Nutrifood meluncurkan Program Sekolah Sehat HiLo untuk mendorong penerapan pola hidup sehat di lingkungan pendidikan. Program ini menyasar enam sekolah di Jakarta dengan melibatkan siswa, guru, orang tua, hingga pengelola kantin sekolah.
Peluncuran program bertajuk Kick Off Program Sekolah Sehat HiLo tersebut digelar di NutriHub Jakarta, Jumat (6/11/2026). Inisiatif ini dirancang untuk membangun ekosistem kesehatan (health ecosystem) di sekolah melalui perubahan kebiasaan yang melibatkan seluruh warga sekolah.
Enam sekolah yang menjadi mitra program di Jakarta adalah SMA Negeri 13 Jakarta, SMA Negeri 78 Jakarta, SMA Negeri 29 Jakarta, SMP Negeri 179 Jakarta, SMP BM 400, dan John Paul School. Selama tiga bulan, program ini akan menghadirkan berbagai kegiatan edukasi dan pembiasaan hidup sehat bagi para pelajar.
Secara nasional, Program Sekolah Sehat HiLo ditargetkan menjangkau 11.000 siswa di 55 sekolah yang tersebar di 11 kota di Indonesia. Pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak agar penerapan pola hidup sehat tidak berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari di sekolah.
Empat Pilar Pembiasaan Hidup Sehat
Program Sekolah Sehat HiLo memiliki empat pilar utama. Pilar pertama mendorong siswa untuk meningkatkan aktivitas fisik dan membiasakan diri bergerak aktif. Upaya ini ditujukan untuk membangun kesadaran bahwa aktivitas fisik merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan sejak usia sekolah.
Pilar kedua memperkuat keterlibatan guru sebagai penggerak budaya hidup sehat sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Guru diharapkan dapat memberikan contoh dan mengintegrasikan kebiasaan sehat dalam kegiatan pembelajaran maupun aktivitas sekolah.
Selanjutnya, program ini melibatkan pengelola kantin sekolah untuk menyediakan pilihan makanan dan minuman yang lebih sehat. Lingkungan kantin dinilai memiliki peran dalam membentuk kebiasaan konsumsi siswa karena menjadi salah satu tempat mereka memilih makanan selama berada di sekolah.
Pilar keempat menghadirkan media pembelajaran sebagai sarana edukasi kesehatan. Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan memperoleh informasi yang dapat diterapkan secara konsisten, mulai dari pemilihan makanan hingga aktivitas fisik sehari-hari.
Pelibatan orang tua juga menjadi bagian dari pendekatan program. Dukungan keluarga diperlukan agar kebiasaan yang dibangun di sekolah dapat diterapkan pula di rumah. Dengan demikian, siswa mendapatkan lingkungan yang mendukung penerapan pola hidup sehat secara berkelanjutan.
Persoalan Gizi dan Aktivitas Fisik Remaja
Program ini dilatarbelakangi sejumlah persoalan kesehatan yang masih ditemukan pada kelompok usia remaja di Indonesia. Salah satunya adalah masalah gizi lebih yang mencakup kondisi kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi gizi lebih mencapai 16,2 persen pada kelompok remaja usia 13–15 tahun. Sementara itu, pada kelompok usia 16–18 tahun, angkanya tercatat sebesar 12,1 persen.
Persoalan lain terlihat dari tingkat aktivitas fisik remaja. SKI 2023 mencatat sebanyak 58 persen remaja usia 10–14 tahun memiliki aktivitas fisik yang kurang. Angka tersebut juga mencapai 50,4 persen pada kelompok usia 15–19 tahun.
Pola konsumsi turut menjadi perhatian. Data SKI 2023 menunjukkan 47,5 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali dalam sehari. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam edukasi mengenai pola makan seimbang.


