menghempaskan stigma kuno cara gwsm menyulap jathilan menjadi pop culture yang digandrungi masyarakat - Culture | Good News From Indonesia 2026

Menghempaskan Stigma Kuno: GWSM Menyulap Jathilan Menjadi Budaya Pop yang Disukai Masyarakat

Menghempaskan Stigma Kuno: GWSM Menyulap Jathilan Menjadi Budaya Pop yang Disukai Masyarakat
images info

Beberapa penampilan dari tim Garuda Wisnu Satria Muda (GWSM) Magelang | Foto: Instagram @garudawisnusatriamuda


Kesenian jathilan yang dulu sering dipandang sebelah mata kini justru digandrungi anak muda lintas generasi. Adalah Garuda Wisnu Satria Muda (GWSM), sanggar kesenian asal Desa Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Magelang, yang berhasil membalikkan stigma itu. Lewat sentuhan kreativitas digital, mereka membuktikan bahwa budaya tradisional bisa tetap relevan tanpa kehilangan akar nilainya.

Dalam setiap pertunjukannya, GWSM menampilkan beragam jenis tarian tradisional, mulai dari Tari Warok, Kamarogan, Bopo, Gedruk, hingga Tari Pendet, yang dikemas ulang dengan iringan musik dan visual modern agar lebih memikat penonton muda. Tak berhenti di panggung tari, mereka juga merambah dunia sinematografi lewat produksi film pendek dan serial drama dengan beragam genre, mulai dari drama yang mengharukan, komedi ringan, hingga cerita fiksi bernuansa horor.

Perjalanan GWSM bukan cerita instan. Semua bermula dari empat pemuda desa dengan modal nekat dan minim pengalaman seni, yang perlahan tumbuh menjadi fenomena budaya dengan jutaan penggemar di dunia maya.

baca juga

Awal Mendirikan Sanggar Kesenian

GWSM berdiri sejak 2015, digagas oleh Yoyok bersama tiga rekannya, yakni Nemo, Ado, dan Enthul. Berdasarkan penuturan yang dimuat di Kompasiana, keempatnya sama sekali tidak punya latar belakang seni formal saat memulai, namun tekad melestarikan budaya Jawa mendorong mereka nekat membentuk kelompok kesenian ini.

"Berawal dari pemikiran optimis yang sangat nekat, kami berempat memulai dengan segala sesuatu yang serba minim," ujar Yoyok dalam vlog YouTube nya

Modal awal mereka pun sederhana, hanya satu juta rupiah hasil kemenangan karnaval desa yang dipakai untuk membuat kostum sendiri. Dari titik itu, GWSM terus berkembang menjadi sanggar kesenian yang menaungi berbagai bentuk seni pertunjukan, mulai dari tari, musik, hingga teater, sebagaimana dijelaskan dalam laman resmi Desa Sumberarum.

Menariknya, tarian yang mereka bawakan tidak melulu berasal dari satu daerah. Selain jathilan dan warok yang memang lekat dengan tradisi Jawa Tengah dan Yogyakarta, GWSM turut mengemas ulang berbagai tarian nusantara, termasuk beberapa yang sebenarnya berasal dari luar Jawa, dengan sentuhan musik dan visual modern agar lebih mudah diterima generasi muda lintas daerah.

Garuda Wisnu Satria Muda (GWSM) Magelang | Sumber Foto: Web resmi Desa Sumberarum | Humas Desa
info gambar

Garuda Wisnu Satria Muda (GWSM) Magelang | Sumber Foto: Web resmi Desa Sumberarum | By: Humas Desa 


Kekuatan Konten Digital di Balik Popularitas Jathilan

Titik balik GWSM terjadi ketika Yoyok iseng mengunggah rekaman latihan dan pentas mereka ke YouTube, awalnya hanya agar memori ponsel tidak penuh. Siapa sangka, langkah sederhana itu justru membuka jalan besar bagi popularitas mereka di ranah digital.

Kini, kanal YouTube GWSM telah menembus lebih dari 7,6 juta subscriber, menjadikannya salah satu sanggar kesenian tradisional dengan pengikut daring terbesar di Indonesia. Berdasarkan observasi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), konsistensi mengunggah konten sejak 2020 menjadi kunci utama lonjakan popularitas mereka. Yoyok pun menjelaskan bagaimana strategi konten menjadi fondasi keberlanjutan GWSM.

"Agar GWSM tetap sustain, kita harus pintar melihat kebutuhan pasar yang sedang hype dan menyuguhkan konten unforgettable yang mampu menyentuh emosi penonton," ungkapnya

Bukan hanya konten tari, GWSM bahkan merambah dunia sinematografi lewat produksi film pendek dan serial drama, seperti Pembarong dan Satria Kamarogan The Series. Kreativitas ini diwadahi lewat tiga sub-tim produksi, yakni Sotop TV, Kusumawara Official, dan Y2K Crew, yang secara rutin berkompetisi lewat Festival Film GWSM untuk menjaga kualitas dan semangat berkarya di internal sanggar.

baca juga

Menjawab Kritik dengan Semangat Melestarikan Budaya

Popularitas besar tentu berbanding lurus dengan sorotan publik yang tidak selalu positif. Sebagai kelompok kesenian yang tumbuh dari desa kecil, GWSM kerap menghadapi kritik maupun cibiran, mulai dari keraguan soal orisinalitas seni yang mereka bawakan hingga anggapan bahwa jathilan sudah tidak relevan di tengah gempuran budaya populer modern.

Alih-alih terpuruk oleh kritik tersebut, GWSM memilih untuk tetap fokus pada misi awal mereka, yakni menjaga budaya tetap hidup dengan cara yang menyenangkan bagi generasi muda. Sang kapten GWSM menegaskan hal ini secara terbuka kepada media Pandangan Jogja.

"Mungkin kita juga harus membuka pikiran, bahwa kita punya prinsip kalau kesenian itu harus menyenangkan. Kita menjangkaunya para anak muda, karena itu salah satu harapan kita biar kesenian tidak punah," ujarnya.

Sikap ini pula yang membuat GWSM terus melaju meski diterpa berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan dana, minimnya peralatan seni, hingga stigma bahwa tradisi Jawa sudah usang. Dampaknya pun nyata bagi Desa Sumberarum, di mana popularitas GWSM turut mendongkrak kunjungan wisatawan dan membuka peluang desa ini bertransformasi menjadi destinasi wisata budaya yang lebih dikenal luas.

Perjalanan GWSM sangat berarti dalam menjunjung pelestarian budaya, karena mereka terus semangat dalam mempertahankan dan melestarikan kesenian tanpa merubah keasliannya, namun tetap bisa mengemas budaya agar relevan mengikuti zaman.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

US
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.