Teqball menjadi salah satu cabang olahraga unik yang mulai menyita perhatian dunia karena pemain menggunakan bola sepak, tetapi harus mengolahnya di atas meja yang bentuknya melengkung. Olahraga yang terdengar sebagai perpaduan sepak bola dan tenis meja ini mulai sering dijumpai dalam berbagai kompetisi internasional.
Permainan ini digambarkan secara sederhana melalui penggunaan bola sepak di atas meja melengkung, di mana setiap pemain mengontrol bola menggunakan bagian tubuh selain tangan dan lengan. Teqball diperkenalkan sebagai bentuk inovasi yang menggabungkan unsur sepak bola dengan permainan di atas meja.
Konteks aktual menunjukkan bahwa teqball semakin berkembang pesat di Asia dan telah ditetapkan sebagai bagian dari program resmi Asian Games. Berbagai aspek penting seperti asal-usul, cara bermain, regulasi, hingga prestasi Indonesia di kancah global akan dibahas secara mendalam.
Dari Hungaria, Lahir Permainan dengan Meja yang Tak Biasa
Teqball dikembangkan di Hungaria dan mulai diciptakan pada 2012 oleh trio pencipta asal Hungaria. Olahraga ini menggabungkan unsur sepak bola dengan permainan di atas meja secara inovatif.
Federasi Teqball Internasional (FITEQ) kemudian didirikan pada 2017 sebagai badan resmi yang mengatur seluruh regulasi olahraga tersebut. Penting untuk dibedakan antara teqball sebagai cabang olahraga dengan merek atau perusahaan yang memproduksi meja serta perlengkapannya.
Bentuk meja yang melengkung dirancang secara khusus agar bola selalu memantul ke arah luar menuju pemain. Berdasarkan catatan FITEQ, teqball dikembangkan di Hungaria pada 2012 dan dimainkan menggunakan meja khusus dengan permukaan melengkung.
Sepak Bola di Atas Meja, Begini Cara Teqball Dimainkan
Format dasar permainan teqball dibagi menjadi kategori tunggal yang dimainkan dua orang dan kategori ganda yang dimainkan empat orang. Bola sepak resmi dengan ukuran 5 direkomendasikan untuk digunakan dalam pertandingan.
Tujuan utama permainan ini adalah mengembalikan bola melewati net di atas meja agar lawan gagal mengembalikannya sesuai aturan. Seluruh pemain dilarang menggunakan tangan dan lengan untuk menyentuh bola.
Setiap tim diberikan batas maksimal tiga sentuhan sebelum bola wajib dikembalikan ke area lawan. Kepala, dada, paha, kaki, serta bagian tubuh lain yang diizinkan dapat dimanfaatkan oleh para pemain.
Dalam kategori ganda, kewajiban melakukan operan antarpemain dalam satu rangkaian maksimal tiga sentuhan harus dipatuhi. Karakteristik teqball ditegaskan bukan sekadar sepak bola meja biasa, melainkan olahraga dengan teknik tersendiri akibat bentuk meja dan aturan kontaknya.
Tiga Sentuhan, 12 Poin, dan Aturan yang Membuatnya Berbeda
Regulasi kompetitif teqball disusun secara jelas dengan merujuk pada aturan resmi FITEQ. Pertandingan dilangsungkan menggunakan format best of three sets.
Sebuah set dinyatakan dimenangkan oleh pemain atau tim yang berhasil mencapai 12 poin terlebih dahulu. Aturan servis mewajibkan pemain menggunakan kaki agar bola mendarat di sisi meja lawan.
Sejumlah larangan ketat diterapkan selama pertandingan berlangsung. Pemain dilarang menyentuh bola dengan bagian tubuh yang sama dua kali berturut-turut serta dilarang mengembalikan bola menggunakan bagian tubuh yang sama secara beruntun.
Tim ganda diwajibkan melakukan setidaknya satu kali operan kepada rekan setim sebelum bola dikembalikan ke area lawan. Kontak fisik berupa sentuhan terhadap meja atau pemain lawan juga tidak diperbolehkan selama reli.
Lebih dari Sekadar Variasi Sepak Bola
Berbagai keterampilan khusus dibutuhkan untuk menguasai teqball, meliputi kontrol bola, koordinasi, keseimbangan, konsentrasi, timing, serta kemampuan membaca arah bola. Keterampilan sepak bola dapat menjadi modal awal, tetapi pemain tetap harus beradaptasi dengan bentuk meja khusus.
Kemiripan teqball dengan olahraga seperti sepak takraw dapat ditemukan pada penggunaan kaki serta teknik akrobatik. Meskipun demikian, regulasi, peralatan, dan bentuk arena yang digunakan memiliki perbedaan yang mendasar.
Fokus utama teqball terletak pada karakternya sebagai cabang olahraga mandiri yang punya daya tarik tersendiri. Aspek teknik dan koordinasi tubuh menjadi penentu utama dalam perkembangan prestasi para atlet.
Teqball Mulai Menemukan Panggungnya di Indonesia
Perkembangan teqball di tanah air dinaungi secara resmi oleh Persatuan Olahraga Teqball Seluruh Indonesia (POTSI). Organisasi ini terus memperluas pembinaan mulai dari tingkat sekolah hingga universitas di berbagai provinsi.
Kelembagaan POTSI tercatat telah menjadi anggota resmi KONI Pusat. Berbagai kompetisi domestik seperti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) turut diselenggarakan secara berkala untuk menjaring bibit atlet potensial.
Proses pembinaan dan pemasalan olahraga ini dilakukan secara bertahap melalui kompetisi domestik yang terstruktur. Indonesia terus menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kualitas pembinaan atlet teqball nasional.
Dari SEA Games hingga Asian Games, Atlet Indonesia Mulai Diperhitungkan
Prestasi membanggakan dicatatkan oleh kontingen Indonesia dalam ajang SEA Games. FITEQ mencatat bahwa Indonesia sukses membawa pulang lima medali dari keikutsertaan di berbagai nomor pertandingan.
Medali perak diraih oleh Yoga Ardika Putra pada nomor tunggal putra dan Zikhra Dwi Putri pada nomor tunggal putri. Nomor ganda putra juga menyumbangkan medali perak melalui pasangan Husni Uba dan Mardan Laode Ardin.
Perkembangan prestasi atlet Indonesia berlanjut melalui keikutsertaan dalam ajang internasional seperti Teqball World Series. Ajang multi-event seperti Asian Games juga menjadi panggung penting bagi atlet nasional untuk bersaing di tingkat kontinental.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


