Noerma Juli Azhari sempat meragukan kemampuannya sendiri untuk menuntaskan pendidikan doktoral. Sebab, ia harus menjalani peran sebagai mahasiswi sekaligus sebagai seorang ibu.
Salah satu momen yang cukup berat baginya adalah ketika ia harus membagi waktunya antara keluarga dan melakukan penelitian di laboratorium.
Ditambah, Noerma juga menjalani penelitian dalam kondisi tengah hamil. Aktivitas di laboratorium yang melibatkan bahan kimia membuatnya perlu membatasi sejumlah pekerjaan. Akibatnya, penelitian yang dilakukan juga harus menyesuaikan dengan kondisi tersebut.
Meskipun dihadapkan berbagai kendala, Noerma pada akhirnya bisa memakai toga tahun ini. Ia ingin menceritakan dengan bangga kepada anaknya bahwa Noerma sukses menuntaskan studinya.
Ia tidak ingin anaknya kelak melihat kelahirannya sebagai alasan sang ibu gagal menyelesaikan pendidikan.
โSaya seorang ibu, kalau saya ngomong ke anak saya, โIbu gagal S3 nih gara-gara kamu lahir,โ kan nggak mungkin ya,โ ujarnya, sebagaimana dikutip dari laman resmi ITB.
Malahan, mahasiswi Doktor Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) itu meraih predikat lulusan terbaik sekaligus publikasi penelitian terbaik pada wisuda ITB Agustus 2026.
Beratnya Menjadi Ibu Sekaligus Melakukan Riset Doktoral
Menjalani pendidikan doktoral jelas sudah menuntut ketekunan. Tantangan menjadi berkali lipat ganda ketika penelitian yang digarap harus berjalan bersamaan dengan kehamilan dan peran sebagai ibu.
Apalagi, penelitiannya dilakukan di laboratorium Teknik Kimia ITB, dengan melibatkan bahan kimia, sehingga ia perlu mempertimbangkan risiko paparan ketika sedang hamil.
Untungnya, dosen pembimbing memberikan pengertian. Noerma bisa melibatkan mahasiswa sarjana dan magister untuk membantu pekerjaan laboratorium ketika ia perlu membatasi aktivitasnya.
Tak hanya dari kampus, keluarga juga mendukung penuh atas proses dan perjalanan yang ditempuh Noerma.
Suami dan kedua orang tua Noerma menjadi bagian dari dukungan yang membuatnya tetap dapat menjalani pendidikan doktoral.
Walau demikian, Noerma tetap harus pintar menentukan prioritas dan mengomunikasikan kebutuhannya kepada orang-orang yang terlibat dalam proses pendidikannya.
Ia menyebut beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga menjadi salah satu hal yang membuatnya semakin berkomitmen menyelesaikan pendidikan.
โYang kedua adalah prioritas, karena beasiswa sangat perhatian. Yang ketiga selalu komunikasikan apa kebutuhan kita, apa yang menjadi concern kita,โ ujarnya.
Ketertarikannya pada Penelitian Dimulai dari Bangku Kuliah
Walaupun prosesnya tidak mudah, Noerma tidak melakoni penelitan dengan terpaksa. Sebab, dirinya memang sudah tertarik melakukan penelitian sejak masih berstatus sebagai mahasiswa sarjana.
Ia menempuh pendidikan di Program Studi Kimia Universitas Brawijaya. Di kampus itu, Noerma mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Nah dari program itulah, ia merasakan tantangan sekaligus kepuasan saat meneliti.
Kemudian, Noerma melanjutkan pendidikannya dengan mengambil magister di Jurusan Teknik Kimia ITB. Noerma mulai menulis artikel ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal internasional. Ia juga belajar mengenai proses publikasi dan bagaimana memilih jurnal yang sesuai dengan bidang penelitian.
Sebelum melanjutkan pendidikan doktoral, ia pernah terlibat sebagai asisten dan berkolaborasi dalam sejumlah kegiatan penelitian. Pengalaman tersebut membuat ketertarikannya pada penelitian semakin kuat.
โDari program itu saya jadi senang dengan penelitian,โ ungkapnya.
Dari latar belakang Kimia, Noerma kemudian melanjutkan perjalanan akademiknya di Teknik Kimia.
Perpindahan bidang tersebut membuat pengetahuan kimia yang telah dipelajarinya menjadi dasar untuk mengembangkan material dan katalis dalam konteks yang lebih aplikatif.
Dalam pendidikan doktoralnya, Noerma berfokus pada pengembangan dan aplikasi material serta katalis dalam proses konversi.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah emisi karbon dan kebutuhan terhadap teknologi energi yang lebih berkelanjutan.
Lewat penelitian tersebut, ia mengkaji penggunaan katalis dalam proses konversi untuk menghasilkan senyawa bernilai, termasuk benzena, toluena, dan xilena.
Eksperimen Tidak Selalu Berjalan Sesuai Rencana
Menjadi peneliti berarti harus siap menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan. Noerma mengalaminya selama menjalankan penelitian doktoral.
Sejumlah pendekatan harus dicoba, dievaluasi, kemudian dikembangkan kembali berdasarkan hasil eksperimen. Ketika satu cara tidak memberikan hasil yang diharapkan, ia perlu mencari pendekatan lain.
Ia tidak menganggap hasil penelitian yang meleset dari harapan sebagai akhir dari proses. Setiap eksperimen tetap dapat memberikan pengetahuan yang berguna untuk menentukan langkah berikutnya.
โPokoknya ketika kita yakin kita optimistis sambil kita jalan, improvisasi, kita cari jalan lain dengan optimistis bahwa suatu saat ini akan menghasilkan sesuatu. Ini merupakan mindset penting kita sebagai seorang peneliti,โ tuturnya.
Setelah Menjadi Doktor, Noerma Masih Melanjutkan Riset
Pencapaian tersebut tidak membuat Noerma selesai. Malahan, ia kini melanjutkan kegiatan akademik melalui program postdoctoral di bidang Teknik Kimia, Center for Catalysis Engineering (CCE).
Postdoctoral merupakan tahap penelitian setelah seseorang menyelesaikan pendidikan doktoral. Peneliti dapat memperdalam bidang yang telah ditekuni sekaligus mengembangkan penelitian lebih lanjut.
Noerma memilih tetap melanjutkan riset di bidang katalisis.
Ia berharap penelitian yang dilakukan dapat terus mengembangkan pengetahuan dan teknologi yang berpotensi mendukung energi bersih serta membantu menjawab persoalan lingkungan.
Baginya, keberhasilan sebuah teknologi tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan material, produk, atau proses baru.
Teknologi juga perlu dilihat dari relevansinya terhadap kebutuhan masyarakat.
ย


