mohammad tabrani dan soegondo djojopuspito dua pemimpin perintis persatuan - News | Good News From Indonesia 2026

Mohammad Tabrani dan Soegondo Djojopuspito, Dua Pemimpin Perintis Persatuan

Mohammad Tabrani dan Soegondo Djojopuspito, Dua Pemimpin Perintis Persatuan
images info

Mohammad Tabrani dan Soegondo Djojopuspito, Dua Pemimpin Perintis Persatuan | Wkimedia Commons | Unknown


Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober tidak terlepas dari perjuangan para pemuda yang berupaya menyatukan bangsa Indonesia. Namun, sebelum ikrar Sumpah Pemuda lahir pada 1928, gagasan persatuan telah dibicarakan dalam Kongres Pemuda I pada 1926.

Dua tokoh yang memiliki peran penting dalam peristiwa tersebut adalah Mohammad Tabrani dan Soegondo Djojopuspito. Keduanya memimpin kongres pada masa yang berbeda, tetapi sama-sama berperan dalam memperkuat persatuan di kalangan pemuda Indonesia.

Mohammad Tabrani dan Gagasan Persatuan yang Mulai Dirintis pada 1926

Mohammad Tabrani | Wikimedia Commons | Sudarjo Tjokrosisworo
info gambar

Mohammad Tabrani | Wikimedia Commons | Sudarjo Tjokrosisworo


Mohammad Tabrani Soerjowitjitro lahir di Pamekasan, Madura, pada 10 Oktober 1904. Ia menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah pada masa kolonial.

Ketertarikannya terhadap dunia pergerakan mulai berkembang ketika bergabung dengan Jong Java. Melalui organisasi tersebut, Tabrani mengenal berbagai gagasan kebangsaan yang mendorongnya untuk memperjuangkan persatuan antarpemuda dari berbagai daerah.

baca juga

Selain aktif berorganisasi, Tabrani juga berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Pada 1925, ia bergabung dengan surat kabar Hindia Baroe dan memanfaatkan media cetak untuk menyampaikan pemikirannya mengenai kebangsaan.

Salah satu gagasannya yang terkenal adalah penggunaan nama bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pemikiran tersebut pernah ia sampaikan melalui tulisan berjudul Bahasa Indonesia yang terbit di Hindia Baroe pada 11 Februari 1926.

Gagasan itu kembali dibahas ketika Tabrani memimpin Kongres Pemuda I yang berlangsung pada 30 Aprilโ€“2 Mei 1926 di Batavia.

Dalam kongres tersebut, Muhammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Sementara itu, Tabrani berpendapat bahwa bahasa tersebut sebaiknya disebut bahasa Indonesia agar sesuai dengan identitas bangsa yang sedang diperjuangkan.

Perbedaan pendapat ini tidak berarti keduanya menolak persatuan. Mereka memiliki pandangan berbeda mengenai penamaan bahasa yang akan digunakan sebagai identitas bersama.

Meski belum menghasilkan keputusan mengenai bahasa persatuan, Kongres Pemuda I menjadi langkah penting dalam mempererat hubungan berbagai organisasi pemuda. Melalui kepemimpinannya, Tabrani turut mendorong pembahasan mengenai identitas kebangsaan yang kemudian berkembang dalam Kongres Pemuda II.

Soegondo Djojopuspito, Pemimpin Kongres yang Melahirkan Sumpah Pemuda

Soegondo Djojopuspito | Wikimedia Commons | Zijlstra, J.
info gambar

Soegondo Djojopuspito | Wikimedia Commons | Zijlstra, J.


Dua tahun setelah Kongres Pemuda I, upaya memperkuat persatuan kembali dilanjutkan melalui Kongres Pemuda II yang dipimpin Soegondo Djojopuspito.

Soegondo lahir di Tuban, Jawa Timur, pada 22 Februari 1905. Ia menempuh pendidikan di HIS, MULO, dan Algemeene Middelbare School (AMS). Semasa muda, ia mengenal lingkungan pergerakan nasional, termasuk melalui pergaulannya dengan tokoh-tokoh seperti H.O.S. Tjokroaminoto.

Keterlibatannya dalam organisasi semakin berkembang ketika bergabung dengan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Organisasi pelajar yang berdiri pada 1926 ini memiliki tujuan memperkuat persatuan pemuda tanpa membedakan asal daerah.

PPPI kemudian menjadi salah satu penggerak utama penyelenggaraan Kongres Pemuda II. Sebelum kongres berlangsung, para pemuda mengadakan sejumlah pertemuan untuk membahas kepanitiaan, agenda, lokasi, hingga pembiayaan kegiatan.

Dalam proses tersebut, Soegondo dipercaya menjadi ketua kongres, didampingi Muhammad Yamin sebagai sekretaris serta sejumlah perwakilan organisasi pemuda lainnya.

Kongres Pemuda II berlangsung pada 27โ€“28 Oktober 1928 melalui tiga rapat di lokasi berbeda di Batavia. Pembahasannya mencakup persatuan bangsa, pendidikan, serta peran gerakan kepanduan dalam membentuk karakter pemuda.

Sebagai ketua, Soegondo memimpin jalannya kongres dan mengajak para peserta memperkuat semangat persatuan. Pada akhir pertemuan, ia membacakan keputusan kongres yang dirumuskan oleh Muhammad Yamin.

Keputusan tersebut kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda, yang menegaskan pengakuan terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan, yakni Indonesia.

Lahirnya Sumpah Pemuda merupakan hasil kerja sama berbagai organisasi dan tokoh pemuda. Soegondo berperan dalam memimpin kongres, sementara penyusunan keputusan dan penyelenggaraannya melibatkan banyak pihak.

Melihat Kehidupan Mohammad Tabrani dan Soegondo usai Peristiwa Kongres Pemuda

Setelah Kongres Pemuda I, Tabrani melanjutkan pendidikannya ke Eropa pada 1927 untuk mempelajari jurnalistik. Sepulangnya ke Indonesia, ia aktif menjadi kepala redaksi dari surat kabar Pemandangan Selama periode 1936-1940 dan 1951-1952.

Ia juga memberikan perhatian terhadap pendidikan dengan terlibat dalam pengelolaan sekolah dan pendirian Institut Jurnalistik dan Pengetahuan Umum. Tabrani meninggal dunia pada 12 Januari 1984 di Jakarta. Atas jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada 2023.

Sementara itu, Soegondo melanjutkan pengabdiannya melalui bidang pendidikan, jurnalistik, dan politik. Bersama istrinya, Suwarsih Djojopuspito, ia pernah mendirikan sekolah Loka Siswa di Bogor.

Soegondo juga pernah menjabat sebagai Direktur Kantor Berita Antara pada 1941 dan Menteri Pembangunan Masyarakat dalam Kabinet Halim pada 1950. Ia meninggal dunia pada 23 April 1978 di Yogyakarta.

Persatuan yang Lahir dari Kongres Pemuda I ke II

Kongres Pemuda I dan II memperlihatkan bahwa persatuan bangsa Indonesia terbentuk melalui proses yang melibatkan banyak pemikiran dan kerja sama antar kelompok.

Mohammad Tabrani turut memperjuangkan gagasan persatuan dan penggunaan nama bahasa Indonesia pada Kongres Pemuda I. Sementara itu, Soegondo Djojopuspito memimpin Kongres Pemuda II yang menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda.

Kisah keduanya menjadi pengingat bahwa persatuan yang diperingati setiap 28 Oktober merupakan hasil perjuangan bersama para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.

baca juga

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.