Ada sebuah cerita rakyat dari Kalimantan Timur yang menceritakan tentang asal usul Kerajaan Berau. Dulunya wilayah kerajaan ini hanya terdiri dari tujuh kampung yang terpisah antara satu sama lainnya.
Bagaimana awal mula dari terbentuknya Kerajaan Berau tersebut? Berikut kisah lengkapnya.
Legenda Asal Usul Kerajaan Berau, Cerita Rakyat dari Kalimantan Timur
Dikutip GNFI dari buku Serpihan Cerita Rakyat Kalimantan Timur, alkisah pada zaman dahulu ada tujuh kampung yang ada di Berau. Belum ada kerajaan yang menyatukan ketujuh kampung tersebut dulunya.
Di sana hidup sepasang suami istri yang sudah bersama sejak lama. Sang suami bernama Inni Baritu.
Sementara itu, sang istri bernama Inni Kabayan. Mereka hanya hidup berdua di rumah yang ditinggali tersebut.
Walau sudah menikah sejak lama, Inni Kabayan dan Inni Baritu masih belum dikaruniai seorang anak. Berbagai usaha sudah mereka lakukan untuk mendapatkan keturunan.
Hanya saja usaha tersebut masih belum membuahkan hasil. Meskipun demikian, Inni Baritu dan Inni Kabayan tidak menyerah begitu saja.
Mereka tetap berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar bisa memperoleh keturunan. Selain itu, mereka tetap menjalani hidup dengan bahagia, walau hari-hari hanya diisi dengan aktivitas berdua saja.
Pada suatu hari, dinding dapur rumah Inni Baritu sudah mulai rusak karena termakan usia. Akhirnya Inni Baritu pergi ke kebun untuk mengambil bambu pattung atau bambu yang berukuran besar.
Setelah mengambil parang, Inni Baritu pun berangkat menuju kebun. Sesampainya di sana, dia pun memilih bambu pattung yang cocok untuk memperbaiki dapur rumahnya.
Ketika hendak memotong bambu yang diinginkan, Inni Baritu justru kaget dengan apa yang dia temukan. Pada saat itu, Inni Baritu menemukan seorang bayi laki-laki yang berada di antara pecahan bambu tersebut.
Inni Baritu tentu heran mengapa bayi tersebut bisa ada di sana. Akhirnya Inni Baritu memutuskan untuk membawa bayi tersebut pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, sang istri Inni Kabayan pun juga kaget melihat bayi yang dibawa pulang oleh suaminya. Dia pun segera pergi ke dapur untuk mengambil kain yang nantinya digunakan sebagai selimut bayi laki-laki tersebut.
Inni Kabayan kemudian mengambil kain di dalam kurindan atau keranjang yang terbuat dari anyaman rotan. Namun lagi-lagi, Inni Kabayan kembali terkejut dengan apa yang dia temukan.
Di dalam kurindan tersebut ada seorang bayi perempuan. Padahal sebelumnya tidak ada siapa-siapa di dalam keranjang tersebut.
Inni Kabayan kemudian membawa bayi perempuan tersebut dan memperlihatkannya pada sang suami. Alangkah bahagianya perasaan pasangan suami istri tersebut saat itu.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya doa mereka terjawab juga. Inni Baritu dan Inni Kabayan percaya jika kedua anak tersebut merupakan titipin dari Yang Maha Kuasa.
Kedua bayi ini kemudian diberi nama sesuai dengan asal ditemukannya. Bayi laki-laki diberi nama Baddit Dipattung.
Nama ini diberikan karena bayi tersebut ditemukan dari bambu pattung oleh Inni Baritu. Sementara itu, bayi perempuan diberi nama Baddit Dikurindan.
Sama seperti sebelumnya, nama ini diberikan karena Inni Kabayan menemukan bayi perempuan tersebut di dalam keranjang kurindan. Pasangan suami istri ini membesarkan kedua anak tersebut dengan penuh kasih sayang.
Seiring berjalannya waktu, Baddit Dipattung tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Tidak hanya itu, dia pun juga dihormati oleh masyarakat yang ada di tujuh kampung di wilayah Berau.
Pada suatu masa, ada sebuah pertemuan yang diadakan oleh para pemimpin ketujuh kampung tersebut. Melihat kewibawaan Baddit Dipattu, mereka pun bersepakat untuk menjadikan pemuda tersebut sebagai pemimpin di antara mereka.
Akhirnya Baddit Dipattu pun diangkat menjadi raja pertama di Kerajaan Berau. Dirinya kemudian diberi gelar Adji Raden Suryanata Kesuma.
Di bawah kepemimpinannya, wilayah Berau pun berkembang dengan pesat. Tidak hanya menggabungkan ketujuh kampung yang ada di sana, Adji Raden Suryanata Kesuma pun turut mengatur kembali kehidupan masyarakat Berau di bawah kepemimpinannya.


