Pagi itu, sekelompok remaja berkumpul di sebuah balai desa di Kabupaten Ngawi. Mereka tidak sedang mengikuti lomba atau rapat organisasi sekolah. Di hadapan teman-teman seusianya, mereka membahas sesuatu yang selama ini kerap dianggap sebagai urusan orang tua atau tenaga kesehatan: anemia, gizi, kesehatan reproduksi, hingga stunting.
Percakapan berlangsung santai, diselingi permainan dan diskusi. Yang paling penting adalah pesannya yang jelas. Pencegahan stunting tidak dimulai ketika seorang anak lahir, melainkan jauh sebelum seseorang memasuki kehidupan berkeluarga.
Cara pandang itulah yang perlahan dibangun melalui keterlibatan remaja sebagai pendidik sebaya. Di Kabupaten Ngawi, pendekatan ini menjadi bagian dari Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) yang dijalankan Wahana Visi Indonesia bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara dan PT Bank BCA. Pendekatan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa masa remaja merupakan periode penting untuk membangun pengetahuan dan kebiasaan yang akan memengaruhi kesehatan generasi berikutnya.
Sejak tahun 2023 hingga Juni 2026, Program PASTI di Kabupaten Ngawi telah menjangkau 1.013 remaja berusia 15 hingga 19 tahun melalui kampanye dan edukasi oleh teman sebaya mereka yang sudah terlatih. Berdasarkan hasil survei remaja dalam Outcome Monitoring 2025, tercatat 85 persen remaja 15-19 yang menjadi sampel survei memiliki pengetahuan komprehensif mengenai anemia dan pencegahan stunting. Pengetahuan ini diukur melalui sikap positif terhadap pencegahan stunting yang tinggi. Capaian ini melebihi target yang ditetapkan yaitu minimal 80%, sekaligus menjadi salah satu contoh keberhasilan pelibatan remaja dalam isu kesehatan masyarakat.
Belajar dari Teman Sebaya
Sholakhal, Ketua Forum Generasi Berencana (GenRe) Kabupaten Ngawi, melihat perubahan itu secara langsung. Menurutnya, remaja jauh lebih mudah menerima informasi ketika disampaikan oleh orang yang seusia dan memahami keseharian mereka.
"Kami menggunakan pendekatan teman sebaya. Jadi mereka tidak merasa digurui. Mereka lebih nyaman bertanya soal kesehatan reproduksi, anemia, atau stunting kepada teman sendiri," ujarnya.
Bagi Sholakhal, tantangan terbesar bukan membuat remaja hadir dalam kegiatan, melainkan mengubah anggapan bahwa stunting hanya berkaitan dengan balita. Banyak remaja baru memahami bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang muncul jauh sebelum seseorang menikah, mulai dari status gizi, pola makan, hingga kesehatan reproduksi.
Karena itu, materi yang dibawakan para Duta GenRe tidak hanya berisi teori. Mereka mengemasnya melalui permainan, diskusi kelompok, simulasi, hingga aktivitas kreatif yang membuat peserta aktif terlibat. Cara ini membantu peserta memahami bahwa menjaga kesehatan sejak remaja merupakan investasi bagi kehidupan mereka di masa depan.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan temuan Program PASTI yang menunjukkan bahwa pendampingan intensif oleh fasilitator serta kampanye kreatif yang melibatkan remaja sebagai agen perubahan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas edukasi.
Kesehatan Reproduksi Bukan Hal Tabu

Caption
Perubahan tidak hanya terjadi pada peserta. Kholifatul, Duta GenRe di salah satu desa di Ngawi, merasakan bahwa ruang diskusi mengenai kesehatan reproduksi kini mulai terbuka di lingkungan tempat tinggalnya.
"Awalnya banyak yang malu bertanya. Bahkan ada yang menganggap topik kesehatan reproduksi itu tabu. Setelah beberapa kali kegiatan, mereka mulai berani berdiskusi dan bertanya," katanya.
Menurut Kholifatul, perubahan itu tidak terjadi dalam satu pertemuan. Dibutuhkan konsistensi agar remaja merasa memiliki ruang yang aman untuk berbicara tanpa takut dihakimi. Ketika kepercayaan mulai terbentuk, pembahasan berkembang dari isu anemia menuju pola makan sehat, kesiapan menikah, hingga pentingnya merencanakan kehamilan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan tidak cukup dilakukan dengan menyampaikan informasi satu arah. Remaja membutuhkan ruang dialog yang membuat mereka merasa didengar. Dalam situasi itu, pesan mengenai pencegahan stunting menjadi lebih mudah diterima karena berkaitan langsung dengan kehidupan mereka.
Selain itu, aktivitas edukasi tentang kesehatan reproduksi juga dikemas dengan permainan interaktif. Pendekatan ini turut memperkuat capaian Program PASTI yang berhasil menjangkau total 20.379 penerima manfaat sepanjang 2025 hingga Juni 2026 di 6 kabupaten dampingan PASTI 2.0, termasuk 4.422 remaja yang mengikuti berbagai kegiatan program (seperti kampanye dan edukasi, analisa situasi kesehatan remaja, dll) di 6 kabupaten dampingan PASTI.
Karena Tahu, Akhirnya Mau
Membangun pengetahuan merupakan langkah awal. Namun, Program PASTI ingin memastikan pengetahuan itu berubah menjadi kebiasaan. National Project Manager Program PASTI, Hotmianida Panjaitan, mengatakan perubahan dipantau melalui pre-test, post-test, serta komitmen remaja setelah mengikuti edukasi. “Kami melihat pernyataan dari adik-adik setelah mengikuti kegiatan, apa yang mereka rasakan dan apa yang ingin mereka lakukan,” ujarnya.
Perubahan didorong melalui kebiasaan kecil yang realistis. Misalnya, mengurangi konsumsi makanan atau minuman kemasan secara bertahap. “Kami membangun komitmen-komitmen di akhir sesi agar adik-adik bisa menerapkannya di rumah,” kata Hotmianida.
Salah satu tantangannya adalah konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri. Sebagian remaja mengeluhkan rasa amis dan mual. Program PASTI melalui WVI memberikan pemahaman tentang manfaat serta cara mengonsumsinya, sekaligus melibatkan remaja laki-laki untuk mengingatkan teman-temannya. “Kami mendorong adik-adik laki-laki GenRe untuk mengajak teman-teman putri,” ujarnya.
Agar perubahan berlanjut, Program PASTI menerapkan pendampingan berjenjang melalui Duta GenRe Kabupaten dan Duta GenRe Desa. Para remaja juga diajak menganalisis persoalan kesehatan di lingkungan mereka, kemudian menyampaikannya kepada pemerintah desa. Di Ngawi, rekomendasi tersebut mulai direspons melalui pengaktifan posyandu remaja dan pelibatan remaja dalam penyusunan rencana program serta anggaran desa 2027.
“Dengan adanya respons dari pemerintah desa ini, menjadi salah satu keyakinan bagi Wahana Visi Indonesia bahwa kegiatan GenRe ini akan berlanjut,” kata Hotmianida. Bagi WVI, keberlanjutan terlihat ketika remaja tidak hanya memahami isu stunting, tetapi mulai mengubah kebiasaan, mengajak teman, dan ikut menyuarakan kebutuhan kesehatan di lingkungannya.
Program PASTI juga memperkuat pendekatan itu melalui pelatihan bagi Tim Pendamping Keluarga (TPK). Sepanjang 2025, sebanyak 363 anggota TPK mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan edukasi kepada keluarga berisiko stunting. Setelah pelatihan, lebih dari 5.583 orang tua dan pengasuh mengikuti kegiatan komunikasi perubahan perilaku, dengan 96,6 persen peserta mampu mengidentifikasi cara mencegah stunting berdasarkan hasil evaluasi program.
Kolaborasi antara remaja, keluarga, kader, pemerintah desa, dan tenaga kesehatan inilah yang membentuk ekosistem pencegahan stunting di tingkat masyarakat. Setiap kelompok menjalankan perannya masing-masing, tetapi memiliki tujuan yang sama.
Investasi Penting untuk Generasi Mendatang

Caption
Pencegahan stunting memang sering diukur melalui angka prevalensi atau status gizi anak. Namun, perubahan yang berlangsung di lapangan menunjukkan bahwa fondasi keberhasilan dibangun melalui perubahan cara berpikir masyarakat.
Laporan Program PASTI mencatat adanya peningkatan proporsi baduta peserta Pos Gizi DASHAT yang mencapai berat badan normal, dari 83,1 persen pada 2024 menjadi 83,2 persen pada 2025, lalu 84,6 persen pada 2026. Di wilayah intervensi program, prevalensi stunting juga menurun dari 13,51 persen menjadi 9,48 persen. Laporan tersebut menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil berbagai intervensi lintas sektor, dengan Program PASTI berkontribusi sebagai salah satu faktor pendukung dalam upaya perbaikan gizi yang lebih luas.
Bagi Sholakhal, keberhasilan terbesar bukan semata-mata ketika peserta mampu menjawab pertanyaan tentang stunting, melainkan ketika mereka mulai mengubah kebiasaan sehari-hari dan membagikan pengetahuan itu kepada orang lain.
"Harapannya, teman-teman remaja bisa menjadi contoh di lingkungannya. Mereka menjaga kesehatan diri sendiri sekarang, supaya nanti saat membangun keluarga sudah memiliki bekal yang cukup," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Kholifatul. Ia berharap semakin banyak remaja yang berani mengambil peran sebagai penyebar informasi kesehatan di desanya. Menurutnya, perubahan tidak harus dimulai dari kegiatan besar. Percakapan sederhana antar teman dapat menjadi awal munculnya kesadaran baru.
Pada intinya, pencegahan stunting tidak dimulai ketika seorang anak memasuki masa pertumbuhan. Proses itu dimulai ketika seorang remaja memahami tubuhnya, menjaga kesehatannya, dan menyadari bahwa keputusan-keputusan kecil hari ini akan memengaruhi kualitas hidup generasi yang lahir pada masa mendatang. Dalam proses itulah, para remaja menemukan peran baru, sebagai penggerak perubahan di komunitasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


