Membahas kekayaan kuliner Indonesia memang tidak akan pernah ada habisnya. Salah satu hidangan ikonik yang memiliki cerita masa lalu menarik adalah Sayur Babanci, atau yang sering disebut juga Ketupat Babanci.
Hidangan ini merupakan salah satu warisan budaya kuliner asli tanah Betawi yang kini keberadaannya semakin langka dan sulit ditemui.
Uniknya, meskipun nama kuliner ini mengandung kata “sayur”, tetapi tidak ada sayuran sama sekali di dalamnya. Sayur babanci justru didominasi oleh potongan daging kepala sapi yang disajikan bersama kuah santan kental yang kaya akan rempah-rempah.
Sehingga, keunikan nama ini tentu melahirkan banyak pertanyaan bagi siapa saja yang baru pertama kali mendengarnya.
Menurut Aripin, Harry Wiyanto, dan Iriana Wihardja Sumintapura dalam risetnya yang dimuat di jurnal Labs: Jurnal Bisnis dan Manajemen, menyebutkan bahwa kata "babanci" merupakan singkatan dari perpaduan kata babah dan enci.
Istilah tersebut merujuk pada sebutan untuk masyarakat keturunan peranakan Tionghoa yang dahulu banyak menetap di kawasan Jakarta. Melalui perpaduan nama ini, Sayur Babanci menjadi bukti nyata bagaimana budaya masyarakat Tionghoa peranakan berbaur dan saling memengaruhi kebudayaan lokal masyarakat Betawi dalam urusan dapur.
Jika ditelusuri lebih dalam, isi di dalam mangkuk hidangan ini sebenarnya merekam jejak sejarah Jakarta sebagai tempat pertemuan berbagai bangsa.
Karena karakteristik bumbu dan cara pengolahan Sayur Babanci merupakan hasil akulturasi dari tiga budaya besar yang pernah mendominasi kawasan pesisir Jawa.
Pertama, penggunaan kuah bersantan kental merupakan pengaruh kuat dari budaya Melayu yang lazim ditemukan dalam kuliner Nusantara.
Yang kedua, aroma tajam dan kehangatan rasa yang dihasilkan oleh campuran bumbu jintan menjadi penanda adanya pengaruh dari kebudayaan Timur Tengah.
Dan terakhir, semua pengaruh asing tersebut kemudian berpadu dengan memanfaatkan aneka jenis rempah lokal asli Betawi, sehingga terciptalah cita rasa baru yang sangat khas.

Sayur Babanci makanan tradisional khas Betawi | Tangkapan Layar | YouTube Masak TV
Simbol Status Sosial dan Masa Depan Sejarah Sayur Babanci
Melihat proses pembuatannya yang rumit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, Sayur Babanci dipandang sebagai sebuah simbol status sosial yang tinggi pada era Batavia tempo dulu.
Sehingga, tidak bisa sembarangan dinikmati oleh semua kalangan pada masanya.
Berdasarkan dokumentasi sejarah lisan yang dihimpun peneliti, hidangan ini dikategorikan sebagai makanan elite yang biasanya hanya mampu disajikan oleh keluarga para mandor atau tuan tanah.
Kemewahan rasa dari perpaduan daging kepala sapi dan puluhan bumbu ini biasanya baru akan hadir di tengah masyarakat luas ketika momen perayaan besar tiba, seperti pada saat Hari Raya Idul Fitri.
Namun, kemegahan masa lalu masakan ini perlahan mulai meredup dan terancam hilang dari ingatan generasi muda. Bahkan menemukan warung makan yang masih setia menyajikan menu tradisional ini di sudut kota Jakarta sudah menjadi hal yang sangat sulit dilakukan hari ini.
Data riset lapangan dari jurnal tersebut mencatat bahwa salah satu kendala terbesar dalam pelestarian masakan ini adalah hilangnya bahan baku rempah asli di pasaran. Selain itu, proses memasak yang memakan waktu sangat lama juga membuat generasi sekarang enggan meneruskan tradisi ini.
Oleh karena itu, diperlukan komitmen dan kepedulian bersama dari berbagai pihak agar makanan legendaris ini bisa terus bertahan.
Upaya penguatan identitas budaya melalui promosi digital serta inovasi penyajian yang lebih modern diharapkan dapat menjadi jalan keluar agar generasi masa depan tetap dapat mengenal dan mencicipi keunikan sejarah dari hidangan ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


