Dunia kereta api di Nusantara saat ini menyajikan inovasi-inovasi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Hal tersebut tidak lepas dari perjalanan panjang sejarah perkeretaapian Indonesia sampai ditetapkannya Hari Kereta Api Nasional.
Ya, 28 September ditetapkan sebagai Hari Kereta Api Nasional. Pada tahun 2026 ini, kita akan merayakan peringatan ke-81 Hari Kereta Api Nasional.
81 tahun menemani Kawan bolak-balik kuliah hingga kini menjadi angkatan kerja, apa Kawan GNFI tahu bagaimana sejarah Hari Kereta Api Nasional? Bagi Kawan yang kurang familiar dengan sejarah perkeretaapian Indonesia, mari kita kenali dan dalami isinya bersama agar perjalanan singkat Kawan terasa lebih bermakna.
Sejarah Hari Kereta Api Nasional

Dilansir dari rilis.id, sejarah kereta api Indonesia bermula dengan pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr LAJ Baron Sloet van de Beele pada 17 Juli 1864.
Kemudian pada 1876, jalur pertama kereta api Indonesia di Desa Kamijen, Semarang, yang saat ini menjadi Stasiun Gudang Semarang dioperasikan. Pada masa itu, kereta api yang digunakan masih menggunakan mesin uap pada lokomotif kereta, di mana petugasnya bekerja dengan membakar kayu dan menjaga api tetap menyala.
Buku Transformasi Organisasi Kereta Api Indonesia (KAI) merangkum sejarah Hari Kereta Api Nasional secara lebih detail. Literatur tersebut mengungkapkan bahwa pembangunan jalur kereta api pada tahun 1864 dipegang oleh perusahaan swasta bernama Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dengan rel kereta api berukuran 1435 mm.
Di samping itu, pada tanggal 8 April 1875, pemerintah Hindia Belanda juga membuat jalur kereta api milik negara melalui Staatssporwegen (SS) dengan rute pertama Surabaya-Pasuruan-Malang. Keberhasilan pembangunan NISM dan SS kemudian mengundang para investor untuk membangun lebih banyak jalur kereta api di Pulau Jawa.
Pembangunan itu juga menular ke pulau lain, seperti di Aceh (1876), Sumatera Utara (1889), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), dan Sulawesi (1922). Hingga akhir tahun 1928, pemerintah Hindia Belanda berhasil membangun 4.089 km jalur kereta, sementara perusahaan swasta memiliki sepanjang 3.375 km.
Namun, jalur kereta ini tidak selamanya dimiliki oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah Belanda menyerah tanpa syarat pada tahun 1942, Jepang mengambil alih dunia kereta api di Nusantara dan mengganti namanya menjadi Rikuyu Sokyuku (Dinas Kereta Api).
Meski begitu, penguasaan Jepang terhadap dunia kereta api Nusantara juga berlangsung singkat. Pada 28 September 1945, sekitar sebulan setelah proklamasi, para pegawai kereta api Indonesia mengambil alih Balai Besar Kereta Api Bandung dari kekuasaan kolonial Jepang.
Dari momen itu, 28 September ditetapkan sebagai Hari Kereta Api Nasional Indonesia. Hal ini sekaligus menandai berdirinya Djawatan Kereta Api Indonesia Republik Indonesia (DKARI), organisasi yang menjadi awal mula KAI.
Apakah Hari Kereta Api Nasional Sama dengan HUT KAI?

Apakah Hari Kereta Api Nasional Sama dengan HUT KAI? | Unsplash @Faisal Hanafi
Salah satu BUMN kesayangan masyarakat akan berulang tahun bulan September ini, tepatnya merayakan HUT KAI ke-81 yang memang selalu diperingati pada tanggal 28 September setiap tahunnya.
Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan di atas. Mengingat sejarah PT KAI berkaitan dengan sejarah Hari Kereta Api Nasional dan bagaimana pembangunan rel kereta api serta trem hadir di Indonesia, maka tak mengherankan jika kedua perayaan tersebut dirayakan pada momen yang sama.

Potret Pengambilalihan Balai Besar Bandung 28 September 1945 | KAI dan DKARI Setahoen Merdeka
Hal tersebut juga diungkapkan KAI melalui laman resminya. Organisasi tersebut bercerita bahwa pasca berhasil mengambil alih perkeretaapian di Jakarta pada awal September 1945, rombongan pekerja kereta api bergerak memadati halaman depan Balai Besar Bandung pada 28 September 1945.
Perwakilan dari Jakarta dan sejumlah pemuda yang ditunjuk dari massa berunding dengan pimpinan tentara Jepang di ruangan direktur. Kemudian, setelah kepergian Jepang, bendera Merah Putih akhirnya berhasil berkibar di halaman depan kantor tersebut. Bersamaan dengan prosesi bersejarah itu, lagu Indonesia Raya pun dinyanyikan.
Nama PT KAI Sebelumnya Ternyata Melewati Banyak Pergantian

Sejarah Hari Kereta Api Nasional dan Nama PT KAI Sebelumnya | Unsplash @Mehmed Youssef
Dilansir dari news.okezone.com, pergantian nama mengacu pada perjanjian damai Konferensi Meja Bundar (KMB) Desember 1949. Konferensi itu menerangkan keharusan dilakukan pengambilalihan aset-aset milik pemerintah Hindia Belanda. Salah satunya, pengalihan dalam bentuk penggabungan antara DKARI dan SS/VS menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) pada tahun 1950.
Lalu pada tanggal 25 Mei DKA berganti menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA). Pada tahun tersebut mulai diperkenalkan juga lambang Wahana Daya Pertiwi yang mencerminkan transformasi perkeretaapian Indonesia sebagai sarana transportasi andalan guna mewujudkan kesejahteraan bangsa dan tanah air.
Selanjutnya, pemerintah mengubah struktur PNKA menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada tahun 1971. Dalam rangka meningkatkan pelayanan jasa angkutan, PJKA kemudian berubah bentuk menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) pada tahun 1991.
Tahap terakhir, Perumka berubah menjadi Perseroan Terbatas, PT. Kereta Api (Persero) pada tahun 1998. Pada tahun 2011 nama perusahaan PT. Kereta Api (Persero) berubah menjadi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan meluncurkan logo baru.
Artikel ini diperbarui pada tanggal 21 September 2026 pukul 13.15 WIB.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


