Survei terbaru Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperlihatkan banyak warga sedang tidak baik-baik saja. Sebanyak 75% responden mengaku stres karena kebijakan pemerintah, sedangkan 67% merasakan hal serupa terhadap perilaku Presiden. Lantas, gimana cara menjaga kesehatan mental di tengah tekanan ini?
Stres Kebijakan Pemerintah Dirasakan Banyak Orang
Temuan itu tertuang dalam laporan βRapor Kinerja 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibranβ yang terbit pada Oktober 2026. CELIOS menyurvei 1.142 responden masyarakat umum dari berbagai provinsi pada 15 September hingga 9 Oktober 2026. Dari 129 ahli yang disurvei terpisah, 83% sangat khawatir dengan gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Presiden.
Survei yang sama juga memotret tekanan ekonomi. Sebanyak 82% responden menilai pungutan pajak pemerintah terlalu berat, dan 53% mengaku ekonomi rumah tangganya memburuk dibanding setahun lalu.
Soal harga dan pekerjaan juga mencuat, 78% menyebut harga kebutuhan pokok jadi masalah mendesak. Sementara 62% menilai upaya pemerintah menekan pengangguran dan membuka lapangan kerja sangat buruk. Kabinet Merah Putih pun cuma dapat nilai rata-rata 4,7 dari 10.

Survei ini mengukur pengakuan responden soal rasa stres, bukan diagnosis klinis. Sampelnya tidak dipilih acak, sehingga hasilnya baru menggambarkan responden, bukan seluruh penduduk Indonesia.
Bagaimana Cara Mengatasi Kecemasan Finansial?
Psikolog Nadianissa Rizkima, M.Psi., yang menekuni Psikologi Perkembangan dan Pendidikan Anak, khususnya terkait Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan kesiapan sekolah anak, menjelaskan bahwa stres adalah respons wajar saat seseorang menghadapi tuntutan yang terasa melebihi kemampuannya.
βStres tidak langsung berarti seseorang punya gangguan psikologis. Itu respons normal tubuh saat menghadapi situasi yang kita anggap melebihi kemampuan kita,β tutur Nadia.
Langkah pertama untuk meredam kecemasan finansial adalah menyadarinya. Menurut Nadianissa, orang perlu memisahkan perasaan cemas dari kenyataan.
βJangan samakan situasi yang cemas dengan situasi yang buruk,β katanya, sebab kekhawatiran belum tentu nyata dan bisa berubah. Setelah bisa membedakan fakta dan kekhawatiran, kita bisa fokus pada hal yang bisa dikontrol.
Setelah itu, kondisi keuangan perlu dibuat lebih konkret. Ia menyarankan pencatatan pemasukan dan pengeluaran, lalu memilah mana kewajiban dan kebutuhan utama. Pengeluaran yang tidak esensial bisa dikurangi, dana darurat disiapkan, dan tagihan terdekat didahulukan.
Ia juga menyebut tambahan pekerjaan atau olahraga ringan sebagai opsi, selama dilakukan sesuai kemampuan. Nadianissa mengingatkan, langkah-langkah kecil itu tidak akan menyelesaikan semua masalah sekaligus. Namun, fokus pada hal yang bisa dikendalikan membuat kita lebih siap saat keadaan sedang sulit.
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Banjir Berita
Selain urusan dompet, paparan kabar yang terus muncul juga perlu diatur. Nadianissa membedakan antara being informed atau mencari tahu secara sadar, dengan being constantly exposed atau terpapar terus-menerus tanpa memilih. Yang kedua bisa memicu kelelahan informasi (information overload) dan rasa cemas.
Menurut psikolog yang juga berpraktik di sekolah swasta di Jawa Barat itu, Kawan tetap perlu catch up atau mengikuti perkembangan info agar tidak bereaksi berdasarkan asumsi, tapi perlu dibatasi. Membaca berita politik, ekonomi, dan mengecek rekening tanpa henti bisa membuat kita kewalahan.

Bad News in a wave (vary Bad News), Wikimedia Commons, Karya: Jack1523
Keresahan akan kebijakan tidak harus dihilangkan. Rasa itu bisa diarahkan jadi tindakan kecil sesuai kapasitas, seperti membantu orang lain, berdiskusi secara sehat, atau berkontribusi lewat lingkungan terdekat. Ia juga menyarankan kita mengakui rasa cemas atau marah lebih dulu agar tahu cara mengelolanya. Menurutnya, yang terpenting adalah tetap berfungsi dengan baik dalam keseharian.
βTujuan mengelola stres bukan berarti kita tidak merasakan stres, tetapi mampu menjalani fungsi sehari-hari dengan tetap mengambil tindakan yang bijak meski situasinya sulit,β jelasnya.
Bantuan profesional perlu dicari ketika emosi makin intens dan berlangsung lama. Tandanya antara lain tidur, makan, dan konsentrasi terganggu, pekerjaan atau sekolah terdampak, sampai mulai menarik diri dari sekitar. Coping atau cara menghadapi tekanan yang justru merugikan diri sendiri juga jadi sinyal untuk segera berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan jiwa lainnya.

