Kelenteng Ancol atau Vihara Bahtera Bakti adalah salah satu kelenteng tertua yang ada di daerah Jakarta. Konon ada sebuah legenda yang menceritakan tentang asal usul Kelenteng Ancol tersebut dulunya.
Simak kisah lengkap dari legenda asal usul Kelenteng Ancol tersebut dalam artikel berikut ini.
Legenda Asal Usul Kelenteng Ancol, Kisah Tentang Juru Masak Cina dan Gadis Lokal
Dikutip GNFI dari buku Maini Trisna Jayawati, dkk., yang berjudul Cerita Rakyat dan Objek Pariwisata di Indonesia: Teks dan Analisis Latar, diceritakan pada zaman dahulu ada sebuah kapal yang datang dari negeri Cina. Kapal tersebut bernama Sam Poo Toalang.
Kapal tersebut berisi banyak awak dari negeri Cina. Salah satu di antara mereka ada seorang pemuda yang bertugas sebagai juru masak.
Pada suatu masa, kapal Sam Poo Toalang melakukan pelayaran. Selama berbulan-bulan kapal ini berada di atas lautan.
Perjalanan kapal ini berjalan dengan normal dan awal pada mulanya. Namun di tengah perjalanan, kapal tersebut diterjang ombak besar.
Tidak hanya itu, kapal Sam Poo Toalang juga dihantam oleh ikan paus besar. Hal ini membuat situasi kapal menjadi tidak kondusif.
Untungnya kapten kapal Sam Poo Toalang memiliki kemampuan yang handal. Dirinya mampu dengan tenang menguasai keadaan dan menyelamatkan kapal dari berbagai macam bahaya.
Beberapa waktu kemudian, sampailah kapal ini di daerah Ancol. Pada waktu itu, Ancol merupakan salah satu wilayah yang menjadi bagian Sunda Kelapa.
Kapal ini bersandar di sana dalam waktu cukup lama. Di sela waktu tersebut, wilayah Sunda Kelapa ternyata tengah dilanda banjir besar.
Hanya daerah Ancol saja yang tidak terdampak langsung oleh musibah banjir tersebut. Namun persediaan makanan menjadi makin menipis di sana.
Situasi yang sama juga terjadi di atas kapal Sam Poo Toalang. Air dan makanan yang ada di sana sudah mulai habis.
Akhirnya para awak kapal disuruh untuk turun dan mencari makanan. Juru masak pun ikut turut dan mencari makanan di daerah Ancol.
Juru masak ini kemudian berjalan menyusuri daerah pantai. Dia mencoba mencari apa saja yang sekiranya bisa diolah menjadi makanan.
Di tengah perjalanan, juru masak ini bertemu dengan seorang gadis cantik. Mereka pun berbincang dan saling berkenalan antara satu sama lain.
Gadis cantik itu bernama Sitiwati. Dirinya terkejut melihat ada orang asing yang berjalan-jalan di daerah tersebut.
Sitiwati pun menyanyakan mengapa juru masak itu ada di sana. Juru masak ini pun menyampaikan maksud keberadaannya dengan ramah dan sopan.
Jawaban dari juru masak ini membuat Sitiwati tertarik dengan dirinya. Sitiwati pun mengundang juru masak itu untuk datang ke rumahnya.
Di sana, juru masak tersebut dikenalkan pada kedua orang tua Sitiwati. Ternyata, juru masak ini juga tertarik dengan kecantikan dari Sitiwati.
Juru masak itu kemudian langsung mengutarakan rasa ketertarikannya di sana. Dia langsung melamar Sitiwati di hadapan kedua orang tuanya.
Lamaran juru masak itu diterima dengan baik. Akhirnya pernikahan antara juru masak dan Sitiwati digelar.
Sejak saat itu, juru masak ini tidak pernah kembali ke kapal Sam Poo Toalang. Dirinya akhirnya menetap di daerah Ancol bersama istrinya.
Selain jago memasak, juru masak ini ternyata juga pintar menari. Sering kali dia mengajarkan masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggalnya untuk menari dan memasak.
Hal ini membuat suami dari Sitiwati tersebut disenangi oleh masyarakat. Mereka pun hidup bahagia bersama di sana.
Puluhan tahun kemudian, datang sebuah kapal dari negeri Cina. Kapal ini ternyata hendak mencari juru masak yang hilang dulunya.
Namun begitu bertanya pada penduduk, ternyata juru masak bersama istrinya, Sitiwati sudah meninggal dunia. Keduanya pun dikuburkan di makam yang berdekatan.
Untuk menghargai jasa dan kebaikan juru masak tersebut, maka masyarakat kemudian membangun sebuah kelenteng yang dikenal dengan nama Kelenteng Ancol.


