Kuliah daring memang punya banyak kelebihan.
Benar, mahasiswa tidak perlu menyiapkan waktu lebih untuk datang ke kampus. Mahasiswa bisa mengikuti kelas dari rumah. Akan tetapi, bagaimana jika sistem yang dianggap mudah itu juga punya kelemahan?
Itulah yang dirasakan Idris Yakub dan Wahyuni Adam ketika sedang menempuh pendidikan sarjana secara daring di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Pasangan suami istri asal Halmahera Selatan ini tidak kuliah dari rumah, tapi dari bukit. Mereka harus mendaki bukit untuk bisa mengikuti perkuliahan.
Jarak rumah ke bukit pun tidak dekat. Idris mengungkapkan bahwa untuk menuju bukit, dirinya perlu menghabiskan waktu sekitar 30 menit.
Itu belum termasuk persoalan listrik yang belum tersedia di tempat tinggal mereka. Tentunya kendala itu menambah level perjuangan Idris dan Wahyuni saat mengikuti perkuliahan.
“Jadi kendalanya saat kuliah, kami harus naik bukit sekitar 30 menit untuk mencari sinyal. Belum lagi listrik yang belum tersedia,” ungkap Idris, sebagaimana dikutip dari laman resmi Umsura.
Idris dan Wahyuni punya semangat yang kuat. Walaupun dihadapkan keterbatasan akses, pasangan ini tetap berhasil menyelesaikan kuliah. Apalagi, usia mereka tak lagi muda.
Malahan keduanya kompak menamatkan program studi yang sama pada waktu yang sama. Idris dan Wahyuni mengambil prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Keduanya pun bergandeng tangan untuk mengikuti wisuda setelah perjuangannya menuntaskan pendidikan.
Untuk menghadiri prosesi wisuda di Surabaya, mereka harus menempuh perjalanan laut selama kurang lebih tujuh hari.
Sama-Sama Guru, Mengejar Gelar Sarjana Berdua
Idris dan Wahyuni punya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi lewat Beasiswa Kualifikasi Guru Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan.
Program ini menyasar para guru yang sudah lama mengabdi, tetapi belum memiliki kualifikasi pendidikan sarjana.
Sebelum Idris dan Wahyuni terpilih menjadi penerima beasiswa tersebut, pemerintah daerah lebih dahulu melakukan pendataan ke sekolah-sekolah. Pendataan itu tujuannya untuk mengetahui sekaligus verifikasi para guru yang memenuhi persyaratan.
Nah, melalui program tersebut, Idris dan Wahyuni memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di Umsura.
Keduanya pun mengambil program studi PGSD melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Ini merupakan mekanisme pengakuan atas capaian pembelajaran yang diperoleh seseorang dari pendidikan formal, nonformal, informal, maupun pengalaman kerja.
Gampangnya, pengalaman dan kompetensi yang sudah dimiliki seseorang dapat dinilai untuk diakui sebagai bagian dari proses pembelajaran di perguruan tinggi. Dengan begitu, mahasiswa tidak harus selalu memulai seluruh proses pendidikan dari nol.
Jalur ini menjadi salah satu alternatif bagi para guru berpengalaman yang ingin meningkatkan kualifikasi akademiknya.
Sistem ini sangat membantu Idris dan Wahyuni, sebab mereka punya kesempatan menjadi mahasiswa tanpa harus meninggalkan daerah tempat tinggalnya.
Tujuh Hari Naik Kapal Demi Melihat Kampus
Setelah berjuang menyelesaikan perkuliahan, Idris dan Wahyuni rupanya perlu mempersiapkan prosesi wisuda.
Apalagi mereka harus berlayar selama kurang lebih tujuh hari dari Halmahera Selatan menuju Surabaya. Meski demikian, keduanya tidak sendirian. Perjalanan tersebut juga diikuti oleh ratusan wisudawan lain asal Halmahera Selatan.
“Kami ratusan wisudawan kompak naik kapal agar lebih hemat. Senang sekali ketika melihat kampus Umsura,” tutur Wahyuni.
Tak kapok dengan pengalaman dan perjalanan yang telah dilalui, Idris dan Wahyuni malah terbuka dengan kesempatan kuliah pascasarjana.
Ya, mereka mengungkapkan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2) di Umsura apabila kembali memperoleh kesempatan beasiswa.


