Malioboro jadi bagian yang tidak terpisahkan dari destinasi wisata yang dapat dikunjungi saat berlibur ke Yogyakarta. Kawasan ini selalu ramai didatangi oleh para wisatawan, baik yang ingin berbelanja di sepanjang jalan pedestrian, atau hanya sekadar menangkap momen dengan berfoto di beberapa sudut lokasi saat berkunjung ke sana.
Wisata dan Malioboro memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Namun bagi masyarakat Yogyakarta, serta para mahasiswa yang menuntut ilmu di Kota Pelajar, Malioboro memiliki arti yang jauh lebih dalam dari itu.
Selain menjadi rujukan wisata, kawasan Malioboro juga menjadi saksi perjuangan elemen masyarakat Yogyakarta sejak lama. Di kawasan inilah, aliansi masyarakat sering menyuarakan keresahan mereka terhadap penguasa dalam aksi demonstrasi.
Seperti halnya yang baru saja terjadi pada 28 Oktober silam. Jika di Jakarta aksi demonstrasi digelar di Bundaran Hotel Indonesia dengan tajuk "Indonesia Sadar," mahasiswa serta elemen masyarakat juga melakukan aksi serupa di Yogyakarta.
Aksi demonstrasi yang digelar bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ini diadakan oleh beberapa aliansi mahasiswa dan masyarakat di kawasan Malioboro di beberapa titik berbeda.
Aksi Demonstrasi di Malioboro pada 28 Oktober 2026
Dilansir GNFI dari laman Tirto, ada tiga rangkaian aksi demonstrasi yang digelar di kawasan Malioboro pada 28 Oktober 2026. Aksi Aliansi UMY Bergeran dan Bergelora melakukan aksi demonstrasi di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Sementara itu, Forum BEM DIY, BEM Nusantara, Gempur, dan HMI Yogyakarta menggelar aksi di Kantor DPRD DIY dan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Terakhir, ada aksi dari Aliansi Jogja Memanggil yang menggelar demonstrasi di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Pada awalnya, aksi demonstrasi berlangsung dengan damai. Beberapa dosen dan guru besar, seperti Prof. Zainal Arifin Mochtar turut menyampaikan orasi serta aspirasinya di hadapan para peserta aksi di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Aksi demonstrasi di kawasan Malioboro ini berlangsung dengan aman dan tertib. Dinukil GNFI dari laman Kompas, para peserta aksi bahkan membubarkan diri secara teratur pada sore harinya.
Namun suasana berubah menjadi mencekam saat malam tiba. Ketika massa mulai membubarkan diri tiba-tiba kericuhan terjadi di sekitar area Gedung DPRD.
Laporan kepolisian menyebutkan jika ada sekelompok massa yang tidak dikenal muncul dan melakukan provokasi. Situasi pun menjadi memanas dan terjadi bentrokan antara massa dengan petugas kepolisian.
Dikutip dari laman Krjogja.com, situasi di sekitar Malioboro akhirnya mulai kondusif pada pukul 21.40 WIB.
Saksi Perjuangan pada Reformasi 1998
Adanya aksi demonstrasi di kawasan Malioboro sebenarnya bukanlah hal yang baru terjadi kemarin saja. Sudah berulang kali aksi demonstrasi yang dilakukan oleh aliansi mahasiswa maupun masyarakat yang diselenggarakan terpusat di kawasan tersebut sejak dulunya.
Oktober 2026 ini saja sudah dua kali aksi demonstrasi yang terpusat digelar di kawasan Malioboro. Selain aksi yang digelar 28 Oktober lalu, demonstrasi serupa juga berlangsung pada 20 Oktober 2026 dalam rangka dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Bahkan pada saat Reformasi 1998 yang jadi momen penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, Malioboro turut menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat Yogyakarta. Mengutip dari skripsi Angga Apip Wahyu Saputra, "Peranan Mahasiswa Yogyakarta dalam Perjuangan Reformasi di Indonesia (1998)" beberapa aksi demonstrasi juga pernah digelar di Malioboro pada waktu itu.
Pada Minggu, 8 Maret 1998, beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Yogyakarta menggelar aksi demonstrasi di Malioboro dengan tajuk "Diam Menuntut Perubahan." Saat hendak melakukan long march ke arah Alun-Alun Utara dari kawasan Malioboro, para peserta aksi justru dicegat oleh aparat dan diangkut ke Markas Polresta Yogyakarta.
Walau selalu identik dengan kawasan wisata, Malioboro memiliki sisi lainnya tersendiri dalam "mendampingi" perjuangan masyarakat Yogyakarta. Di balik gemerlap dan berbagai macam aktivitas yang tidak ada hentinya, Malioboro tetap menjadi ruang bagi masyarakat Yogyakarta untuk menyampaikan aspirasi serta keresahannya.


