dua dekade setelah s1 ainun rasakan bedanya ketika kembali jadi mahasiwa dulu bergantung pada reader kini lebih mandiri - News | Good News From Indonesia 2026

Dua Dekade Setelah S1, Ainun Rasakan Bedanya Ketika Kembali Jadi Mahasiwa: Dulu Bergantung pada Reader, Kini Lebih Mandiri

Dua Dekade Setelah S1, Ainun Rasakan Bedanya Ketika Kembali Jadi Mahasiwa: Dulu Bergantung pada Reader, Kini Lebih Mandiri
images info

Ainun, guru tunanetra di SLB Negeri Tasikmalaya, meraih S2 Pendidikan Khusus UPI setelah 20 tahun lulus S1. (UPI)


Ainun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dan kini ia menemukan perbedaan cara belajar dibandingkan waktu itu.

Dua puluh tahun lalu, Ainun perlu bantuan orang lain untuk membacakan materi kuliah. Waktu itu memang masih sedikit teknologi yang bisa membantu dan mempermudah pekerjaan kawan berkebutuhan khusus.

Kini, guru tunanetra di SLB Negeri Tasikmalaya itu sudah bisa mengetik, mengerjakan tugas, hingga menyelesaikan tesis secara lebih mandiri dengan bantuan teknologi pembaca layar.

Kemudahan itu membuka jalan Ainun untuk dapat kembali duduk di bangku Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Setelah menyelesaikan S1 Pendidikan Sejarah sekitar dua dekade lalu, ia kini resmi menyandang gelar magister dari Program Studi Pendidikan Khusus UPI.

baca juga

Tentunya, kuliah S2 bukan untuk pamer gelar, melainkan sebagai upaya Ainun agar mampu menyelaraskan pendidikan akademiknya dengan pekerjaan yang sudah ia jalani selama bertahun-tahun.

Ainun memang sudah menekuni profesi sebagai guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) sejak berhasil menuntaskan jenjang S1. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Ainun langsung tancap gas ketika mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

Pilihan program studinya pun tidak jauh dari ruang kelas tempat ia mengabdi.

โ€œMakanya sekarang ada kesempatan ngambil S2 di pendidikan khusus biar sesuai dengan lapangan kerjanya, tempat kerjanya,โ€ ujar Ainun melalui laman UPI, dikutip Selasa (20/10/2026).

baca juga

Ainun mengikuti S2 melalui kelas kerja sama dengan sistem blended learning, yaitu pembelajaran yang menggabungkan perkuliahan daring dan luring.

Sebagian besar perkuliahan berlangsung secara daring. Sementara itu, pertemuan tatap muka di kampus hanya dilakukan beberapa kali dalam satu semester.

Model tersebut turut membuat proses kuliahnya lebih memungkinkan untuk dijalani di tengah aktivitasnya sebagai guru.

Kuliah S2 dengan Teknologi yang Lebih Canggih

Ainun merasakan perubahan yang cukup drastis ketika kembali duduk menjadi mahasiswa.

baca juga

Saat menempuh S1 sekitar 20 tahun lalu, teknologi pendukung untuk penyandang disabilitas netra belum secanggih sekarang. Komputer bicara dan laptop dengan pembaca layar belum tersedia seperti saat ini.

Ainun masih membutuhkan bantuan reader atau orang lain untuk membacakan materi perkuliahan. Kondisi tersebut membuat proses belajar jauh lebih bergantung pada bantuan orang lain.

Kini Ainun menggunakan laptop yang dilengkapi NVDA, perangkat lunak pembaca layar yang membantu pengguna tunanetra mengenali informasi yang tampil pada layar komputer.

Dengan bantuan tersebut, ia dapat mengetik dan mengerjakan tugas secara lebih mandiri. Ketergantungannya pada orang lain untuk membaca materi pun berkurang.

baca juga

Meski sudah dibekali teknologi yang lebih maju, Ainun mengaku masih menemukan kendala ketika berhadapan dengan sejumlah laman digital UPI.

Beberapa bagian situs kampus, menurut pengalamannya, belum sepenuhnya ramah bagi pengguna pembaca layar. Ia pernah mengalami kesulitan ketika hendak mengunggah tugas karena ada bagian laman yang tidak dapat terbaca dengan baik oleh perangkat tersebut.

Persoalan serupa juga muncul ketika ia mengunggah tesis melalui laman repository.

Oleh karena itu, Ainun menilai aksesibilitas digital perlu menjadi perhatian.

baca juga

โ€œAksesibilitas internetnya itu seharusnya sesuai dengan ketentuan internasional,โ€ tuturnya.

Meski masih menemukan kendala pada akses digital, Ainun menilai pelayanan orang-orang di lingkungan UPI sudah ramah. Fasilitas kampus juga menurutnya sudah cukup baik.

Pendidikan yang Dikejar Bukan Hanya Soal Gelar

Pengalaman Ainun sebagai mahasiswa sekaligus guru membuat pandangannya tentang pendidikan lebih luas dan tidak berbatas hanya pada pencapaian akademik.

Ia melihat masih ada penyandang disabilitas yang menghadapi stigma di lingkungan masyarakat. Hal tersebut juga ia temui melalui murid-murid yang diajarnya.

baca juga

Menurut Ainun, penyandang disabilitas masih kerap dianggap sebagai masyarakat kelas dua atau ditempatkan pada level yang berbeda dari masyarakat nondisabilitas.

Padahal, ia meyakini penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang belum tentu terlihat apabila tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkannya.

Pendidikan dan teknologi, menurutnya, menjadi dua hal yang penting untuk membuka kesempatan tersebut.

โ€œMasyarakat kita tidak akan bisa pintar, termasuk disabilitas, kalau kita tidak terbuka dengan pendidikan dan teknologi. Jadi jangan terlalu banyak stigma. Pendidikan dan latihan itu penting sekali,โ€ tegasnya.

baca juga

Sementara kepada orang tua yang memiliki anak disabilitas, ia berpesan agar tidak berkecil hati.

Ia mendorong para orang tua untuk tetap memberikan kesempatan pendidikan, termasuk hingga perguruan tinggi.

ย 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.