Ada sebuah cerita rakyat dari Jambi yang menceritakan tentang asal usul nama-nama sungai di daerah tersebut. Konon sungai-sungai ini dilewati oleh seorang pemuda sakti yang melakukan pengembaraan dulunya.
Bagaimana kisah dari cerita rakyat Jambi tersebut?
Cerita Rakyat tentang Asal Usul Nama-Nama Sungai di Jambi, Kisah Pengembaraan Seorang Pemuda Sakti
Dikutip GNFI dari buku Parasian Simamora yang berjudul Cerita Rakyat Daerah Bangko Kabupaten Merangin Provinsi Jambi, alkisah pada zaman dahulu daerah Jambi masih berupa hutan belantara. Belum ada seorang pun yang menghuni wilayah tersebut dulunya.
Pada waktu itu, ada seorang pemuda sakti dan gagah berani dari Negeri Sipin. Dirinya berniat untuk mengembara ke hutan-hutan Jambi dan membuka pemukiman baru di sana.
Negeri Sipin sendiri berada di tepian sebuah danau. Untuk memulai perjalanannya, pemuda tersebut kemudian mengikuti Sungai Batang hari yang mengalir tidak jauh dari negeri tersebut.
Pemuda sakti ini berniat untuk membuka pemukiman di hulu sungai. Oleh sebab itu, dirinya berjalan menyusuri Sungai Batang Hari ke arah hulu.
Setelah berjalan cukup lama, pemuda ini sampai di sebuah persimpangan aliran sungai. Dia pun mengeluarkan sebuah timbangan dan menimbang kedua air tersebut.
Ternyata air cabang yang dia temukan lebih ringan dari Sungai Batang Hari. Dirinya yakin jika aliran tersebut adalah anak sungai dari Batang Hari.
Aliran sungai tersebut kemudian diberi nama Batang Tembesi. Dirinya pun mulai mengikuti arah hulu Sungai Batang Tembesi tersebut.
Setelah berjalan cukup jauh, pemuda ini kembali menemukan cabang sungai. Dirinya kembali mengeluarkan timbangan dan menimbang air di kedua cabang sungai tersebut.
Air di Sungai Batang Tembesi ternyata lebih berat dari cabang baru yang dia temukan. Pemuda ini pun membatin jika sungai tersebut merupakan anak dari Batang Tembesi.
Pemuda ini pun melanjutkan perjalanan menyusuri anak sungai tersebut. Anak sungai itu kemudian dikenal dengan nama Batang Asai.
Kali ini perjalanan yang dia lalui cukup jauh. Pemuda ini makin yakin jika hulu sungai yang menjadi tujuan akhirnya sudah makin dekat.
Setelah berjalan cukup lama, pemuda ini kembali menemukan persimpangan sungai. Lagi-lagi dirinya mengeluarkan timbangan dan menimbang air dari kedua sungai tersebut.
Dirinya mendapati jika air Sungai Batang Asai lebih berat. Artinya cabang baru yang dia temukan inilah anak sungai dari Batang Asai tersebut.
Pemuda ini kemudian melanjutkan perjalanan mengikuti anak sungai yang bernama Batang Meneko. Dirinya yakin jika tujuan akhir perjalanannya sudah dekat.
Benar saja, Batang Meneko menjadi anak sungai terakhir dari aliran tersebut. Dirinya akhirnya sampai di daerah hulu dari anak sungai itu.
Hulu sungai ini sangat jernih layaknya pemandian para bidadari dari kahyangan. Pada awalnya, pemuda ini berniat untuk bermukim di sana.
Namun setelah berpikir sejenak, dirinya kemudian kembali ke arah hilir Sungai Batang Meneko. Di sana dia mulai membuka area baru dan mendirikan pemukiman untuk dirinya sendiri.
Walau hidup seorang diri, pemuda tersebut bisa memenuhi semua kebutuhannya sehari-hari. Terlebih sumber alam berlimpah di sekitar area tersebut membuat dirinya tidak kesulitan untuk mencari makanan maupun kebutuhan lainnya.
Pada suatu hari, pemuda ini tengah mandi di Sungai Batang Meneko. Tiba-tiba dia melihat perasan jeruk bekas dipakai mengalir dari area hulu.
Dia yakin jika ada seorang wanita yang tengah mandi di daerah hulu. Pemuda tersebut kemudian bergegas menuju area hulu.
Benar saja, di sana ada seorang bidadari yang tengah mandi. Begitu melihat bidadari tersebut, pemuda ini langsung jatuh hati.
Dirinya kemudian menangkap bidadari tersebut dan menikahinya. Sejak saat itu, mereka pun hidup bersama dan anak keturunannya menjadi cikal bakal masyarakat yang mendiami daerah tersebut nantinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


