Indonesia dan Timor Leste adalah negara yang layak menjadi contoh bagi dunia tentang bangkit dari masa lalu untuk menatap masa depan. Dari konflik panjang, keduanya kini menjadi mitra dan sahabat dekat.
Tak bisa dipungkiri, Indonesia dan Timor Leste punya masa lalu yang kelam. Selama hampir 24 tahun, dari Desember 1975 hingga Oktober 1999, Indonesia menduduki wilayah yang menjadi negara Timor Leste. Konflik antara militer Indonesia dan kelompok pro-kemerdekaan terus meletus hingga memakan banyak korban.
Kini, Timor Leste sudah merdeka dan pendudukan Indonesia di sana tinggal sejarah. Tak bisa dipungkiri, apa yang terjadi pada waktu itu adalah tragedi penuh darah. Akan tetapi, kini kedua negara sudah move on. Tidak ada lagi perselisihan meski hanya sepercik, yang ada hanya kerja sama dan persahabatan.
“Di Timor itu kita ada pemikiran bahwa satu pulau, dua negara,” ujar Savio saat mengunjungi redaksi GNFI di Jakarta, Kamis, 17 September 2026.

“Dan sudah waktunya untuk membangun bersama Republik Indonesia dan Timor Leste. Anda tahu, dulu kita punya istilah apa ya? bitter past, sejarah pahit antara kedua negara,” lanjutnya.
Semua bermula saat Indonesia menjalankan Operasi Seroja pada Desember 1975, di mana militer Indonesia menginvasi wilayah Timor Portugis. Pada saat itu, di Portugal baru saja mengalami Revolusi Anyelir yang meruntuhkan rezim diktator sekaligus mengubah kebijakan luar negeri mereka untuk segera menghentikan penjajahan, termasuk di Timor Portugis.
Tak sampai dua pekan sebelum invasi Indonesia, kelompok Fretilin lebih dulu mendeklarasikan kemerdekaan Timor Leste pada 28 November 1975. Bentrok antara militer Indonesia dan kelompok pro-kemerdekaan seperti Fretilin tak terhindarkan, namun Indonesia yang punya pasukan dan persenjataan lebih mumpuni tetap mampu menduduki Timor Portugis hingga menjadikannya sebagai provinsi ke-27 dengan nama Timor Timur.
Pendudukan Indonesia baru berakhir pada 1999 setelah hasil referendum menunjukkan bahwa rakyat Timor Timur memilih untuk merdeka dan Indonesia resmi angkat kaki. Timor Leste terlebih dahulu menjalani transisi pemerintahan di bawah PBB (UNTAET) hingga akhirnya merdeka penuh pada 2002.
Tidak ada yang membantah kelamnya sejarah masa lalu antara Indonesia dan Timor Leste, apalagi berusaha menghapusnya dari ingatan publik. Kedua belah pihak tetap mengingat apa yang pernah terjadi di Bumi Lorosae, tetapi alih-alih memilih menyimpan dendam sejarah, Indonesia dan Timor Leste justru memberi contoh kepada dunia tentang bagaimana merespons masa lalu dengan bersama-sama menatap masa depan.
“Nah, ini menjadi contoh dunia. Kita ke mana-mana, dunia tanya, bagaimana bisa negara yang kehilangan seperempat penduduk dari perang itu justru sekarang menjadi saudara?” kata Savio.
Sebagai seorang diplomat, Savio punya jawabannya. Menurutnya, dalam perang sudah tentu ada korban dari kedua sisi, dan para korban konflik Indonesia dan Timor Leste sebetulnya sekaligus juga korban dari Perang Dingin. Indonesia memang beralasan invasi ke Timor Portugis adalah untuk menjaga stabilitas kawasan dan mencegah pengaruh komunis di Asia Tenggara.
“Kita semua tahu bahwa semua itu terjadi setelah Saigon jatuh, Indochina itu menjadi komunisme. Jadi, orang khawatir ketika itu,” paparnya.
Invasi Indonesia ke Timor Portugis memang terjadi tak lama setelah kekalahan Amerika Serikat (AS) yang membawa dalam Perang Vietnam. AS dan sekutunya yang anti-komunis berperang mendukung Vietnam Selatan untuk melawan Vietnam Utara yang didukung oleh negara-negara komunis seperti Uni Soviet dan Tiongkok. Setelah kekalahan itu, Presiden AS Gerald Ford dan Menteri Luar Negeri Henry Kissinger sempat mengunjungi Jakarta pada Desember 1975.
“Ford dan Kissinger datang ke Jakarta, meminta Presiden Soeharto untuk ambil Timur Leste. Jadi, di Timur Leste juga sadar bahwa ini kita sama-sama jadi korban. Jadi, memang masih ada orang satu dua yang kadang-kadang tidak setuju dengan ide itu,” beber Savio.
Persaudaraan Indonesia dan Timor Leste
Ada satu hal yang bisa membuktikan kedekatan antara masyarakat Indonesia dan Timor Leste: orang Indonesia yang datang akan disambut hangat jika berbicara dengan bahasa Indonesia. Kedekatan ini bahkan sebetulnya sudah terjalin sejak konflik masih berlangsung sekalipun.
“Karena merasa senang. Dan juga menarik kalau Anda perhatikan di Timor selama perang 24 tahun itu, tidak ada satupun warga sipil Indonesia yang meninggal. Jadi, mereka yang berperang juga targetnya militer dengan militer.”
Hanya saja, kedua negara punya pekerjaan rumah untuk terus menjaga hubungan erat. Masih banyak generasi muda Indonesia yang belum mengenal Timor Leste secara utuh. Savio sendiri mengaku kerap kali mendapat pertanyaan dari anak muda Indonesia tentang seluk-beluk Timor Leste.
“Saya berpikir, saudara-saudara kita di Indonesia umurnya 25 tahun, 30 tahun sekarang. Itu rata-rata tidak mengenal Timor,” ujar Savio.
“Presiden Yudhoyono bilang kita ini saudara, brothers and sisters. Tapi, kalau kita tidak kenal, itu menjadi tantangan,” pungkasnya.


