Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, tengah berlangsung. Sejak dibuka pada 19 September, ribuan atlet dari berbagai negara Asia kembali bersaing dalam pesta olahraga terbesar di benua tersebut. Indonesia pun ikut ambil bagian dengan mengirimkan 432 atlet yang bertanding di 35 cabang olahraga.
Berlangsungnya Asian Games tahun ini tentu mengingatkan kembali pada perjalanan Indonesia di ajang yang sama. Salah satu yang paling berkesan adalah Asian Games 2018, ketika Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menjadi tuan rumah. Jakarta dan Palembang menjadi dua kota yang dipercaya menyelenggarakan Asian Games XVIII pada 18 Agustus hingga 2 September 2018.
Asian Games 2018 menjadi momen penting bagi Indonesia. Setelah terakhir menjadi tuan rumah pada 1962, Indonesia kembali mendapatkan kesempatan menyambut atlet dan ofisial dari berbagai negara Asia.
Penyelenggaraannya juga menjadi yang pertama dalam sejarah Asian Games yang berlangsung di dua kota. Sebanyak 45 negara berpartisipasi dalam 40 cabang olahraga dengan 465 nomor pertandingan.
Namun, yang membuat Asian Games 2018 begitu dikenang bukan hanya pertandingan olahraga. Indonesia juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menunjukkan budaya, pembangunan, dan kemampuan menyelenggarakan ajang olahraga berskala internasional.
Membawa Budaya Indonesia ke Panggung Asia
Upacara pembukaan di Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi salah satu bagian yang paling banyak dikenang dari Asian Games 2018.
Konsep pembukaannya tidak hanya menampilkan unsur olahraga, tetapi juga membawa kekayaan budaya Indonesia ke hadapan para tamu dari berbagai negara.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah tarian yang terinspirasi dari Tari Ratoh Jaroe. Sekitar 1.600 penari perempuan dari kalangan pelajar tampil secara serempak di hadapan puluhan ribu penonton di GBK. Penampilan tersebut menjadi salah satu cara Indonesia memperkenalkan budaya tradisional dalam kemasan pertunjukan yang besar dan modern.
Pembukaan Asian Games 2018 juga menampilkan beragam tarian dan lagu dari berbagai daerah. Panggung yang dibuat menyerupai lanskap pegunungan Indonesia semakin memperkuat tema kebudayaan dalam acara tersebut.
Selain itu, lagu โMeraih Bintangโ yang dinyanyikan Via Vallen juga menjadi salah satu identitas Asian Games 2018. Lagu tersebut bukan hanya digunakan sebagai lagu resmi, tetapi ikut melekat dengan suasana pertandingan selama perhelatan berlangsung.
Dari pembukaan tersebut, terlihat bahwa Asian Games 2018 menjadi salah satu kesempatan Indonesia untuk memperkenalkan keberagaman budaya kepada masyarakat internasional.
Olahraga menjadi pintu masuk, sementara budaya menjadi salah satu hal yang ikut diperkenalkan.
Bhin Bhin, Atung, dan Kaka, Wajah Asian Games 2018
Identitas Indonesia dalam Asian Games 2018 juga terlihat melalui tiga maskotnya, yaitu Bhin Bhin yang terinspirasi dari burung Cenderawasih, Atung dari rusa Bawean, dan Kaka dari badak bercula satu. Ketiganya dipilih untuk merepresentasikan kekayaan fauna Indonesia sekaligus wilayah Indonesia bagian timur, tengah, dan barat.
Nama ketiganya juga membentuk semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Bhin Bhin berasal dari โBhinnekaโ, Atung dari โTunggalโ, dan Kaka dari โIkaโ. Unsur budaya juga ditampilkan melalui pakaian yang dikenakan masing-masing maskot, dengan motif Asmat pada Bhin Bhin, batik parang pada Atung, dan songket pada Kaka.
Dengan begitu, maskot Asian Games 2018 bukan hanya menjadi identitas visual pertandingan, tetapi juga menjadi salah satu cara Indonesia memperkenalkan keberagaman fauna dan budaya nusantara kepada masyarakat Asia.
Asian Games dan Infrastruktur Baru
Penyelenggaraan Asian Games juga membutuhkan kesiapan infrastruktur. Kedatangan ribuan atlet, ofisial, dan pengunjung membuat transportasi menjadi salah satu hal yang perlu dipersiapkan dengan baik.
Di Palembang, salah satu pembangunan yang paling berkaitan dengan Asian Games 2018 adalah Light Rail Transit (LRT) Sumatera Selatan. Moda transportasi ini dibangun untuk menghubungkan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan kawasan Jakabaring Sport City, salah satu pusat penyelenggaraan Asian Games di Palembang.
LRT Palembang mulai beroperasi menjelang Asian Games 2018 dan digunakan untuk mendukung mobilitas peserta maupun pengunjung. Bappenas mencatat bahwa selama Asian Games berlangsung, jumlah penumpang LRT Palembang mencapai 197.783 orang, termasuk 10.319 atlet dan ofisial.
Setelah Asian Games berakhir, LRT tersebut tetap digunakan sebagai bagian dari sistem transportasi masyarakat Palembang. Hal ini membuat pembangunan yang awalnya berkaitan erat dengan kebutuhan penyelenggaraan Asian Games memiliki manfaat yang berlanjut setelah acara selesai.
Sementara itu, Jakarta juga sedang berada dalam periode pembangunan transportasi besar-besaran. Salah satunya adalah proyek MRT Jakarta. Namun, MRT belum beroperasi ketika Asian Games 2018 berlangsung. Fase pertama MRT Jakarta baru diresmikan pada Maret 2019 dan diberlakukan satu bulan setelahnya.
Karena itu, MRT tidak dapat disebut sebagai fasilitas yang digunakan untuk Asian Games 2018. Meski demikian, pembangunan MRT berlangsung pada periode yang sama ketika Jakarta mempersiapkan diri sebagai tuan rumah. Asian Games menjadi salah satu momentum yang membuat berbagai pembangunan dan penataan kota mendapat perhatian lebih besar.
Bukan Hanya Sukses menjadi Tuan Rumah
Jika Asian Games 2018 hanya dikenang dari sisi penyelenggaraan, rasanya belum lengkap. Di arena pertandingan, atlet Indonesia juga memberikan pencapaian yang sangat menonjol.
Kontingen Indonesia berhasil mengumpulkan 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Dengan total 98 medali, Indonesia menempati posisi keempat klasemen akhir di bawah China, Jepang, dan Korea Selatan.
Perolehan 31 emas tersebut menjadi catatan penting dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di Asian Games. Jumlah itu menjadi perolehan emas terbanyak Indonesia dalam satu edisi Asian Games hingga saat ini.
Pencak silat menjadi salah satu cabang olahraga yang memberikan kontribusi besar dengan 14 medali emas. Prestasi juga datang dari berbagai cabang lain, termasuk bulu tangkis, panjat tebing, paralayang, dan balap sepeda.
Capaian tersebut membuat keberhasilan Indonesia sebagai tuan rumah semakin lengkap. Indonesia tidak hanya mampu menyelenggarakan kompetisi olahraga tingkat Asia, tetapi juga menunjukkan prestasi melalui para atletnya sendiri.
Asian Games 2018 memang telah berlalu delapan tahun. Namun, sejumlah peninggalannya masih dapat ditemukan hingga sekarang. LRT Palembang tetap beroperasi dan menjadi salah satu pilihan transportasi masyarakat.
Kawasan Jakabaring Sport City juga masih menjadi salah satu kompleks olahraga penting di Palembang. Di Jakarta, kawasan Gelora Bung Karno tetap digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga dan acara berskala besar, sementara MRT Jakarta kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat ibu kota.
Di luar pembangunan fisik, Asian Games 2018 juga meninggalkan kenangan yang cukup kuat. Tari Saman dalam pembukaan, โMeraih Bintangโ, kemeriahan pertandingan, hingga 31 medali emas menjadi bagian dari memori masyarakat Indonesia tentang penyelenggaraan tersebut.
Kini, ketika Asian Games kembali digelar di Aichi-Nagoya, Indonesia kembali berada di posisi sebagai peserta. Ceritanya memang berbeda dengan 2018. Tidak ada status sebagai tuan rumah dan tidak ada panggung pembukaan yang harus dipersiapkan untuk menyambut seluruh Asia.
Namun, Asian Games 2026 menjadi kesempatan untuk kembali melihat perjalanan Indonesia di ajang tersebut. Delapan tahun setelah Jakarta dan Palembang menjadi tuan rumah, Asian Games 2018 masih menjadi salah satu edisi yang meninggalkan jejak cukup panjang bagi Indonesia.
Bukan hanya karena 31 medali emas yang berhasil diraih, tetapi juga karena pada saat itu Indonesia mendapat kesempatan untuk memperlihatkan budaya, membangun fasilitas, dan menunjukkan kemampuannya menyelenggarakan salah satu ajang olahraga terbesar di Asia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


