aiesec in unila terbang ke vietnam untuk mengajar pulang membawa pengalaman baru dari nang mai kindergarten - News | Good News From Indonesia 2026

AIESEC in Unila: Terbang ke Vietnam untuk Mengajar, Pulang Membawa Pengalaman Baru dari Nang Mai Kindergarten

AIESEC in Unila: Terbang ke Vietnam untuk Mengajar, Pulang Membawa Pengalaman Baru dari Nang Mai Kindergarten
images info

program Outgoing Global Volunteer @AIESEC in Unila


Tidak semua perjalanan volunteer berakhir dengan sekadar sertifikat dan kenangan foto. Bagi Chelsea Olivia Kanya Putri, mahasiswa Universitas Lampung yang mengikuti program Outgoing Global Volunteer AIESEC in Unila, empat minggu di Nang Mai Kindergarten, Hanoi, Vietnam, justru berbuah sesuatu yang jauh lebih berharga: ikatan kekeluargaan yang melampaui batas negara dan bahasa.

Program yang berlangsung dari 1—29 Juli 2026 ini membawa Chelsea untuk terlibat langsung dalam proyek Global Classroom, mendampingi lebih dari 50 anak dari tiga kelompok usia berbeda bersama para guru lokal Nang Mai Kindergarten.

Namun, di balik agenda mengajar dan aktivitas kreatif yang padat, tumbuh sesuatu yang tidak tertulis dalam rencana kerja mana pun, yaitu kedekatan emosional yang tulus antara Chelsea, anak-anak, dan para guru.

Sejak hari pertama menginjakkan kaki di Nang Mai Kindergarten, Chelsea disambut dengan keramahan yang membuat proses adaptasinya berjalan jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan sebelumnya.

baca juga

Para guru di sana tidak hanya berperan sebagai rekan kerja, tetapi juga menjadi figur pendukung yang membuatnya merasa diterima sepenuhnya di lingkungan baru.

"Para guru di Taman Kanak-kanak Nang Mai sangat mendukung dan ramah, yang membuat proses adaptasi saya berjalan lancar dan nyaman," ungkap Chelsea.

Kehangatan ini kemudian merembet pada interaksinya dengan anak-anak. Melalui kegiatan kreatif seperti menari, bermain, dan belajar bahasa Inggris dasar bersama anak-anak usia 2 hingga 7 tahun, Chelsea perlahan membangun kedekatan yang tulus, jauh dari kesan formal seorang pengajar dengan muridnya.

Anak-anak yang awalnya mungkin canggung dengan kehadiran wajah baru, lambat laun menunjukkan antusiasme dan kepercayaan yang tumbuh setiap harinya.

baca juga

Bagi Chelsea, pengalaman ini jauh melampaui ekspektasinya sejak awal. Ia menyebut proyek Global Classroom sebagai pengalaman luar biasa yang benar-benar melampaui bayangannya, sebuah proyek yang terorganisir dengan baik dan memberikan dampak nyata dalam menciptakan ruang belajar yang interaktif dan menyenangkan bagi anak-anak.

Namun, yang paling membekas baginya bukan hanya soal capaian pembelajaran, melainkan hubungan personal yang terbangun sepanjang empat minggu tersebut.

Ikatan antara dirinya, para guru, dan anak-anak di Nang Mai Kindergarten tumbuh menjadi sesuatu yang menyerupai hubungan keluarga, penuh kehangatan dan ketulusan yang sulit ia gambarkan dengan kata-kata.

"Ikatan yang saya jalin dengan para guru dan anak-anak di sana terasa seperti keluarga, dan itu adalah kenangan yang akan saya hargai selamanya," tutur Chelsea.

baca juga

Pengalaman lintas budaya semacam ini mengajarkan Chelsea bahwa kedekatan emosional dan rasa saling percaya dapat terbangun meski dibatasi oleh perbedaan bahasa, budaya, dan latar belakang.

Anak-anak di Nang Mai Kindergarten mungkin tidak sepenuhnya memahami bahasa ibu Chelsea, begitu pula sebaliknya, namun bahasa universal seperti senyuman, tarian bersama, dan permainan sederhana mampu menjembatani jarak tersebut.

Ia pun menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tugas mengajar semata, melainkan sebuah perjalanan bermakna yang turut membentuk kemampuannya beradaptasi dan memahami nilai-nilai kemanusiaan secara lebih mendalam.

Rasa syukur dan kebanggaan menjadi bagian dari inisiatif ini terus ia bawa hingga kini, jauh setelah program tersebut usai.

baca juga

Empat minggu mungkin terdengar singkat, tetapi bagi Chelsea, waktu tersebut cukup untuk menumbuhkan hubungan yang akan terus ia kenang sepanjang hidupnya. Kisahnya menjadi pengingat bahwa program volunteer internasional tidak hanya soal transfer ilmu atau keterampilan, tetapi juga soal membangun koneksi manusia yang tulus lintas negara.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.