pengembangan potensi pariwisata lokal di dataran tinggi mng en implementasi ilmu mahasiswa program studi ilmu komunikasi uns di vietnam - News | Good News From Indonesia 2026

Pengembangan Potensi Pariwisata Lokal di Dataran Tinggi Măng Đen: Implementasi Ilmu Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UNS di Vietnam

Pengembangan Potensi Pariwisata Lokal di Dataran Tinggi Măng Đen: Implementasi Ilmu Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UNS di Vietnam
images info

Pengalaman Fauzia sukarelawan di Vietnam (Sumber: Dokumentasi Pribadi Fauzia Fitri Abidin)


Orang bilang, kita tidak akan pernah benar-benar belajar sebelum tinggal secara langsung dengan mereka. Untuk membuktikan hal tersebut, Fauzia Fitri Abidin yang merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret ini memutuskan terbang langsung ke Vietnam dan menghabiskan 12 jam lebih perjalanan darat agar bisa sampai ke Kota Kon Tum.

Kota di pegunungan tengah yang dijuluki “Second Da Lat” ini menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara yang memungkinkan Fauzia untuk tinggal dan belajar langsung tentang pertukaran budaya dengan masyarakat sekitar.

Turut serta dalam kegiatan bertajuk Global Volunteer yang diselenggarakan oleh AIESEC in UNS, proyek bernama “On The Map” ini mengizinkan Fauzia dan teman sebayanya berpartisipasi secara aktif dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-8 yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Kegiatannya sendiri berlangsung selama kurang lebih lima minggu, mulai dari tanggal 7 Januari hingga 10 Februari 2026 beranggotakan tiga orang yang secara berkala mengembangkan bisnis serta ekonomi di Kota Kon Tum.

baca juga

Untuk proyek kali ini, Fauzia berfokus pada pengelolaan tiga usaha berupa coffee shop, penginapan, dan perkebunan.

Selain mengembangkan usaha yang ada, sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi yang telah belajar banyak terkait dunia marketing dan media sosial, Fauzia juga menciptakan berbagai konten untuk mempromosikan tempat tersebut ke masyarakat luas.

Pengalaman Fauzia sukarelawan di Vietnam bersama pegawai lokal (Sumber: Dokumentasi Pribadi Fauzia Fitri Abidin)
info gambar

Pengalaman Fauzia sukarelawan di Vietnam bersama pegawai lokal (Sumber: Dokumentasi Pribadi Fauzia Fitri Abidin)


Berhubung saat itu fase liburan sudah berakhir, pembuatan konten di media sosial Facebook ternyata banyak membantu calon konsumen untuk mengetahui letak coffee shop dan menumbuhkan keinginan mereka untuk datang.

Pada awalnya, Fauzia merasa cukup sulit beradaptasi di lingkungan dataran tinggi dengan budaya yang sangat berbeda dari Indonesia. Karena terbilang cukup jauh dari kota besar, hampir semua orang di sana tidak begitu fasih berbahasa Inggris.

baca juga

Saat tinggal dengan sembilan warga lokal di Ventosa Homefarm pun, hanya dua orang yang cukup memahami bahasa Inggris dengan lancar.

Oleh karena itu, proses komunikasi dan pertukaran budaya sempat cukup terhambat.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu tantangan sekaligus pembelajaran yang paling berkesan bagi Fauzia selama menjalani proyek On The Map.

“Awalnya saya cukup khawatir karena harus tinggal di lingkungan yang jauh dari kota besar dengan perbedaan bahasa dan budaya yang cukup terasa. Namun, justru dari situ saya belajar untuk lebih berani berkomunikasi, beradaptasi, dan memahami orang lain dengan cara yang berbeda. Selama lima minggu di Mang Den, saya merasa bahwa keterbatasan bahasa bukan berarti kita tidak bisa saling memahami dan berbagi pengalaman,” ucapnya.

baca juga

Sebagai negara dengan penganut kepercayaan Buddhisme, Fauzia yang berhijab sempat beberapa kali mengalami pengalaman unik.

rang-orang cukup penasaran dengan pemakaian kerudung dan ingin tahu lebih lanjut terkait budaya Indonesia serta perkembangan agama Islam yang ada di sana.

Mereka juga mencoba berbagai camilan Indonesia, memakan sayuran khas Vietnam dengan sambal terasi, hingga memakai batik yang Fauzia bawa langsung dari Kota Surakarta. 

Di tengah proyek, Fauzia juga bertemu dengan dua orang Eropa yang menginap selama beberapa hari serta seorang bule dari Kanada yang berkeliling Vietnam dengan motor dan mampir selama seminggu.

baca juga

Pengalaman menyenangkan ini memberikan kesempatan kepadanya untuk menunjukkan Mang Den dan Kota Kon Tum dengan menemani mereka berkeliling, sembari mempromosikan objek wisata lokal dengan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya dari Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret.

Ketika bertemu wisatawan lokal, dia kemudian berusaha mengenalkan bagaimana Indonesia, memainkan lagu pop yang sedang terkenal, hingga memakai batik untuk baju sehari-hari.

Meskipun mengalami banyak lika-liku, perjalanan darat 12 jam dilanjut pesawat dari Tan Son Nhat Airport Ho Chi Minh City untuk kembali ke Indonesia ternyata meninggalkan kenangan yang sangat menyenangkan.

Bisa berinteraksi langsung dengan orang-orang dari tempat berbeda dan mengenal cara mereka hidup berdampingan menyadarkan Fauzia bahwa dampak terhadap komunitas sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret bisa dikembangkan di mana saja.

baca juga

Pembelajaran yang telah didapat akan selalu bermanfaat dan membantu masyarakat, baik di rumah sendiri maupun rumah orang di negara lain.

Karena pada akhirnya, tujuan utama kegiatan Global Volunteer bukan sekadar memberangkatkan seseorang ke luar negeri untuk berlibur saja, tapi juga memberi dampak positif dan menumbuhkan kepemimpinan pada diri sendiri.

 

 

Penulis: Fauzia Fitri Abidin

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.