ada telur ceplok di kawah gunung anak krakatau usai erupsi ini yang terjadi - News | Good News From Indonesia 2026

Ada “Telur Ceplok” di Kawah Gunung Anak Krakatau Usai Erupsi, Ini yang Terjadi

Ada “Telur Ceplok” di Kawah Gunung Anak Krakatau Usai Erupsi, Ini yang Terjadi
images info

Penampakan kawah Gunung Anak Krakatau yang mirip dengan bentuk telur ceplok.


Selain punya dapur magma, Gunung Anak Krakatau juga punya “telur ceplok” raksasa. Bentuknya terlihat jelas di kawasan kawah setelah rangkaian erupsi gunung api di Selat Sunda mulai mereda.

Video yang memperlihatkan fenomena tersebut diunggah akun Instagram @wxchasing.

Sebenarnya bukan benar-benar telur ceplok, tapi fenomena alam yang kebetulan bentuknya sangat menyerupai telor ceplok. Sebuah cairan berwarna kuning berada di tengah kawasan dengan latar putih.

Menurut Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, bagian tersebut merupakan genangan air di kawah yang terkontaminasi gas belerang.

baca juga

"Iya itu kawah GAK, jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang," kata Suwarno, Jumat (18/9/2026), sebagaimana dikutip dari detik.com.

Apa Itu Belerang?

Belerang adalah unsur kimia yang memang banyak ditemukan di kawasan vulkanik dan dapat keluar bersama gas dari dalam gunung. Ketika gas tersebut bertemu dengan air dan batuan di kawah, terjadi interaksi kimia yang bisa memengaruhi warna genangan.

Jadi, warna kuning pada “telur ceplok” Anak Krakatau merupakan akibat proses alami di lingkungan kawah.

Nah, yang menarik, tidak semua kawah bakal punya reaksi yang menghasilkan fenomena alam unik seperti terjadi di GAK. Menurut Suwarno, kondisi di Gunung Anak Krakatau dipengaruhi juga oleh genangan air dan material pada dinding kawah.

baca juga

"Tidak semuanya, kalau belerang semuanya gunung api pasti ada. Di sana (GAK) ada genangan air, terkontaminasi oleh belerang jadi seperti itu warnanya, dan juga bisa terkontaminasi dengan lapisan dinding kawah itu," jelas Suwarno.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Belum Berhenti

Kawan, aktivitas Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya berhenti. Dalam laporan aktivitas 18 September pukul 06.00–12.00 WIB, masih tercatat dua gempa harmonik, satu gempa low frequency, satu gempa hybrid atau fase banyak, serta tremor menerus.

Tremor menerus tercatat dengan amplitudo 1–7 milimeter dan dominan 2 milimeter.

Sederhananya, petugas masih menemukan tanda-tanda aktivitas di dalam sistem Gunung Anak Krakatau meskipun letusan tidak terlihat.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.