Stasiun Bandung adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di perbatasan Kecamatan Andir dan Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat. Bangunan ini menjadi salah satu stasiun tertua sekaligus tersibuk di Indonesia berdasarkan jumlah penumpang.
Terletak di ketinggian +709 meter di atas permukaan laut, stasiun ini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi II Bandung dan KAI Commuter.
Kawasan stasiun ini dibagi menjadi dua pintu akses utama, yaitu pintu utara di Jalan Kebon Kawung dan pintu selatan di Jalan Stasiun Timur. Pintu utara dikhususkan untuk keberangkatan kereta antarkota dan pengumpan Whoosh, sedangkan pintu selatan melayani kereta api lokal Commuter Line.
Kawan GNFI, bangunan sisi selatan Stasiun Bandung sudah ditetapkan menjadi Cagar Budaya Kelas A. Penetapan ini berdasarkan Peraturan Daerah kota Bandung No. 7 Tahun 2018.
Sejarah Stasiun Bandung
Gagasan awal pembangunan Stasiun Bandung konon berkaitan dengan maraknya pembukaan perkebunan di kawasan Priangan sekitar tahun 1870. Pengerjaan fisik stasiun dan jalur relnya mulai dilakukan sejak tahun 1882 hingga 1883 di bawah pemerintahan kolonial.
Stasiun ini diresmikan pada 17 Mei 1884 oleh Staatsspoorwegen (SS) pada masa Bupati Koesoemadilaga. Momen tersebut ditandai dengan dibukanya jalur kereta api pertama yang menghubungkan Batavia dan Bandung via Bogor serta Cianjur.
Para pemilik perkebunan (Preangerplanters) memanfaatkan kehadiran kereta api untuk mempercepat pengiriman komoditas ekspor seperti teh, kopi, kina, dan karet ke Batavia. Sejumlah gudang penimbunan barang pun dibangun di area sekitar stasiun, seperti di Jalan Cibangkong, Cikudapateuh, dan Kiaracondong.
Setelah jalur BandungโSurabaya tersambung pada 1 November 1894, peran stasiun ini makin penting untuk menyokong perekonomian Pulau Jawa. Pemerintah kolonial kemudian mengembangkan jalur cabang menuju Rancaekek, Tanjungsari, Majalaya, sampai Ciwidey untuk mendukung industri perkebunan.
Bangunan Khas Peninggalan Kolonial
Pada masa awal berdirinya, Stasiun Bandung memiliki bangunan kayu sederhana bergaya Indische Empire, khas stasiun SS umumnya. Namun, seiring meningkatnya volume penumpang, gedung stasiun dirancang ulang secara pada 1920-an.
Arsitek F.J.A. Cousin mengubah gaya arsitektur stasiun ini menjadi Art Deco yang khas dan modern pada masanya. Ciri khas itu tampak pada gedung sisi selatan dengan bentuk bangunan cenderung kubus dan dominasi garis-garis geometris.
Fasad depan stasiun memadukan bidang transparan dengan atap kanopi beton bertiang T untuk melindungi area tunggu penumpang. Interior stasiun dipercantik hiasan kaca patri di peron selatan, sehingga menjadikan gedung ini ditetapkan sebagai cagar budaya Kelas A Kota Bandung.
Sementara itu, pintu utara stasiun dibuka pada 27 April 1989 di atas bekas lahan Balai Yasa Bandung yang sudah nonaktif. Bangunan di pintu utara dibangun dengan gaya atap tradisional joglo serta dilengkapi fasilitas area parkir yang luas.
Monumen Purwa Aswa Purba yang Ikonik
Melansir dari ANTARA, di halaman pintu selatan Stasiun Bandung, pernah diresmikan sebuah tugu peringatan pada 6 April 1925. Tugu tersebut dirancang oleh arsitek E.H. de Roo untuk memperingati 50 tahun pengabdian Staatsspoorwegen di Jawa.
Pemerintah Kota Bandung menyerahkan tugu tersebut sebagai bentuk penghargaan atas jasa SS โmenyatukanโ pulau Jawa. Acara peresmiannya dihadiri oleh pejabat kolonial serta warga masyarakat yang berkumpul merayakannya.
Tugu itu kemudian diganti dengan Monumen Purwa Aswa Purba alias lokomotif uap hitam. Nama monumen tersebut memiliki makna mendalam yang berarti Awal Kuda Kuno.
Lokomotif buatan pabrik Hartmann Chemnitz tahun 1920 bernomor seri TC.10.08 ini dipajang sebagai simbol kejayaan perkeretaapian masa lalu.


