Maulana Rifky Yavianda mengawali perjuangan Indonesia di Asian Para Games 2026 dengan prestasi membanggakan. Atlet para renang asal Magetan, Jawa Timur, ini berhasil menyumbangkan medali emas pertama bagi Indonesia melalui nomor 100 meter gaya bebas putra klasifikasi S12 pada Senin (19/10/2026) di Nagoya City General Gymnasium, Nagoya, Jepang.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti kerja keras Rifky dalam menekuni olahraga renang hingga mampu bersaing di tingkat Asia. Perjalanannya juga menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti berkembang, berkarya, dan meraih prestasi.
Perjalanan Maulana Rifky Yavianda Menekuni Olahraga Renang
Kecintaan Maulana Rifky Yavianda terhadap olahraga renang tumbuh sejak usia empat tahun. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan kolam renang hingga akhirnya menjadikan olahraga tersebut sebagai bagian penting dalam kehidupannya.
Seiring berjalannya waktu, renang tidak lagi sekadar menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi Rifky. Ia terus mengasah kemampuannya melalui latihan dan berbagai kompetisi hingga berhasil menjadi salah satu perenang andalan Indonesia di cabang olahraga para renang.
Perjalanan Rifky membawanya tampil di berbagai ajang internasional. Salah satu pencapaian pentingnya adalah saat mengikuti Asian Para Games 2022 di Hangzhou, China. Dalam kompetisi tersebut, ia berhasil meraih dua medali emas dan satu perak.
Hasil tersebut menjadi bekal berharga bagi Rifky untuk kembali bersaing di Asian Para Games 2026. Meski datang dengan status juara bertahan, ia tidak ingin menjadikan prestasi sebelumnya sebagai beban. Sebaliknya, Rifky memilih untuk menikmati setiap perlombaan dan berusaha memberikan penampilan terbaik.
Menjelang pertandingan di Nagoya, Jepang, Rifky juga memiliki target pribadi untuk memperbaiki catatan waktunya. Pada nomor 100 meter gaya bebas S12, ia sebelumnya mencatatkan waktu 55,53 detik di Asian Para Games 2022. Kali ini, ia berharap dapat menembus waktu 53 detik.
Namun, Rifky tetap berusaha realistis dan menyesuaikan target dengan perkembangan latihannya. Ia memilih fokus mengikuti arahan pelatih daripada terlalu memikirkan kekuatan lawan atau hasil akhir perlombaan.
Persiapan yang matang, pengalaman bertanding, dan kecintaannya terhadap renang menjadi bagian penting dalam perjalanan Rifky. Ia membuktikan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan kedisiplinan dan kemauan untuk terus berkembang.
Sederet Prestasi Maulana Rifky Yavianda di Asian Para Games 2026

Maulana Rifky Yavianda (tengah) di Asian Para Games 2026, Nagoya, Jepang, Senin (19/10/2026). | Foto: (Agung Wahyudi | NPC Indonesia)
Perjuangan Rifky di Asian Para Games 2026 membuahkan hasil sejak hari pertama perebutan medali. Ia berhasil mempersembahkan emas pertama untuk Indonesia setelah finis terdepan dengan catatan waktu 55,34 detik pada nomor 100 meter gaya bebas putra klasifikasi S12, Senin (19/10/2026). Kemenangan tersebut menjadi awal positif bagi kontingen Indonesia dalam ajang olahraga disabilitas tingkat Asia itu.
Sehari setelahnya, Rifky kembali menyumbangkan medali emas melalui nomor 100 meter gaya punggung putra klasifikasi S12. Dalam perlombaan yang berlangsung di Nagoya City General Gymnasium, Jepang, pada Selasa (20/10/2026), ia mencatatkan waktu 1 menit 3,07 detik.
Catatan tersebut mengantarkannya mengungguli perenang Jepang, Genki Saito, yang finis dengan waktu 1 menit 3,76 detik. Rifky juga berhasil memecahkan rekor Asia pada nomor tersebut dengan melampaui catatan sebelumnya, yakni 1 menit 3,55 detik, yang dibuatnya di Asian Para Games 2022 di Hangzhou.
Di balik pencapaian tersebut, Rifky mengungkapkan bahwa keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan terbesarnya. Ia mengaku semakin merindukan istri, anak, dan keluarganya selama berada di Jepang. Meski hanya bisa berkomunikasi melalui panggilan video, dukungan mereka menjadi penyemangat untuk terus bertanding.
Dua medali emas yang diraih Rifky menunjukkan hasil dari latihan, ketekunan, dan dukungan orang-orang terdekat. Kisahnya menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah atau berhenti berkarya.
Dengan tekad dan usaha yang konsisten, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dan mengukir prestasi, termasuk membawa nama Indonesia ke panggung internasional.


