kalau korsel punya taksi kuning indonesia punya angkot merah yang ikut dukung aksi mahasiswa - News | Good News From Indonesia 2026

Kalau Korsel Punya Taksi Kuning, Indonesia Punya Angkot Merah yang Ikut Dukung Aksi Mahasiswa

Kalau Korsel Punya Taksi Kuning, Indonesia Punya Angkot Merah yang Ikut Dukung Aksi Mahasiswa
images info

Angkot yang membawa mahasiswa UI | Tangkapan layar dari X


Rombongan angkutan kota (angkot) T19 jurusan Depok-Kampung Rambutan mendadak jadi sorotan saat aksi demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia pada 28 Oktober 2026. Deretan angkot berwarna merah itu digunakan oleh mahasiswa sebagai armada utama untuk menembus barikade pengamanan kepolisian di pusat kota Jakarta.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI merancang strategi pergerakan ini dengan sebutan taktik โ€œkuda Troyaโ€. Bus besar dikerahkan untuk memusatkan perhatian aparat di kawasan Menara UOB. Sementara itu, rombongan angkot bergerak dari arah utara melalui kawasan Sarinah.

Sopir angkot yang rela tidak menarik penumpang reguler seharian demi mengantarkan massa mahasiswa dari Lapangan FISIP UI Depok. Keputusan berani para sopir itu diambil di tengah kondisi tarikan yang sepi demi bisa membawa pulang nafkah untuk keluarga.

Kawan GNFI, kolaborasi aksi unik dan ikonik antara sopir angkutan umum yang mendukung gerakan mahasiswa ini sebetulnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Korea Selatan, aksi serupa juga pernah dilakukan.

Jika mahasiswa di Indonesia menggunakan angkot merah sebagai โ€œkuda Troyaโ€-nya, maka massa di Korea Selatan punya taksi kuning. Bagaimana cerita taksi yang ikut serta dalam upaya menegakkan demokrasi di Korea Selatan?

Perjuangan Taksi di Pemberontakan Gwangju 1980

Pada Mei 1980, Pergerakan Demokratisasi 18 Mei meletus di kota Gwangju, Korea Selatan. Demonstrasi besar ini adalah bentuk protes mahasiswa terhadap rezim otoriter militer, Chun Doo-hwan.

Kala itu, penindasan brutal pasukan khusus darurat militer terhadap para mahasiswa memicu kemarahan mendalam warga lokal, tak terkecuali para pengemudi taksi.

Mengutip dari Hankyoreh, media lokal asal Korea Selatan, para sopir taksi di Gwangju saling bertukar informasi tentang kekejaman aparat karena mereka menjelajahi seluruh sudut kota setiap hari. Rasa geram yang memuncak membuat para pengemudi memutuskan untuk turun tangan langsung membantu perjuangan anak-anak muda di jalanan.

Pengemudi taksi membukakan pintu mobil untuk menyelamatkan demonstran yang dikejar aparat, mengangkut bebatuan, hingga melarikan korban luka menuju rumah sakit. Keberanian para sopir taksi ini menjadi angin segar bagi warga yang sempat ketakutan akibat aksi kekerasan tentara.

baca juga

Puncak solidaritas transportasi publik terjadi pada malam 20 Mei 1980 saat ratusan taksi memimpin konvoi bus dan truk menuju Kantor Provinsi Jeolla Selatan. Salah satu sopir taksi, Lee Haeng-gi yang mengendarai Hyundai Pony, ikut berkonvoi sambil menyalakan lampu dan membunyikan klakson bersama warga.

Aksi konvoi kendaraan itu menjadi benteng pertahanan warga sekaligus pengobar semangat pergerakan demokrasi yang sempat meredup. Banyak taksi dijadikan barikade di depan Stasiun Gwangju untuk menghalau tembakan gas air mata serta gempuran pasukan darurat militer.

Lebih lanjut, mengutip dari Korea.net yang dikelola Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, ada kisah sopir taksi legendaris lain yang dikenal masyarakat setempat.

Adalah Kim Sa-bok, sopir taksi yang menembus barikade militer demi mengantar jurnalis Jerman Jรผrgen Hinzpeter meliput kebenaran di Gwangju. Perjalanan bersejarah Kim Sa-bok dan Hinzpeter ini sampai diabadikan dalam film dokumenter serta sinema populer berjudul A Taxi Driver.

Angkot Merah dan Perjuangan Mahasiswa

Berbeda dengan aksi โ€œkoboiโ€ sopir taksi di Korea Selatan yang bergerak kolektif untuk turun bersama sesama sopir lainnya, taktik kuda Troya yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Indonesia ini sejatinya adalah sebuah strategi yang dilakukan untuk mengalihkan perhatian aparat dan pergerakan massa dari berbagai arah.

Mengutip dari Kompas, ada bus yang dikerahkan untuk mengalihkan perhatian aparat di kawasan Menara UOB. Sementara itu, kelompok mahasiswa lain berupaya masuk ke Bundaran HI lewat jalur berbeda, termasuk dari arah utara dengan angkot merah.

Sinergi kompak ini berhasil membuat sebagian mahasiswa berhasil menembus Bundaran HI. Sekitar 15.00 WIB, tampak massa sudah memenuhi area itu.

Selain angkot merah, demonstrasi 28 Oktober 2026 ini juga semakin riuh dengan hadirnya aksi memikul salib merah raksasa. Salib ini merupakan simbol perlawanan pada kerusakan lingkungan yang terjadi di tanah Papua.

Kawan GNFI, tuntutan yang disuarakan mahasiswa dan rakyat sipil ini bukan hanya terjadi di Jakarta. Sejumlah kota. seperti Yogyakarta dan Malang ikut melakukan aksi โ€œperlawananโ€ serupa di hari yang sama.

Mahasiswa dari berbagai kampus negeri dan swasta dari seluruh penjuru tanah air lantang menyuarakan tuntutan untuk pemerintahan Prabowo-Gibran yang sudah berjalan selama dua tahun.

Aksi yang dilakukan mahasiswa ini berfungsi sebagai mekanisme check and balace di luar jalur formal saat fungsi kontrol di parlemen atau lembaga negara dianggap belum berjalan optimal. Mahasiswa dan rakyat sipil memiliki peran penting untuk menyuarakan kritik langsung lewat aksi di jalanan.

baca juga

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.