Terhitung sudah satu bulan sejak bencana gempa bumi melanda bumi Flores, Nusa Tenggara Timur. Dari gempa berkekuatan 7,8 magnitudo itu membawa dampak besar bagi kehidupan warga setempat di mana banyak bangunan rumah hingga fasilitas umum porak poranda, korban tewas ratusan jiwa hingga luka-luka mencapai ribuan.
Bantuan demi bantuan pun berdatangan dari sejumlah pihak tidak terkecuali organisasi kemanusiaan Kristen, Wahana Visi Indonesia (WVI). Demi memberi pertolongan terhadap korban dampak gempa, tim respons WVI telah melakukan pendampingan di wilayah Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, dan Ende.
Selama satu bulan di sana tim WVI menjangkau lebih dari 13.400 anak dan 8.200 dewasa melalui berbagai upaya, mulai dari distribusi 374.800 liter air bersih dan 24 tandon untuk memenuhi kebutuhan dasar. Selain itu, pendistribusian 1.100 paket bantuan non pangan (hygiene kit dan paket tenda/terpal keluarga), menghadirkan dukungan psikososial untuk anak di 65 titik, hingga pembukaan dapur PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak)/Balita yang hadir di 21 titik turut dilakukan secara berkala.

Ruang Ramah Anak dibuka WVI demi menghibur anak-anak korban bencana gempa Flores yang sebagian besar kehilangan tempat tinggal. (Foto: WVI)
“Selama satu bulan respons tanggap bencana kami lakukan, kami menyaksikan langsung bagaimana bencana ini melumpuhkan kehidupan anak dan masyarakat di Flores. WVI sebagai organisasi kemanusiaan yang berkomitmen pada anak-anak akan senantiasa mendampingi enam kabupaten dampingan kami hingga November 2026. Saat ini, mayoritas masyarakat kehilangan tempat tinggalnya dan masih berada di tempat pengungsian yang jauh dari kata layak. Masyarakat juga belum bisa beraktivitas seperti sedia kala karena masih dalam kondisi trauma dan waspada terhadap terjadinya gempa susulan," ujar Yacobus Runtuwene, Technical Sectors Director WVI.
Aktivasi Ruang Ramah Anak sudah menjangkau lebih dari 5.500 anak di mana anak-anak terdampak bencana mendapat pemulihan psikis melalui aktivitas bermain, belajar, dan pendampingan agar semangat mereka tetap terjaga. Di samping itu, sebanyak hampir 2.000 anak sudah menerima paket makanan dari Dapur PMBA untuk mengurangi risiko kurang gizi. WVI sendiri menargetkan jangkauan bantuan mencapai angka 25 ribu korban, yang 12 ribu di antaranya ialah anak-anak.

Bantuan air bersih dilakukan tim Emergency Response WVI untuk korban bencana gempa Flores. (Foto: WVI)
“Rasa cemas dan takut masih menyelimuti saya, keluarga, dan teman-teman saya. Saya bersyukur kalau rumah saya tidak rusak, namun kondisi teman-temanku yang lain tidak seberuntung itu. Mereka menyaksikan bagaimana rumah mereka runtuh dalam sekejap dan harus mengungsi di tempat yang lebih aman. Selain kerusakan bangunan, kami juga kekurangan air bersih karena penyaluran air melalui pipa terputus akibat goncangan gempa. Banyak teman saya yang berangkat dari keluarga petani juga kekurangan stok makanan atau hasil pangan karena belum bisa aktivitas berat, masih harus waspada terhadap gempa susulan. Kami juga membutuhkan pendampingan psikosial untuk membantu teman-teman yang mengalami trauma berat setelah melewati gempa," kata Andini, salah satu anak penyintas dari Nagekeo.
WVI sejauh ini bersinergi bersama pemerintah dan berbagai lembaga kemanusiaan yang terlibat untuk senantiasa membantu masyarakat yang terdampak. Kerja sama ini diperlukan untuk langkah-langkah strategis dalam dukungan untuk meringankan beban para penyintas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


