salah satu ikon perlawanan perempuan Aceh. Istilah tersebut kemudian memiliki makna yang lebih luas dalam historiografi perempuan Aceh. Karena itu, Malahayati dan Inong Balee dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah panjang keterlibatan perempuan Aceh dalam menghadapi konflik.
Pada 2017, Malahayati resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Namanya kemudian digunakan untuk berbagai tempat dan fasilitas, termasuk Pelabuhan Malahayati di Aceh dan sejumlah institusi di Indonesia. Namun, warisan terbesar Inong Balee mungkin bukan nama yang terukir di jalan atau bangunan. Warisan itu adalah gagasan bahwa kehilangan tidak selalu harus berakhir sebagai kelemahan.
Apa yang Bisa Dipelajari Hari Ini?
Tentu, konteks kehidupan abad ke-16 tidak bisa disamakan begitu saja dengan kehidupan perempuan Indonesia sekarang.
Hari ini, perjuangan perempuan tidak harus dilakukan dengan mengangkat senjata. Semangat Inong Balee justru bisa dibaca melalui bentuk yang lebih dekat: keberanian untuk mengambil peran, membangun kemandirian, memperoleh pendidikan, bekerja, memimpin, dan menentukan masa depan sendiri.
Kisah mereka juga mengingatkan bahwa sejarah Indonesia memiliki banyak cerita perempuan yang tidak berhenti pada peran sebagai korban konflik. Ada perempuan yang menjadi pemimpin, pengambil keputusan, pejuang, dan bagian penting dari perubahan sejarah. Mungkin itu sebabnya kisah Inong Balee masih layak diceritakan.
Sebab di balik nama yang berarti janda, tersimpan cerita tentang perempuan-perempuan yang memilih untuk tidak membiarkan kehilangan menjadi akhir perjalanan. Dan mungkin, di situlah keberanian mereka sebenarnya bermula.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


