Belakangan ini, media sosial semakin ramai dengan berbagai perbincangan soal kondisi politik di Indonesia. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi ruang bertukar pikiran terkadang justru berujung pada saling serang, adu komentar, hingga munculnya narasi-narasi yang provokatif.
Belum lagi, konten yang memuat informasi menyesatkan atau sengaja memancing emosi bisa membuat suasana semakin keruh. Jika terus dibiarkan, situasi seperti ini berpotensi memperlebar perpecahan antarmasyarakat.
Di tengah situasi tersebut, muncul gerakan untuk menghadapi fenomena buzzer dari salah satu streamer atau YouTuber asal Indonesia, Windah Basudara.
Melalui unggahan di Instagram pribadinya, @windahbasudara, pada 5 November 2026, ia menyerukan gerakan #CuekinBuzzer kepada warganet Indonesia dengan mengajak masyarakat untuk mengubah cara menghadapi buzzer di media sosial.
Alih-alih membalas komentar atau memperdebatkan konten buzzer, Windah meminta warganet berhenti memberikan interaksi dan mengalihkan perhatian ke konten yang menyuarakan kepentingan rakyat berdasarkan fakta. Misalnya, informasi mengenai kondisi dan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kritik terhadap kebijakan yang merugikan publik, serta informasi lain yang berlandaskan fakta.
Selain itu, masyarakat juga dapat mendukungnya dengan memberikan tanda suka, komentar, membagikan, hingga mengunggah ulang konten-konten yang pro rakyat dan genuine.
Seruan tersebut mendapat respons besar dari pengguna media sosial. Belum genap 24 jam sejak diunggah, postingan tersebut telah mengumpulkan lebih dari 576 ribu tanda suka, 7 ribu komentar dan 171 ribuposting ulang.
Gerakan ini ia diskusikan bersama teman-temannya yang tidak hanya dari komunitas gaming saja, tetapi juga dari pakar-pakar dan publik figur yang pro rakyat, seperti Reza Auditore, Luthfi Halimawan, dan Jefri Nichol.
“Ada yang dari artist yang emang pro rakyat, ada yang dari pakar-pakar juga, ada pakar algoritma juga. Jadi emang ini gerakan serius,” tulis Windah dalam akun Instagram pribadinya.
Melalui unggahannya tersebut, Windah menjelaskan bahwa buzzer berupaya mendapatkan perhatian melalui interaksi pengguna agar konten mereka menjangkau lebih banyak orang. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak membalas komentar, mengunjungi profil, atau ikut berdebat dengan akun-akun tersebut.
"Stop balesin komen mereka, stop comment di konten mereka, stop kena ragebait. Just jalanin kehidupan sehari hari, produktif,”tambahnya.
Menurut Windah, interaksi berupa komentar positif maupun negatif tetap dapat tercatat sebagai engagement. Hal ini berpotensi dapat meningkatkan penyebaran konten melalui algoritma media sosial.
https://www.instagram.com/p/DfXE4f8H8Hm/
(Preview akan muncul di halaman artikel)Menariknya, gerakan ini menandai perubahan pendekatan Windah dalam menghadapi buzzer. Beberapa hari sebelumnya, ia masih mendorong pengikutnya untuk melakukan rumbling atau melawan konten buzzer secara langsung. Namun, melalui #CuekinBuzzer, ia justru mengajak masyarakat untuk menahan diri agar tidak terpancing provokasi.
Belajar dari Strategi Digital Brasil
Gerakan #CuekinBuzzer yang diinisaisi oleh Windah dan teman-temannya itu ternyata terinspirasi dari strategi digital dalam pemilihan presiden Brasil. Negara tersebut pernah menerapkan pola mobilisasi media sosial secara terorganisasi untuk memperkuat dukungan terhadap kandidat presiden.
Melansir dari CNN dalam artikel berjudul Brazil’s left reinvented the right’s online playbook. It helped Lula win, strategi tersebut dijalankan oleh anggota Kongres Brasil, André Janones, melalui kanal WhatsApp bernama “Lula’s Army”.
Awalnya, Luiz Inácio Lula da Silva kalah dari Flávio Bolsonaro pada putaran pertama pemilihan presiden pada 4 Oktober 2026, Janones mengubahnya menjadi pusat koordinasi kampanye digital untuk membantu Lula memenangkan putaran kedua.
Melalui kanal tersebut, Janones memberikan instruksi kepada para pendukung Lula untuk menyebarkan tagar, membagikan video, menyukai unggahan, meramaikan kolom komentar siaran langsung, hingga mengajak orang lain bergabung. Dalam waktu tiga minggu, jumlah pengikut Lula’s Army melonjak dari 50 ribu menjadi hampir 11 juta orang.
Salah satu instruksi Janones yang menarik perhatian adalah meminta pendukungnya menghindari kolom komentar unggahan lawan politik. Sebab, interaksi dengan konten lawan justru dapat meningkatkan visibilitas unggahan tersebut melalui algoritma media sosial.
Mobilisasi digital itu ikut berperan dalam kemenangan Lula pada pemilihan presiden 25 Oktober 2026. Meski demikian, laporan dari CNN menjelaskan bahwa hasil pemilu juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti partisipasi pemilih, peralihan suara dari kandidat yang tersingkir, serta perubahan dukungan di sejumlah wilayah.


