saat hasil tangkapan tak lagi menentu akuakultur jadi opsi ekonomi masyarakat pesisir - News | Good News From Indonesia 2026

Saat Hasil Tangkapan Tak Lagi Menentu, Akuakultur Jadi Opsi Ekonomi Masyarakat Pesisir

Saat Hasil Tangkapan Tak Lagi Menentu, Akuakultur Jadi Opsi Ekonomi Masyarakat Pesisir
images info

Foto oleh Phuc Ma di Unsplash


Laut menjadi ruang kerja bagi nelayan dan sumber pendapatan bagi banyak keluarga pesisir. Dari perairan laut, payau, hingga tawar, masyarakat mengandalkan hasil tangkapan dan budidaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, perubahan iklim turut memengaruhi kondisi perairan. Perubahan suhu, pemutihan terumbu karang, pengasaman laut, serta kerusakan ekosistem pesisir dapat memengaruhi sebaran dan jumlah ikan.

Muhammad Hanif Azhar, dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, mengatakan perubahan lingkungan membuat sektor perikanan tangkap menghadapi tekanan yang lebih besar.

β€œTantangan yang dihadapi oleh sektor perikanan tangkap di tengah perubahan iklim yakni terganggunya ekosistem yang menyebabkan produktivitas sumber daya perikanan mengalami penurunan,” ujar Hanif.

Dampak tersebut dirasakan oleh masyarakat pesisir, terutama nelayan tradisional. Ketika hasil tangkapan di sekitar wilayah melaut berkurang, nelayan perlu mencari lokasi yang lebih jauh.

Jarak melaut yang bertambah berarti kebutuhan bahan bakar dan biaya operasional ikut meningkat. Jika hasil tangkapan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, pendapatan nelayan dapat ikut terpengaruh.

Β 

Ekosistem Laut Menentukan Hasil Tangkapan

Perubahan kondisi laut tidak hanya berkaitan dengan suhu air. Pemutihan terumbu karang dapat mengganggu habitat berbagai biota laut, sedangkan pengasaman air laut dapat memengaruhi organisme yang memiliki cangkang atau struktur kapur.

Ketika ekosistem mengalami gangguan, tidak semua spesies dapat beradaptasi dengan kecepatan yang sama. Sebagian populasi dapat menurun, sementara spesies tertentu lebih mampu bertahan.

β€œKerusakan ekosistem pesisir dapat mengurangi produktivitas perikanan. Maka dari itu, upaya perbaikan lingkungan seperti rehabilitasi mangrove dan kawasan pesisir menjadi sangat penting,” jelas Hanif.

Mangrove dan kawasan pesisir berperan sebagai tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai organisme. Pemulihan kawasan tersebut berkaitan dengan kondisi lingkungan sekaligus produktivitas perikanan di sekitarnya.

Hanif menilai perubahan tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan hasil laut dan ekonomi masyarakat pesisir dalam jangka panjang. Ketika hasil tangkapan menurun atau biaya melaut meningkat, rumah tangga nelayan menghadapi tekanan pendapatan yang lebih besar.

Β 

Akuakultur Menjadi Salah Satu Pilihan

Di tengah perubahan tersebut, Hanif membahas akuakultur sebagai salah satu pilihan pengembangan ekonomi perairan. Akuakultur mencakup kegiatan budidaya organisme air dalam lingkungan laut, payau, maupun tawar.

Budidaya memungkinkan pembudidaya memantau kualitas air, kesehatan ikan, kepadatan tebar, dan produktivitas. Pengelolaan yang lebih terukur dapat membantu pembudidaya merencanakan siklus produksi dan kebutuhan operasional.

β€œAkuakultur menjadi salah satu solusi terbaik karena kualitas lingkungan budidaya dapat dipantau dan dikelola dengan baik sehingga produksi lebih terukur dan berkelanjutan,” ucap Hanif.

Meski begitu, akuakultur tidak sepenuhnya terlepas dari risiko perubahan iklim. Kenaikan suhu air, perubahan salinitas, penyakit, banjir, kekeringan, dan kerusakan fasilitas dapat memengaruhi hasil budidaya.

Karena itu, pengembangan akuakultur tidak cukup hanya dengan memilih jenis komoditas. Pembudidaya juga perlu memahami kondisi perairan, kebutuhan teknologi, ketersediaan pakan, biaya produksi, akses pasar, dan risiko lingkungan.

Β 

Rumput Laut hingga Udang Vaname

Hanif menyebut sejumlah komoditas yang dapat dikembangkan berdasarkan jenis perairannya.

Di perairan laut, komoditas yang dapat dibudidayakan antara lain rumput laut dan kerang. Rumput laut dapat dikembangkan untuk kebutuhan pangan, bahan baku industri, maupun produk turunan lain.

Perairan payau dapat digunakan untuk budidaya bandeng, kakap, dan udang vaname. Setiap komoditas memiliki kebutuhan kualitas air, pakan, kepadatan, serta pengelolaan kesehatan yang berbeda.

Sementara itu, lele, gurame, dan nila termasuk komoditas yang dapat dikembangkan di perairan tawar. Komoditas tersebut memiliki pasar domestik dan dapat dibudidayakan dalam berbagai skala.

Pilihan komoditas tetap perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah. Ketersediaan air, kualitas lahan, kemampuan pembudidaya, harga pakan, akses modal, dan jalur pemasaran menjadi bagian dari perhitungan usaha.

Β 

Kolaborasi untuk Mengembangkan Akuakultur

Pengembangan akuakultur masih menghadapi tantangan teknis, sosial, dan ekonomi. Dari sisi teknis, pembudidaya perlu menjaga kualitas air dan mengendalikan penyakit.

Biaya pakan menjadi salah satu komponen yang memengaruhi biaya produksi. Perubahan harga pakan dan harga jual hasil budidaya dapat memengaruhi pendapatan pembudidaya.

Pembudidaya juga membutuhkan akses terhadap pengetahuan, pembiayaan, teknologi, serta pasar. Tanpa dukungan tersebut, peningkatan produksi belum tentu diikuti dengan peningkatan pendapatan.

Kegiatan budidaya juga dapat memengaruhi lingkungan apabila limbah dan penggunaan bahan pendukung tidak dikelola dengan baik. Karena itu, pengembangan akuakultur perlu berjalan bersama pemantauan kualitas perairan dan perlindungan kawasan pesisir.

Hanif mengatakan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat perlu terlibat dalam pengembangan akuakultur melalui pendekatan quadruple helix.

Pemerintah dapat berperan dalam penyediaan aturan, infrastruktur, pendampingan, dan akses pembiayaan. Akademisi dapat membantu riset teknologi, pengelolaan kualitas air, serta pencegahan penyakit.

Pelaku usaha berperan dalam pengembangan rantai pasok, pengolahan hasil, dan akses pasar. Sementara itu, masyarakat menjadi pihak yang menjalankan sekaligus merasakan dampak kegiatan budidaya di wilayahnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.